Risiko Fiskal di Balik Proyek Whoosh

Rabu, 05 November 2025 | 04:15 WIB
Risiko Fiskal di Balik Proyek Whoosh
[ILUSTRASI. Presiden Prabowo Subianto bersiap kembali ke Jakarta dengan kereta cepat Whoosh. ]
Tian Rahmat | Alumnus Filsafat Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero Flores

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB), yang kini dikenal sebagai Whoosh, pernah dijanjikan sebagai lompatan besar menuju modernitas. Ia disebut-sebut sebagai simbol percepatan ekonomi, efisiensi waktu dan kebanggaan nasional. Namun, di balik gemerlap stasiun baru dan lintasan baja yang membelah tanah Jawa, tampak tarian anggaran yang tak berirama melambung, bergeser, dan menyisakan tanya tentang siapa yang sesungguhnya diuntungkan.

Ketika proyek ini diumumkan, perkiraan biayanya berada di kisaran US$ 5,13 miliar atau sekitar Rp 76 triliun–Rp 90 triliun. Namun, seiring konstruksi berjalan, angka itu kian menggembung. Berdasarkan laporan dan evaluasi terkini, total investasi melonjak menjadi US$ 7,28 miliar, bahkan sempat disebut mencapai Rp 116,5 triliun. Peningkatan ini bukan sekadar catatan teknis: ia mencerminkan kelemahan dalam mekanisme penganggaran dan tata kelola proyek strategis nasional. Pembengkakan biaya sebesar US$ 1,2 miliar (Rp 18 triliun) menunjukkan bahwa kalkulasi awal -- baik dalam aspek teknis maupun finansial -- belum matang sepenuhnya.

Baca Juga: Berusaha Tetap Bertahan Kini Karyawan Indofarma (INAF) Hanya Tersisa 21 Orang Saja

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Awas Potensi Kebakaran Lahan Bisa Meluas
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 05:10 WIB

Awas Potensi Kebakaran Lahan Bisa Meluas

Luas lahan yang terbakar imbas kemarau panjang efek fenomena El Nino saat ini sudah mencapai 107.000 hektare.

Awas Potensi Kebakaran Lahan Bisa Meluas
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 05:10 WIB

Awas Potensi Kebakaran Lahan Bisa Meluas

Luas lahan yang terbakar imbas kemarau panjang efek fenomena El Nino saat ini sudah mencapai 107.000 hektare.

Simak Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini (11/8)
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 04:50 WIB

Simak Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini (11/8)

IHSG masih mengakumulasi kenaikan 2,10% dalam sepekan. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG turun 26,39%.​

Risiko Masih Tinggi, Fintech Sulit Mengerek Modal
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 04:45 WIB

Risiko Masih Tinggi, Fintech Sulit Mengerek Modal

OJK mencatat ada tujuh penyelenggara pinjaman daring yang belum memenuhi ekuitas minimum Rp 12,5 miliar per Juni 2026.

Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST) Memacu Penjualan Lahan Industri
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 04:30 WIB

Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST) Memacu Penjualan Lahan Industri

Dinamika perekonomian global dan domestik serta kondisi geopolitik di sejumlah kawasan membuat investor semakin selektif.

Menanti Taubat Ekologi NU dan Muhammadiyah
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 04:01 WIB

Menanti Taubat Ekologi NU dan Muhammadiyah

NU dan Muhammadiyah adalah ormas keagamaan yang dilahirkan bukan untuk menjadi pemburu rente, apalagi menjadi bagian dari aktor yang merusak alam.

Berkolaborasi Menjaga Independensi Bank Sentral
| Senin, 10 Agustus 2026 | 12:35 WIB

Berkolaborasi Menjaga Independensi Bank Sentral

Ketika BI menaikkan suku bunga, tidak mampu meredam inflasi jika terjadi kelangkaan pasokan pangan akibat jalur logistik rusak atau gagal panen.

Harapan Konsumen
| Senin, 10 Agustus 2026 | 10:10 WIB

Harapan Konsumen

Sinyal pelemahan tidak hanya terlihat dari sisi realisasi konsumsi, indikator kepercayaan konsumen juga menunjukkan tekanan yang semakin dalam.

Prospek Emiten Ban di Semester II-2026 Bergantung Pada Permintaan EV & Kinerja Ekspor
| Senin, 10 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Prospek Emiten Ban di Semester II-2026 Bergantung Pada Permintaan EV & Kinerja Ekspor

GJTL memiliki fundamental yang menarik karena mampu mempertahankan tren pertumbuhan laba, memperbaiki arus kas dan menjaga tingkat leverage.

Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 30,27 Juta SID
| Senin, 10 Agustus 2026 | 08:43 WIB

Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 30,27 Juta SID

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, investor pasar modal  mencapai 30,27 juta Single Investor Identification (SID).

INDEKS BERITA