KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Taklimat Presiden Prabowo Subianto saat sidang paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin 20 Juli 2026 tentang rating agency bisa berisiko terhadap pasar saham domestik. Prabowo menyebut tak perlu takut dengan lembaga pemeringkat investasi dunia. Menurutnya, global rating agency hanya menakut-nakuti Indonesia, yakni dengan pemberian rapor jelek hingga penurunan rating sehingga tidak ada yang mau invest di Indonesia.
Mungkin, pidato tersebut sebagai upaya membangun kepercayaan diri nasional. Dalam praktik ekonomi modern, rating agency bukanlah alat untuk menakut-nakuti, melainkan instrumen penting bagi investor global mengukur risiko investasi.
Pasar keuangan bekerja berdasarkan persepsi, kredibilitas, dan kepastian. Institusi asset manajemen global yang mengelola dana triliunan dolar mengambil keputusan berdasarkan indikator yang diakui secara internasional, seperti peringkat utang negara, prospek ekonomi, tata kelola kebijakan, dan penilaian dari lembaga pemeringkat investasi. Karena itu, peringkat investasi dari lembaga seperti S&P, Moody's, maupun Fitch justru menjadi salah satu kunci untuk mendapatkan kepercayaan pelaku pasar.
Indonesia sudah merasakan dampaknya. Dari awal 2026 hingga pekan pertama Juli ini, arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia tercatat mencapai Rp 75 triliun. Kondisi ini terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menghentikan sementara perubahan indeks yang melibatkan saham Indonesia sejak Januari 2026.
Ingat! MSCI bukan sekadar lembaga indeks. Namun bagi investor global, status dan kebijakan MSCI sangat menentukan alokasi investasi. Banyak dana investasi internasional yang mengikuti indeks MSCI.
Dampaknya nyata. Setelah dana asing keluar, pasar saham Indonesia mengalami tekanan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menembus level 9.000 anjlok hingga berada di kisaran 5.000-an. Pada akhir perdagangan sesi I Selasa, 21 Juli 2026, IHSG berada di level 6.315,01 atau merosot 27,81% secara year to date.
Percaya pada kekuatan ekonomi nasional tentu penting. Namun, kepercayaan diri jangan sampai mengabaikan mekanisme pasar global. Rating agency dan lembaga indeks internasional bukan musuh Indonesia. Mereka adalah bagian dari ekosistem investasi dunia yang turut menentukan seberapa besar kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
