Rekor Rupiah

Selasa, 05 Mei 2026 | 06:14 WIB
Rekor Rupiah
[ILUSTRASI. TAJUK - Djumyati Partawidjaja (KONTAN/Indra Surya)]
Djumyati Partawidjaja | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Baru saja memasuki Bulan Mei, nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar kembali mencatat rekor barunya. Tentu saja rekor ini bukanlah kabar baik untuk kebanyakan dari warga negeri ini, karena hanya orang-orang yang berpenghasilan US dolar yang berbahagia saat nilai Rupiah terpuruk. Dan tentu pertanyaan yang paling menakutkan untuk semua orang: apakah pelemahan rupiah ini akan masih berlanjut? Sampai ke berapa? 

Baru saja memasuki Mei, nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar kembali mencatat rekor baru. Tentu saja rekor ini bukanlah kabar baik untuk kebanyakan dari warga negeri ini, karena hanya orang-orang yang berpenghasilan US dolar yang berbahagia saat nilai Rupiah terpuruk. Dan tentu pertanyaan yang paling menakutkan untuk semua orang: apakah pelemahan rupiah ini akan masih berlanjut? Sampai ke berapa?

Kejadian ini seperti dejavu, beberapa bulan sebelum krismon 1998 mencapai puncak, ada banyak silang pendapat para pakar ekonomi, baik yang benar-benar pakar maupun mengaku-ngaku pakar. Pada waktu itu pejabat BI dan menteri keuangan tidak berani banyak memberikan pernyataan, apalagi janji-janji. 

Tapi ada saja "pakar" yang mengatakan Rupiah akan segera kembali menguat, pada saat Rupiah melemah dari 2.500 ke 4.800 di akhir 1997. Nyatanya, seperti kita semua tahu, nilai Rupiah terus longsor, bahkan mencapai puncaknya 16.900 di Juni 1998. Artinya, longsornya nilai tukar bisa sejauh itu.

Padahal waktu itu siapa yang mengatakan fundamental ekonomi kita jelek? Siapa yang dari awal bisa memprediksi Rupiah bakal jatuh separah itu? Memang pengelolaan nilai tukar bukanlah dengan ilmu ekonomi dan matematika biasa, tapi juga ada faktor kompetensi, wibawa, kecerdikan, dan integritas para punggawa penjaganya.

Kebijakan fiskal dan moneter ini, kalau kita ibaratkan mungkin bisa digambarkan seseorang mengelola kesehatannya. Fiskal adalah gaya hidup sehat, sementara moneter adalah intervensi untuk menjaga kesehatan, bisa berupa vitamin dan obat-obatan. Saat dia terserang batuk pilek, tentulah ia harus istirahat cukup (fiskal) dan makan obat dengan teratur (moneter). 

Tapi kalau ia ngotot terus bergadang dan hanya mengandalkan vitamin C, bisa jadi sakitnya lebih panjang dari seharusnya. Untuk bisa pulih dengan tuntas dan cepat, kedua usaha ini memang harus dijalankan. Lebih celaka lagi kalau “penyakit” yang mampir semakin kompleks, ganas, dan kuat.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Rupiah Terpuruk Hampir 3% Sepanjang Mei 2026, Akankan Tekanan Mereda di Juni?
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:59 WIB

Rupiah Terpuruk Hampir 3% Sepanjang Mei 2026, Akankan Tekanan Mereda di Juni?

Secara musiman permintaan dolar AS di dalam negeri biasanya mulai melandai saat memasuki kuartal ketiga.

Asing Terus Net Sell, Penguatan IHSG Terbatas, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:36 WIB

Asing Terus Net Sell, Penguatan IHSG Terbatas, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pasar melihat kondisi ekonomi mengkhawatirkan. Surplus neraca dagang April 2026 yang hanya US$ 89,1 juta , terendah dalam enam tahun terakhir.

Rupiah Masih Lemas, Kinerja Emiten Kertas Bisa Bernas
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:35 WIB

Rupiah Masih Lemas, Kinerja Emiten Kertas Bisa Bernas

Di balik pelemahan rupiah yang semakin dalam, dua emiten Grup Sinar Mas di industri kertas dan bubur kertas berpotensi kecipratan berkah.

Sariguna Primatirta (CLEO) Optimistis Mampu Mempertahankan Pertumbuhan Kinerja
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:23 WIB

Sariguna Primatirta (CLEO) Optimistis Mampu Mempertahankan Pertumbuhan Kinerja

Daya beli masyarakat yang masih terjaga menjadi salah satu faktor utama yang menopang optimisme perusahaan terhadap prospek bisnis tahun ini.

IHSG Menguat di Awal Juni, Tapi Ada Sinyal yang Perlu Diwaspadai
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:05 WIB

IHSG Menguat di Awal Juni, Tapi Ada Sinyal yang Perlu Diwaspadai

IHSG awal Juni menguat tajam, namun ada sinyal lain yang perlu diwaspadai. Cek rekomendasi saham dan proyeksi hari ini!

Disetujui RUPST, INCO Siap Sebar Dividen US$ 45,6 Juta
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:04 WIB

Disetujui RUPST, INCO Siap Sebar Dividen US$ 45,6 Juta

Jumlah dividen yang disebar PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mewakili rasio pembayaran sebesar 60% dari laba bersih tahun buku 2025. ​

Rupiah Keok Lagi, Investor Dihadapkan Risiko Tekanan Berkelanjutan?
| Rabu, 03 Juni 2026 | 07:00 WIB

Rupiah Keok Lagi, Investor Dihadapkan Risiko Tekanan Berkelanjutan?

Rupiah kembali melemah tajam terhadap dolar AS. Analis beberkan faktor pendorongnya, termasuk konflik global dan kebijakan AS. Ketahui proyeksinya

Bumi Resources (BUMI) Kucurkan Pinjaman Rp 1,51 Triliun ke Anak Usaha
| Rabu, 03 Juni 2026 | 06:58 WIB

Bumi Resources (BUMI) Kucurkan Pinjaman Rp 1,51 Triliun ke Anak Usaha

Pinjaman itu diberikan BUMI kepada Arutmin pada 26 Mei 2026. Arutmin akan menggunakan pinjaman itu untuk kebutuhan modal kerja.

Bidik Pertumbuhan Pendapatan, TMAS Ekspansi Armada dan Rute
| Rabu, 03 Juni 2026 | 06:51 WIB

Bidik Pertumbuhan Pendapatan, TMAS Ekspansi Armada dan Rute

PT Temas Tbk (TMAS) telah menyiapkan belanja modal alas capital expenditure (capex) sebesar Rp 2,5 triliun pada tahun ini.

Rasio Pembagian Dividen Turun, Prospek Laba Kalbe Farma (KLBF) Tetap Sehat
| Rabu, 03 Juni 2026 | 06:46 WIB

Rasio Pembagian Dividen Turun, Prospek Laba Kalbe Farma (KLBF) Tetap Sehat

Besaran dividen PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencerminkan rasio pembayaran atau payout ratio sekitar 26% dari laba bersih 2025.​

INDEKS BERITA

Terpopuler