Persiapan Bank Jelang Berakhirnya Relaksasi Restrukturisasi Covid-19
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kredit restrukturisasi terdampak Covid-19 terus melandai seiring dengan pemulihan ekonomi. Kebijakan relaksasi ini akan dihentikan pada akhir bulan ini, kecuali untuk tiga sektor yang mendapat perpanjangan hingga Maret tahun depan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total outstanding kredit restrukturisasi Covid-19 per akhir Januari 2023 mencapai Rp 435,74 triliun. Angka ini turun dari Rp 469,15 triliun pada Desember 2022. Jumlah debitur turun jadi 2,02 juta dari 2,72 juta nasabah.
OJK meminta perbankan untuk kembali meninjau pencadangan sebelum berakhirnya kebijakan relaksasi tersebut. "Menjelang berakhirnya kebijakan restrukturisasi kredit pada beberapa segmen dan sektor tertentu, OJK meminta lembaga jasa keuangan untuk membentuk dan mengevaluasi kecukupan pencadangan," ujar Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara, Senin (27/2).
Ia melanjutkan, perbankan harus melakukan penilaian ulang secara berkelanjutan mengenai kondisi debitur restrukturisasi tersebut untuk melihat kemungkinan penurunan dan tekanan lebih lanjut.
Di Bank BTN, angka restrukturisasi covid-19 tinggal Rp 34 triliun hingga awal Maret ini, turun dari puncaknya Rp 69 triliun.
Direktur Risk Management and Transformation BTN, Setiyo Wibowo menyatakan, kredit restrukturisasi turun Rp 2 triliun - Rp 3 triliun setiap bulan. "Jadi memang akan selesai di akhir Maret. Untuk sektor yang tidak dilanjutkan relaksasi perpanjangan restrukturisasinya maka kita akan ikuti kebijakan regulator," ungkap Setiyo pada KONTAN, Rabu (1/3).
Setiyo menyebut, jumlah yang tak mampu bayar kewajiban diperkirakan sekitar 5%-7% dan itu akan dialirkan ke NPL tahun ini. BTN sudah melakukan pencadangan yang cukup dalam mengantisipasi itu yakni sekitar Rp 3 triliun - Rp 3,5 triliun di tahun ini.
Adapun outstanding restrukturisasi Covid-19 di Bank BRI pada akhir 2022 tercatat Rp 107,23 triliun dengan jumlah nasabah 1,2 juta. Sementara puncak restrukturisasi ini sempat mencapai Rp 260,6 triliun dari 3,9 juta nasabah.
Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan, nasabah yang gagal diselamatkan relatif kecil, hanya 2,3% dari total nasabah restrukturisasi Covid-19.
Oleh karena itu, ia menyakini bahwa BRI masih bisa menjaga kualitas kredit dengan baik. Tahun ini, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) diproyekiskan sekitar 2,8%-3%. Hingga akhir 2022 BRI telah mempersiapkan cadangan cukup besar dengan NPL coverage ratio 305,7%.
Restrukturisasi Covid-19 di BCA juga turun dari Rp 82,5 triliun pada akhir 2021 jadi Rp 62,2 triliun pada akhir 2022. EVP Sekretariat dan Komunikasi Perusahaan BCA bilang, loan at risk (LAR) perseroan juga sudah turun.
