Proyeksi IHSG: Bergantung Rapat BI

Kamis, 24 Oktober 2019 | 03:43 WIB
Proyeksi IHSG: Bergantung Rapat BI
[ILUSTRASI. Proyeksi IHSG]
Reporter: Irene Sugiharti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memantapkan langkah bertahan di zona hijau. Rabu (23/10), HSG ditutup menguat 0,52% ke 6.257,81. Penguatan IHSG tidak membuat asing banyak membeli saham di Indonesia. Asing justru tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 231,73 miliar.

Head of Research Investment Reliance Sekuritas, Lanjar Nafi menyebut, penguatan IHSG didorong kenaikan harga saham BUMN, menyambut Menteri BUMN baru. Selain sentimen menteri baru, lonjakan IHSG hari ini dipengaruhi kenaikan harga CPO yang menembus level tertinggi sejak Juni.

Baca Juga: Saham poultry ditopang tekanan pasokan DOC dan aksi beli asing

Ini terjadi pasca China memutuskan menghapus tarif balasan atas pembelian kedelai AS serta lonjakan ekspor CPO China dari Malaysia.

Hari ini, Lanjar memperkirakan, data PMI Eropa dan AS akan mempengaruhi indeks. Selain itu, keputusan rapat dewan gubernur Bank Indonesia terkait suku bunga acuan bank akan menjadi penggerak IHSG.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee memprediksi BI belum akan menurunkan suku bunga. BI akan menunggu keputusan terkait penurunan suku bunga acuan The Fed. Lanjar memprediksi, IHSG menguat dan bergerak antara 6.214-6.321.

Baca Juga: Apple segera menawarkan layanan streaming, Wall Street menguat

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:11 WIB

Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit

Penguatan dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor musiman.                                                 

Cashback Bikin Kaget, Coretax Ubah Peta Pajak
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:09 WIB

Cashback Bikin Kaget, Coretax Ubah Peta Pajak

Coretax berlaku, warganet gelisah masih kurang bayar pajak gara-gara menerima cashback.                    

Bangkitnya Investasi Reksadana Syariah di Indonesia
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 09:33 WIB

Bangkitnya Investasi Reksadana Syariah di Indonesia

Reksadana syariah mengikuti prinsip Islam, yaitu menghindari riba gharar dan maysir dengan fokus pada aset halal seperti sukuk dan saham syariah. 

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:17 WIB

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

Pada 22 Januari 2026, Rama Indonesia berencana mengakuisisi 59,24% saham PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) dari modal disetor dan ditempatkan.

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:09 WIB

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal disetor dan paling sedikit saham yang beredar 7,5% dari modal disetor. ​

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:02 WIB

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), jadi salah satu penahan kinerja IHSG di sepanjang pekan ini. ​

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:53 WIB

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi

Kinerja saham masih loyo di awal tahun 2026, emiten teknologi dibayangi bubble kecerdasan buatan (AI)

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka

Kondisi geopolitik yang panas dingin membuat harga emas diprediksi bakal terus menanjak di tahun 2026.

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi

Ekonomi resiliensi diperlukan saat ini untuk bisa melindungi rakyat kebanyakan dari tekanan ekonomi.​

Menunggu Bunga Layu
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menunggu Bunga Layu

Otoritas perlu lebih galak memastikan efisiensi perbankan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk bunga kredit yang rendah.

INDEKS BERITA

Terpopuler