Reksadana Primadona Saat Ketidakpastian Melanda di Awal Tahun 2026

Minggu, 26 April 2026 | 14:10 WIB
Reksadana Primadona Saat Ketidakpastian Melanda di Awal Tahun 2026
[]
|

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Tahun 2026 sudah menginjak di kuartal kedua. Tahun yang semula digadang-gadang positif untuk pasar modal,  ternyata malah meleset. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) year to date (ytd) per 23 April 2026 melorot 15%, akibat geopolitik dan kekhawatiran fiskal Indonesia.

Tapi ada instrumen investasi menarik. Salah satunya reksadana pasar uang.  Tahun ini rata-rata kinerja ytd sebesar 1,3%. Mengungguli reksadana pendapatan tetap yang seharusnya diuntungkan  tren penurunan suku bunga,  justru negatif 0,3%. Reksadana campuran turun 2% dan reksadana saham minus 5,3%.


Di tengah ketidakpastian, masyarakat butuh investasi aman dan likuid. Reksadana pasar uang jadi primadona karena menawarkan kemudahan transaksi, kinerja setara deposito dan likuiditas setara tabungan. 


Reksadana pasar uang apa yang berkinerja baik? Apakah yang dana kelolaannya jumbo atau yang sedang-sedang saja?

Reksadana ini hanya boleh berinvestasi pada efek utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun. Seperti Sertifikat Bank Indonesia atau Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SBI/SRBI), deposito dan obligasi jangka pendek. Jenis reksadana yang relatif paling aman. Rata-rata di  2026, kinerja reksadana pasar uang di atas deposito.

 

Industri reksadana pasar uang sendiri bertumbuh. Hingga akhir Maret 2026, terdapat 206 reksadana pasar uang dengan dana kelolaan Rp 135 triliun.

 

Setahun terakhir, dana kelolaan reksadana pasar uang tumbuh 60%. Tertinggi kedua setelah reksadana pendapatan tetap. Beberapa jenis reksadana lain justru menurun. 

 

Saat ini jumlah investor reksadana sudah 23 juta orang. Generasi milenial dan Z membeli reksadana pasar uang melalui aplikasi perbankan, agen penjual reksadana online, marketplace, hingga dompet digital.

Baca Juga: Arah Reksadana Campuran Menanti Kebijakan Bunga Acuan

Banyak yang beranggapan, semakin besar dana kelolaan, likuiditas semakin aman. Bagaimana dengan sisi kinerja?

Dalam mengelola dana, manajer investasi menggunakan dua strategi utama: fokus likuiditas dan besar di deposito. Atau fokus  kinerja dengan membeli obligasi jangka pendek yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, meski dengan risiko tambahan.  Terutama obligasi korporasi yang berpotensi gagal bayar.

 

Pengelolaan reksadana pasar uang, gabungan dua strategi tersebut untuk mendapat kinerja di atas deposito sambil tetap menjaga likuiditas. Lebih baik masuk reksadana pasar uang dengan dana kelolaan di atas Rp 1 triliun atau di bawahnya?

 

Berdasarkan riset setahun  (23 April 2025 – 23 April 2026) untuk reksadana dengan rata-rata dana kelolaan di atas Rp 10 miliar, terkumpul 138 reksadana pasar uang. Selanjutnya, memisahkan jadi 4 kuartil berdasarkan AUM.

 

Dalam periode tersebut, Indeks Reksadana Pasar Uang membukukan kinerja 4,4%. Hampir semua kuartil berkinerja di atas indeks. kecuali kuartil dana kelolaan di bawah Rp 100 miliar. Dari tabel terlihat, semakin besar dana kelolaan, kinerja sedikit menurun.

 

Semakin besar dana, manajer investasi harus semakin prudent mempertimbangkan risiko likuiditas dan memilih instrumen lebih likuid.

 

Dari unit penyertaan, semua kuartil menunjukkan pertumbuhan positif. Tertinggi pada kuartil Rp 100 miliar–Rp 500 miliar. Kemungkinan return tinggi menarik minat investor. Kuartil terbesar di atas Rp 1 triliun juga mencatat pertumbuhan tinggi. Menandakan investor tetap masuk meski kinerja bukan paling tinggi.

 

Jika hasil ini dijadikan referensi untuk kinerja yang lebih optimal, investor bisa memilih reksadana pasar uang dengan dana kelolaan Rp100 miliar–Rp 500 miliar. Walau sebenarnya, kinerja kuartil lain juga tidak terlalu jauh berbeda.

 

Mengingat fokus utama reksadana pasar uang bukan return tertinggi, melainkan keamanan dan likuiditas, investor lebih disarankan fokus ke reksadana yang memberikan kemudahan bertransaksi.

 

Melanjutkan tahun 2026 yang diselimuti ketidakpastian, tidak ada salahnya investor diversifikasi ke instrumen  aman dan likuid sambil menunggu pasar modal bergairah lagi. Kesimpulan di atas dapat berbeda bila periode pengamatan diubah. 

 

Dalam mengambil keputusan investasi reksadana pasar uang, investor tetap harus mempertimbangkan faktor lain selain dana kelolaan dan return historis. Seperti profil risiko, tujuan, jangka waktu investasi, serta kemudahan dan kenyamanan bertransaksi.                   

Bagikan

Berita Terbaru

Rupiah Jeblok, Bank Indonesia Mengerek BI Rate ke Angka 5,50% Hari Ini (9/6)
| Selasa, 09 Juni 2026 | 15:03 WIB

Rupiah Jeblok, Bank Indonesia Mengerek BI Rate ke Angka 5,50% Hari Ini (9/6)

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuannya atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% dalam RDG Mingguan pada 9 Juni 2026.

Kilau Emiten Emas Meredup Akibat Sentimen Global dan Domestik
| Selasa, 09 Juni 2026 | 14:00 WIB

Kilau Emiten Emas Meredup Akibat Sentimen Global dan Domestik

Meskipun bukan termasuk komoditas yang ekspornya diatur oleh PT DSI, namun emiten emas tetap ikut terseret isu ekspor satu pintu.

TLKM Sempat Tertekan di Tengah Kabar Dividen Rp 222 per Saham & Buyback Rp 4 Triliun
| Selasa, 09 Juni 2026 | 12:57 WIB

TLKM Sempat Tertekan di Tengah Kabar Dividen Rp 222 per Saham & Buyback Rp 4 Triliun

Pelemahan saham TLKM dipicu sentimen negatif dari kabar penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan korupsi di TLKM dan BRI.

Saham Batubara Terdiskon Dalam, Saatnya Berburu atau Menunggu?
| Selasa, 09 Juni 2026 | 12:36 WIB

Saham Batubara Terdiskon Dalam, Saatnya Berburu atau Menunggu?

Valuasi sektor batubara memang sudah jauh lebih murah dari rata-rata historis, tetapi belum mencapai level krisis seperti periode 2015-2016.

Timbang-Timbang Rencana Berobat ke Luar Negeri saat Rupiah Keok
| Selasa, 09 Juni 2026 | 12:31 WIB

Timbang-Timbang Rencana Berobat ke Luar Negeri saat Rupiah Keok

Fluktuasi nilai tukar rupiah bisa membuat biaya berobat ke luar negeri membengkak. Apakah berobat ke luar negeri tetap jalan?

Rapor Apik Obligasi Butuh Lebih dari Sekadar Intervensi
| Selasa, 09 Juni 2026 | 12:15 WIB

Rapor Apik Obligasi Butuh Lebih dari Sekadar Intervensi

Intervensi negara melalui Bond Stabilization Framework (BSF) hanya solusi jangka pendek untuk menahan gejolak di pasar obligasi.

Sentimen Negatif Dalam Negeri Terus Menaungi Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Selasa, 09 Juni 2026 | 08:35 WIB

Sentimen Negatif Dalam Negeri Terus Menaungi Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Dari dalam negeri, tekanan juga berasal dari derasnya arus keluar modal asing dan rupiah yang melemah hngga Rp 18.200 per dolar AS.

Itama Ranoraya (IRRA) Memperluas Jaringan Bisnis Alat Kesehatan
| Selasa, 09 Juni 2026 | 08:10 WIB

Itama Ranoraya (IRRA) Memperluas Jaringan Bisnis Alat Kesehatan

Pertumbuhan pesat industri alkes saat ini mencerminkan optimisme menuju kemandirian sektor kesehatan nasional.

Belum Ada Katalis Positif, IHSG Selasa (9/6) Rawan Koreksi Lanjutan
| Selasa, 09 Juni 2026 | 08:09 WIB

Belum Ada Katalis Positif, IHSG Selasa (9/6) Rawan Koreksi Lanjutan

Pelemahan IHSG berlanjut akibat geopolitik dan rupiah anjlok. Ketahui saham pilihan yang berpeluang menguat terbatas hari ini

Dividen Jadi Pemanis di Saat IHSG Masih Pahit
| Selasa, 09 Juni 2026 | 08:06 WIB

Dividen Jadi Pemanis di Saat IHSG Masih Pahit

Meskipun dividen bisa menjadi bantalan, daya tarik dividen belum cukup untuk mengubah sentimen pasar

INDEKS BERITA

Terpopuler