Saat Pasar Mulai Meragukan Indonesia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketika perhatian publik tersita oleh pelemahan rupiah, pasar surat utang Indonesia sesungguhnya sedang menyalakan alarm bahaya yang jauh lebih mencemaskan. Sepanjang enam bulan pertama 2026, imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun melesat 108 basis poin ke level 7,13%. Lonjakan biaya utang ini adalah tagihan mahal yang harus ditanggung kas negara akibat keroposnya disiplin fiskal anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Tekanan bahkan jauh lebih tajam pada tenor pendek. Imbal hasil SBN tenor 1 tahun melonjak hingga 160 basis poin, sementara tenor 2 tahun terkerek 119 basis poin. Fenomena ini membawa alarm bahaya langsung bagi dunia usaha. Lonjakan imbal hasil surat utang jangka pendek adalah sinyal awal kenaikan biaya dana perbankan. Ketika pemerintah membayar utang jangka pendek jauh lebih mahal, suku bunga kredit modal kerja dan investasi otomatis ikut terkerek sehingga likuiditas sektor riil kian tercekik.
Baca Juga: Ada Transaksi Nego 1,34 Miliar di Saham PACK, Sinyal Investor Strategis Masuk?
