Perkembangan Proyek Jadi Katalis Positif, Saham MDKA Diprediksi Bisa Terus Menghijau

Jumat, 04 Juli 2025 | 14:59 WIB
Perkembangan Proyek Jadi Katalis Positif, Saham MDKA Diprediksi Bisa Terus Menghijau
[ILUSTRASI. Pertambangan mineral Grup Merdeka (MDKA dan MBMA).]
Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terus berlanjut hingga perdagangan, Kamis (3/7/2025). Hari ini saham perusahaan nikel dan emas ini naik 4,76% ke level Rp 2.090 per saham.

Sejumlah pihak menilai, saham MDKA masih akan tersulut oleh harga emas dan menarik untuk dibeli. Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project, William Hartanto menjelaskan, naiknya saham MDKA saat ini kemungkinan karena spekulasi terhadap menguatnya harga emas.

“Tren MDKA menguat, bisa berlanjut dengan target Rp 2.500-Rp 2.700 per saham,” ujarnya kepada KONTAN, Kamis (3/7/2025).

Melihat masih terbukanya peluang naik, William merekomendasikan beli dengan support Rp 1.980 buy in weakness dan hold selama tidak menurun kembali di bawah Rp 1.980.

Rekomendasi yang senada juga disampaikan OCBC Sekuritas dalam riset terbarunya yang dipublikasikan Rabu (2/7/2025).

OCBC memberi rating beli dengan target harga MDKA di Rp 2.800 per saham atau lebih rendah dari sebelumnya Rp 3.000 per saham. Penurunan target harga ini karena turunnya proyeksi penjualan high-grade nickel matte (HGNM) MDKA sebesar 50% menjadi 25.000 ton di sepanjang 2025.

“Menyusul keputusan manajemen untuk menangguhkan operasi sementara karena profitabilitas yang menantang, dan penyesuaian kenaikan moderat pada asumsi biaya tunai limonit serta tembaga,” ujar Analis OCBC Sekuritas, Devi Harjoto dalam riset.

Meski target harga turun, OCBC masih percaya memberikan rating beli karena mempertimbangkan efek harga emas dalam jangka pendek-menengah dan kemajuan tambang emas Pani yang positif.

Melandainya penjualan nikel dan tembaga

Dalam riset tersebut, Devi menyoroti kinerja keuangan MDKA yang dibukukan pada awal ahun ini. MDKA membukukan rugi bersih sebesar US$ 3,7 juta di kuartal I 2025 atau turun drastis dibandingkan rugi bersih di kuartal I 2024 yang senilai US$ 11,3 juta. “Ini didukung oleh naiknya harga emas,” kata Devi.

Dalam catatan KONTAN, harga emas yang lebih tinggi yang berkontribusi pada tambahan pendapatan sebesar US$ 47 juta dari penjualan emas, serta US$ 24 juta dari penjualan limonit kepada pihak ketiga.

Kenaikan kinerja dari dua segmen ini membantu mengimbangi penurunan kontribusi dari produk hilir nikel dan segmen tembaga, sehingga penurunan pendapatan MBMA secara tahunan hanya sekitar 7,2% year on year (YoY) menjadi US$ 502,2 juta.

Devi menjelaskan, penurunan pendapatan MDKA di awal tahun ini juga karena disebabkan melandainya segmen nikel dan tembaga.

Di segmen nikel, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) membukukan kerugian bersih sebesar US$ 3,5 juta pada kuartal I-2025, dibandingkan dengan laba bersih sebesar US$ 3,7 juta di kuartal I-2024.

Volume penjualan nickel pig iron (NPI) turun sebesar 13,5% QoQ dan 24,6% YoY menjadi 16.297 ton pada kuartal I-2025. Disebabkan perbaikan pada pabrik peleburan PT Zhao Hui Nickel (ZHN) dan PT Bumi Suksesindo (BSI).

Sementara itu, volume penjualan high grade nickle mate (HGNM)  turun 16,7% QoQ dan 30,6% YoY menjadi 10.000 ton pada kuartal I-2025. Mencerminkan penurunan volume produksi sebesar 20,9% YoY.

Pada segmen tembaga, volume penjualan menurun yang mencerminkan penipisan alami tambang Wetar. Lebih jauh, margin kas tembaga menyusut dari sebelumnya 61,0% pada kuartal IV 2024 menjadi 33,2% pada kuartal I 2025 karena peningkatan tajam biaya tunai menjadi US$ 2,8/lbs.

Meskipun segmen nikel dan tembaga turun, EBITDA MDKA secara konsolidasi  masih melonjak 58,0% YoY pada kuartal I-2025 menjadi US$ 89,4 juta yang sebagian besar didukung oleh harga emas yang lebih tinggi.

Margin kas emas MDKA juga meningkat menjadi 66,1% pada kuartal I 2025, dari 49,4% pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Prospek ke depan

Masih mengutip riset OCBC Sekuritas, MDKA saat ini memiliki pengembangan proyek yang menjanjikan.

“Manajemen MDKA melaporkan kemajuan yang solid di seluruh proyek-proyek utama. Hingga Maret 2025, proyek Pani Gold telah mencapai 49% penyelesaian, dengan operasi pelindian tumpukan diharapkan akan dimulai pada kuartal IV-2025,” ujarnya.

Pada kapasitas penuh, tambang diproyeksikan akan menghasilkan sekitar 500.000 ons emas per tahun. Operasi akan dimulai dengan metode pelindian tumpukan, diikuti oleh pengembangan Carbon-in-Leach (CIL) yang diproyeksikan akan mulai berkontribusi pada 2029.

Proses ini diharapkan dapat mengekstraksi kandungan emas yang lebih tinggi. Kombinasi pelindian tumpukan dan CIL seharusnya dapat mengurangi biaya tunai emas.

Selain itu, MDKA juga telah berhasil memperpanjang umur tambang Proyek TB Gold menjadi 5-6 tahun. Untuk mengurangi kenaikan biaya yang biasanya terkait dengan penambangan tahap akhir, MDKA telah mengerahkan armada penambangan yang lebih besar ke tambang, yang diantisipasi dapat mengurangi biaya penambangan sekitar 20%.

Pada segmen nikel, smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) yang dikembangkan oleh PT ESG New Energy Material (PT ESG), dengan beralihnya ke tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) akan menjadi langkah yang seharusnya mengurangi biaya tunai.

Sementara itu, pembangunan HPAL Sulawesi Nickel Cobalt (NCL) telah mencapai kemajuan 14,4% hingga kuartal I-2025.

“Kami memproyeksikan MDKA akan membukukan pendapatan sebesar US$ 2,2 miliar untuk 2025, terutama disumbangkan oleh segmen nikel, dan segmen emas,” kata Devi.

Pada segmen nikel, dimulainya HPAL ESG dan AIM (Acid, Iron, and Metal) diharapkan dapat berkontribusi 16,1% terhadap pendapatan MDKA 2025.

Selain itu, OCBC memperkirakan penjualan NPI akan mencapai 84.000 ton, atau tetap dibandingkan tahun lalu dengan biaya tunai sebesar US$ 10.150/ton.

Sementara itu, TB Gold diharapkan membukukan penjualan sebesar 106.000 ons, sedikit lebih rendah dari tahun ke tahun karena penurunan alami dari masa tambang tahap akhir.

Meski demikian, segmen emas diproyeksikan akan tetap menjadi kontributor EBITDA MDKA terbesar dengan lebih dari 50%, didukung oleh harga emas yang tinggi.

Oleh karenanya, OCBC mengantisipasi EBITDA MDKA di 2025 sebesar US$ 357,9 juta. Di sisi lain, produksi Tembaga Wetar diproyeksikan akan turun menjadi 13.000 ton pada tahun 2025, dengan biaya tunai US$ 2,6/lb.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Keberadaan MBG Belum Pengaruhi Harga Pangan
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:10 WIB

Keberadaan MBG Belum Pengaruhi Harga Pangan

Pelaku pasar berharap penyerapan bahan baku di program MBG bisa ditingkatkan untuk menopang harga pangan.

Harga Pertamax Dorong Inflasi Juni Naik
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:00 WIB

Harga Pertamax Dorong Inflasi Juni Naik

Harga Pertamax naik 33%, inflasi Juni melesat. Cari tahu dampak kenaikan biaya transportasi dan pangan.  

Belajar dari Vietnam, Sebelum Terlambat
| Selasa, 30 Juni 2026 | 04:55 WIB

Belajar dari Vietnam, Sebelum Terlambat

Produktivitas harus diterjemahkan menjadi daya saing melalui institusi yang kredibel dan kebijakan yang konsisten.

Intip Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Terakhir Semester I, Selasa (30/6)
| Selasa, 30 Juni 2026 | 04:50 WIB

Intip Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Terakhir Semester I, Selasa (30/6)

IHSG mengakumulasi pelemahan 4,84% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG melemah total 32,68%.​

Pemain Gadai Tahan Bunga Supaya Tetap Kompetitif
| Selasa, 30 Juni 2026 | 04:35 WIB

Pemain Gadai Tahan Bunga Supaya Tetap Kompetitif

Bunga acuan yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya dana  perusahaan gadai, khususnya yang memiliki sumber dana dengan skema floating.

BI Agresif dan Posisi RI di MSCI Bertahan, tapi Rupiah Sulit Menjauh dari Rp 18.000
| Senin, 29 Juni 2026 | 08:28 WIB

BI Agresif dan Posisi RI di MSCI Bertahan, tapi Rupiah Sulit Menjauh dari Rp 18.000

Kenaikan suku bunga dan intervensi pasar belum cukup memulihkan minat investor lantaran persoalan utamanya berkaitan dengan kepercayaan pasar.

Risiko Shortfall Pajak Masih Mengintai APBN
| Senin, 29 Juni 2026 | 08:00 WIB

Risiko Shortfall Pajak Masih Mengintai APBN

Target penerimaan pajak 2026 sulit tercapai meski realisasi mulai menunjukkan perbaikan.                      

Prospek Rupiah di Juli 2026: Dibayangi Dolar AS, Geopolitik, dan Nasib Dana Asing
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:39 WIB

Prospek Rupiah di Juli 2026: Dibayangi Dolar AS, Geopolitik, dan Nasib Dana Asing

Permintaan dolar AS di dalam negeri seharusnya mulai menurun menjelang pergantian bulan, seiring meredanya musim pembagian dividen.

Antara Pengumuman MSCI dan Sentimen Pasar Saham Indonesia
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:38 WIB

Antara Pengumuman MSCI dan Sentimen Pasar Saham Indonesia

Saat ini Indonesia memiliki 11 saham yang memenuhi syarat kualifikasi ukuran dan likuiditas yang melampaui ambang minimum.

KAEF Tancap Gas Garap Bahan Baku Obat
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:27 WIB

KAEF Tancap Gas Garap Bahan Baku Obat

KAEF telah mengembangkan dan memproduksi bahan baku obat lokal untuk berbagai kategori terapi prioritas

INDEKS BERITA