Punya Utang Rp 649 Triliun, PLN Sulit Penuhi Investasi Proyek EBT RUPTL 2021-2030

Senin, 11 Oktober 2021 | 05:05 WIB
Punya Utang Rp 649 Triliun, PLN Sulit Penuhi Investasi Proyek EBT RUPTL 2021-2030
[ILUSTRASI. Petani membersihkan permukaan panel surya (solar cell) di area lahan tumpang sari miliknya di Kelurahan Karanganyar, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (23/9/2021).]
Reporter: Filemon Agung | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Ambisi pemerintah untuk menggenjot porsi energi baru terbarukan (EBT) sebesar 51,6% di RUPTL 2021-2030 agaknya cukup berat. Pasalnya, investasi yang dibutuhkan PLN untuk mewujudkan proyek 40.575 Megawatt (MW) mencapai Rp 72,4 triliun per tahun untuk membangun infrastruktur kelistrikan selama 2021-2030.

Perinciannya, investasi pembangkit sebesar Rp 28,5 triliun per tahun, investasi transmisi dan gardu induk Rp 21,3 triliun per tahun, distribusi Rp 17,6 triliun per tahun dan lainnya Rp 5 triliun per tahun. Akan tetapi, kebutuhan investasi tadi belum memasukkan investasi untuk pemeliharaan sekitar Rp 22,5 triliun per tahun.

 

Padahal, kondisi keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sedang megap-megap. Tercatat, per semester I-2021 mencapai Rp 649 triliun dengan laba bersih Rp 6 triliun di semester I-2021. 

 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengungkapkan, berdasarkan pertimbangan kemampuan investasi PLN, maka investasi perusahaan setrum pelat merah ini bakal didorong untuk pengembangan dan penguatan sistem penyaluran tenaga listrik serta peningkatan layanan konsumen. 

 

Selain itu, pemerintah mendorong peran independent power producer (IPP) ke depan lebih besar khususnya dalam mendorong investasi pembangkit EBT. 

 

"Sinergi PLN dan seluruh stakeholders berperan penting dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan. Pihak swasta, badan usaha pengembang, lembaga pendanaan perlu mendukung penyediaan investasi yang sangat besar," ungkap Arifin dalam Webinar Diseminasi RUPTL 2021-2030, belum lama ini.

 

Merujuk RUPTL 2021-2030, kebutuhan investasi diperkirakan menurun pasca 2025 karena tak perlu menambah pembangkit baru yang cukup besar. PLN mencatat kebutuhan investasi di 2021 diprediksi Rp 45,1 triliun, kemudian naik menjadi Rp 79,8 triliun pada 2022 dan kembali naik pada 2023 menjadi Rp 97,1 triliun. Pada 2024 investasinya Rp 105,4 triliun dan pada 2025 sebesar Rp 84,7 triliun.

 

Kebutuhan investasi pada 2026 sebesar Rp 64,5 triliun dan naik tipis menjadi Rp 66,7 triliun di 2027. Nilai investasi tahun 2028 sebesar Rp 66,2 triliun, Rp 60,4 triliun di 2029 dan Rp 53,6 triliun pada 2030.

 

Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro menilai, kebutuhan investasi itu tak mudah dipenuhi mengingat kondisi keuangan PLN saat ini. Jika merujuk dokumen RUPTL 2021-2030, maka opsi pendanaan berasal dari beberapa sumber, antara lain dana internal, pinjaman dan penyertaan modal negara (PMN). Dana pinjaman bisa berupa pinjaman luar negeri, pinjaman pemerintah, obligasi, pinjaman komersial perbankan lainnya serta hibah luar negeri. 

 

"Laba bersih yang dibukukan PLN pada 2020 hanya Rp 6 triliun, kalau mengandalkan laba ditahan saya kira berat," kata dia, Minggu (10/10).

 

Komaidi bilang, opsi pendanaan dengan menambah utang juga berisiko mengingat utang PLN saat ini sudah mencapai Rp 649 triliun. 

 

Direktur Perencanaan Korporat PLN, Evy Haryadi mengungkapkan, penambahan pembangkit di RUPTL telah mempertimbangkan kemampuan PLN dalam pembiayaan. "Sudah dibuat dengan mempertimbangkan kemampuan PLN dalam pembiayaan," ungkap dia dalam Webinar Diseminasi RUPTL 2021-2030, belum lama ini.    

Bagikan

Berita Terbaru

Pemegang Saham Borong Rp 9,6 Miliar, Saham IMPC Layak Dikoleksi?
| Minggu, 13 September 2026 | 18:06 WIB

Pemegang Saham Borong Rp 9,6 Miliar, Saham IMPC Layak Dikoleksi?

Pembelian saham oleh pemegang saham pengendali Tunggal Jaya Investama tersebut merupakan sinyal yang positif dan layak dicermati.

Minyak dan Batubara di Level Tinggi, Saham Energi Mana yang Masih Menarik Dikoleksi?
| Minggu, 13 September 2026 | 16:10 WIB

Minyak dan Batubara di Level Tinggi, Saham Energi Mana yang Masih Menarik Dikoleksi?

MEDC menjadi pilihan untuk mendapatkan eksposur terhadap minyak, sedangkan AADI dan ITMG menarik terhadap harga thermal coal.

Emas Global Anjlok dan Emas Antam Ikut Tertekan, Saatnya Akumulasi Bertahap
| Minggu, 13 September 2026 | 15:54 WIB

Emas Global Anjlok dan Emas Antam Ikut Tertekan, Saatnya Akumulasi Bertahap

Prospek emas Antam masih sangat solid untuk tren jangka panjang, sehingga momentum pelemahan harga saat ini dapat dimanfaatkan oleh investor.

Sudah Dua Dekade Menanti Obligasi Daerah
| Minggu, 13 September 2026 | 09:46 WIB

Sudah Dua Dekade Menanti Obligasi Daerah

Obligasi daerah memaksa disiplin yang selama ini sulit dibangun lewat mekanisme administratif semata.

Langkah Manis Jasa Menemani Lari
| Minggu, 13 September 2026 | 06:30 WIB

Langkah Manis Jasa Menemani Lari

Di tengah tren lari yang semakin ramai, aktivitas lari bisa menjadi peluang usaha yang mampu memberikan cuan menggiurkan.

 
Emisi Melandai Saat Performa Bisnis Mendaki
| Minggu, 13 September 2026 | 06:20 WIB

Emisi Melandai Saat Performa Bisnis Mendaki

Di tengah tantangan menyeimbangkan profit dan keberlanjutan, Maybank berhasil mencetak pertumbuhan bisnis sekaligus mengurangi emisi karbon.

Bunga Ultra Mikro Makin Murah, Pindar Cari Ruang Baru
| Minggu, 13 September 2026 | 06:15 WIB

Bunga Ultra Mikro Makin Murah, Pindar Cari Ruang Baru

Pembiayaan digital tak lagi hanya berkutat pada kebutuhan konsumsi. Sudah ada modal untuk warung, pertanian, hingga kerajinan.

Bank Makin Gencar Manfaatkan Teknologi Akal Imitasi
| Minggu, 13 September 2026 | 06:15 WIB

Bank Makin Gencar Manfaatkan Teknologi Akal Imitasi

Akal imitasi mulai dipakai bank untuk mempercepat pembukaan rekening, membaca pola transaksi, hingga mendukung pengelolaan risiko.

Mengenal Buah Buni, si Kaya Vitamin C
| Minggu, 13 September 2026 | 06:10 WIB

Mengenal Buah Buni, si Kaya Vitamin C

Di pasar tradisional di Jawa Barat tampak pedagang khusus buah buni menggelar dagangan mereka di trotoar.

Ambisi Proyek Geotermal dan Penolakan Warga
| Minggu, 13 September 2026 | 06:10 WIB

Ambisi Proyek Geotermal dan Penolakan Warga

Pengembangan panas bumi di Indonesia masih menemui banyak tantangan. Salah satunya, penolakan masyarakat sekitar. Kenapa?

INDEKS BERITA

Terpopuler