Raksasa Sawit Malaysia Menghadapi Tudingan Baru Pelanggaran Hak Pekerja

Selasa, 29 Juni 2021 | 21:29 WIB
Raksasa Sawit Malaysia Menghadapi Tudingan Baru Pelanggaran Hak Pekerja
[ILUSTRASI. Pekerja memperlihatkan buah sawit di Pulau Carey, Malaysia, 31 Januari 2020. REUTERS/Lim Huey Teng]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. IOI Corp kembali berada di bawah sorotan. Kali ini penyebabnya adalah laporan yang akan dipublikasikan Finnwatch pada Rabu (30/6).

Laporan yang disusun kelompok hak asasi manusia itu, menyebut adanya penganiayaan pekerja oleh manajer di perkebunan sawit besar di Malaysia itu. IOI juga disebut memberikan kondisi hidup yang buruk bagi karyawannya, serta mengenakan biaya perekrutan yang tinggi.

IOI mengatakan akan mengomentari laporan tersebut setelah dirilis ke publik, dan mengarahkan Reuters ke “pelacak keluhan” di situs webnya. Laporan Finnwatch ini hanya berselang beberapa hari setelah IOI menyatakan akan terbuka terhadap penyelidikan apa pun yang akan dilakukan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: TP ICAP, Fidelity dan Unit Standard Chartered Kongsi di Platform Perdagangan Kripto

Investigasi serupa di AS di masa lalu, berujung ke vonis yang melarang beberapa perusahaan Malaysia, termasuk dua produsen minyak sawit, menjual produk mereka di Negeri Paman Sam.

Finnwatch yang berbasis di Helsinki mengatakan mereka menemukan pekerja perkebunan IOI dari India membayar hingga 45.000 rupee ($606,31) untuk biaya perekrutan, tinggal dalam kondisi perumahan yang buruk dan tidak diberi salinan kontrak kerja mereka. Finnwatch juga mengkritik kebijakan pengupahan IOI.

“Kasus ini juga menyoroti kesenjangan serius yang terus berlanjut dalam kebijakan perekrutan dan upah Grup IOI yang lebih luas, dan komitmen untuk menghormati hak asasi manusia,” kata Finnwatch dalam laporan tersebut.

Baca Juga: Padamkan Ambisi di Bisnis Robotika, Softbank Hentikan Produksi Robot "Berperasaan"

Laporan ini disusun berdasarkan penyelidikan Finnwatch di perkebunan IOI di negara bagian Pahang di pantai timur Malaysia. Finnwatch melakukan penyelidikan pada Agustus 2020 setelah menerima keluhan dari kerabat seorang pekerja di perkebunan IOI.

Finnwatch membagikan laporan penyelidikan tersebut kepada Reuters sebelum dipublikasikan pada hari Rabu. Lembaga itu juga telah membagikan temuan dan laporan lengkapnya dengan IOI, dan telah berhubungan dengan IOI sejak Agustus lalu.

Dalam 'pelacak keluhan' di situsnya, IOI mengatakan telah menangguhkan perekrutan pekerja dari agen perekrutan di India setelah Finnwatch mengatakan pekerja dipaksa membayar biaya tinggi untuk mendapatkan pekerjaan. IOI mengatakan biaya yang dibayarkan oleh pekerjanya dikumpulkan secara ilegal oleh aktor yang tidak dikenal, tidak dapat diverifikasi dan berada di luar yurisdiksi perusahaan.

Malaysia, produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, bergantung pada pekerja migran untuk memproduksi minyak nabati yang digunakan dalam berbagai produk, mulai makanan hingga bahan bakar.

CBP A.S. telah melarang tiga perusahaan Malaysia pada tahun lalu, termasuk produsen minyak sawit FGV Holdings dan Sime Darby Plantations, karena diduga melakukan kerja paksa termasuk kondisi kerja dan kehidupan yang kejam.

Kedua perusahaan telah menunjuk auditor untuk mengevaluasi praktik perburuhan mereka dan mengatakan mereka akan terlibat dengan agensi tersebut untuk mengatasi masalah yang diangkat.

Setelah penyelidikan Finnwatch, IOI mengatakan di situs webnya bahwa mereka telah menurunkan seorang karyawan karena memperlakukan seorang pekerja dengan buruk, dan merilis pedoman tentang penyediaan fasilitas dasar dan memverifikasi jam kerja.

Baca Juga: Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) Menolak Proposal Perubahan Iklim Pemegang Saham

IOI mengatakan kepada Finnwatch bahwa beberapa pekerja dibayar lebih rendah karena mereka tidak mencapai target kerja yang ditetapkan, menurut tanggapan perusahaan yang juga dipublikasikan dalam laporan tersebut.

Finnwatch menemukan bahwa IOI memiliki kebijakan upah per potong yang rumit yang dikatakan telah menyebabkan penyalahgunaan, kesalahan dan beberapa dibayar di bawah upah minimum.

Dalam tanggapannya kepada Finnwatch, IOI mengatakan para pekerja diberi perumahan yang layak, tetapi kondisinya memburuk "karena kurangnya kebersihan oleh para pekerja."

IOI juga mengatakan telah memerintahkan semua perkebunan untuk memberikan salinan kontrak kerja mereka kepada pekerja.

Selanjutnya: Olimpiade Tokyo Jadi Olimpiade Musim Panas Termahal, Biaya Bengkak Demi Prestis

 

Bagikan

Berita Terbaru

 Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:00 WIB

Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin

BPJS Kesehatan tidak memiliki kewenangan menonaktifkan kepesertaan PBI JK karena menjadi kewenangan Kemensos

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:58 WIB

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah

Danantara melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi di 13 lokasi di Indonesia. Total nilai mencapai US$ 7 miliar. 

 Revolusi Melalui Teladan
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:56 WIB

Revolusi Melalui Teladan

Perjalanan karier Joao Angelo De Sousa Mota dari dunia konstruksi ke pertanian, hingga menjadi Dirut Agrinas

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:37 WIB

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek

Jika pemangkasan outlook membuat tekanan terhadap pasar SBN berlanjut dan mempengaruhi nilai tukar rupiah, maka imbal hasil berisiko naik

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:28 WIB

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah

Penerbitan global bond oleh pemerintah belum mampu menyokong cadangan devisa Indonesia              

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:25 WIB

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah

Prospek industri multifinance diperkirakan akan lebih cerah tahun ini setelah tertekan pada 2025.​ Piutang pembiayaan diprediksi tumbuh 6%-8%

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:05 WIB

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim

Ilmu pengetahuan kini sudah bisa menjadi penghubung antara adanya emisi gas rumah kaca dan bencana alam.

Nasib Kripto 2026: Level Krusial Ini Tentukan Arah Harga Bitcoin
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:00 WIB

Nasib Kripto 2026: Level Krusial Ini Tentukan Arah Harga Bitcoin

Bitcoin anjlok lebih dari 50% dari ATH, Ethereum senasib. Pahami risiko likuidasi massal dan hindari kerugian lebih parah.

BSI Targetkan Kinerja 2026 Tumbuh Dua Digit
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:00 WIB

BSI Targetkan Kinerja 2026 Tumbuh Dua Digit

BSI berhasil mencetak kinerja positif sepanjang 2025. Bank berkode saham BRIS ini mengantongi laba bersih Rp 7,56 triliun, naik 8,02% YoY

Industri Reasuransi Diprediksi Berpotensi Tumbuh Tahun Ini
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 06:55 WIB

Industri Reasuransi Diprediksi Berpotensi Tumbuh Tahun Ini

Meski industri reasuransi diperkirakan akan menghadapi sejumlah tantangan, tetapi potensi untuk tetap tumbuh masih ada

INDEKS BERITA

Terpopuler