Saham Perkapalan Meroket di Awal 2026, Cermati Rekomendasi Analis Berikut ini

Sabtu, 03 Januari 2026 | 06:44 WIB
Saham Perkapalan Meroket di Awal 2026, Cermati Rekomendasi Analis Berikut ini
[ILUSTRASI. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) (Dok/BULL)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan saham-saham emiten perkapalan masih berlanjut di awal tahun 2026. Pada penutupan perdagangan Jumat (2/1), emiten perkapalan kompak ditutup menguat. PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) catat lonjakan harga sebesar 33,77% ke Rp 206 pada penutupan perdagangan.

Setali tiga uang, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) juga ditutup menguat 20,24% ke Rp 505. Emiten terafiliasi dengan Tommy Soeharto, PT Humpuss Maritim International Tbk (HUMI) juga ikut menguat 24,81% ke Rp 322.

PT Soechi Lines Tbk (SOCI) juga menutup minggu pertama di 2026 di zona hijau dengan penguatan 16,47% ke Rp 580. Sementara PT Samudra Indonesia Tbk (SMDR) melonjak 12,76% ke Rp 442. Lalu PT Temas Tbk (TMAS) yang harga sahamnya melambung 22,39% ke Rp 164, sementara PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) cetak harga saham yang melambung 1,87% ke Rp 545.



Penguatan harga saham yang kompak terjadi pada emiten perkapalan ini kabarnya disebabkan oleh kenaikan harga minyak, namun kondisi ini tidak berlaku ke semua emiten.

Sebagai informasi saja, melansir Oilprice.com, pergerakan harga minyak dunia cenderung melemah secara terbatas pada perdagangan terkini, meskipun dengan variasi kinerja antar jenis minyak.

Harga WTI Crude tercatat di kisaran US$57,35 per barel, melemah tipis sekitar 0,12%. Pelemahan serupa juga terjadi pada Brent Crude yang turun 0,13% ke level US$60,77 per barel. Sementara itu, Murban Crude mengalami koreksi yang sedikit lebih dalam, turun 0,72% ke US$60,96 per barel.

Namun demikian, tidak semua jenis minyak bergerak negatif. Louisiana Light justru mencatatkan penguatan sekitar 1,09% ke US$59,24 per barel, menunjukkan masih adanya permintaan selektif di pasar regional Amerika Serikat.

OPEC Basket tercatat relatif stabil di kisaran US$61,22, menandakan harga minyak versi kartel produsen ini masih bertahan di level yang cukup solid. Di sisi lain, Bonny Light mengalami tekanan cukup signifikan dengan penurunan hampir 2,84% ke US$78,62 per barel, sementara Mars US juga melemah sekitar 1,30%. Harga gasoline turun tipis sekitar 0,26%, sejalan dengan koreksi harga minyak mentah.

Kondisi pasar minyak yang saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas, diduga menjadi salah satu bensin pergerakan harga emiten perkapalan.

Namun demikian, Head Research of Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai bahwa tak hanya pergerakan harga minyak global, tetapi kombinasi geopolitikal dan rotasi sektor turut mendorong kinerja harga saham emiten perkapalan.

Harga kenaikan minyak yang sempat terjadi memang menjadi katalis bagi emiten perkapalan, terutama untuk emiten perkapalan berjenis tanker seperti BULL, SOCI dan HUMI. Kondisi tersebut juga bertalian dengan kenaikan tarif sewa kapal.

"Tetapi untuk emiten perkapalan berjenis peti kemas seperti SMDR dan TMAS, mereka mengalami kenaikan lebih karena adanya kenaikan indeks kargo global akibat gangguan rute logistik internasional," imbuh Wafi kepada KONTAN, Jumat (2/1).

Dia juga berpendapat bahwa kenaikan harga saham pada beberapa emiten perkapalan terjadi juga karena adanya faktor teknikal karena valuasinya sudah murah.

Lebih lanjut, Wafi menjelaskan bahwa segmen kapal tanker migas atau kimia akan diuntungkan ketidakpastian geopolitik yang membuat rute pengiriman semakin jauh dan permintaan energi domestik yang tinggi.

Di sisi lain, segmen kapal peti kemas atau logistik akan menjadi proxy pemulihan ekonomi domestik seiring penurunan suku bunga dan membaiknya daya beli, sebab volume angkutan kargo antar-pulau bisa meningkat.

Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa pergerakan saham emiten-emiten perkapalan saat ini menunjukkan tren uptrend yang kuat, bahkan sebagian sudah masuk kategori sangat bullish.

Kenaikan harga yang agresif ini membuat sejumlah saham perkapalan berada pada kondisi extreme overbought secara teknikal. Menurutnya, penguatan sektor ini didorong oleh dua sentimen utama. Pertama, peningkatan permintaan (demand) di sektor perkapalan dan pelayaran.

"Meningkatnya aktivitas di sektor logistik laut, energi, dan pengangkutan komoditas membuat minat pasar terhadap saham-saham perkapalan ikut meningkat. Kondisi ini menciptakan sentimen positif yang cukup luas di sektor tersebut," urai Nafan.

Kedua, aksi korporasi berupa ekspansi bisnis, khususnya melalui penambahan armada kapal. Ia menjabarkan, sejumlah emiten perkapalan, seperti HUMI telah mengumumkan rencana ekspansi armada sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka menengah.

Penambahan armada ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas operasional, tetapi juga untuk mendukung ekspansi ke segmen strategis, termasuk angkutan LNG (Liquefied Natural Gas).

Emiten perkapalan lain seperti BULL juga bergerak di segmen LNG, sehingga turut mendapat sentimen positif dari prospek peningkatan aktivitas pengangkutan energi.

Kombinasi antara kenaikan permintaan sektor perkapalan dan aksi korporasi ekspansif inilah yang mendorong saham-saham perkapalan, khususnya yang berbasis pengangkutan energi dan LNG, mengalami tren kenaikan harga yang kuat.

"Namun demikian, mengingat pergerakan harga saham yang sudah sangat agresif dan berada pada area overbought ekstrem, maka secara teknikal kondisi ini dinilai rawan koreksi," ucap Nafan .

Oleh karena itu, rekomendasi yang umum diberikan oleh Nafan saat ini adalah “sell on strength”, yakni memanfaatkan kenaikan harga untuk realisasi keuntungan, sambil tetap mencermati peluang koreksi ke depan.

BULL sendiri memang sempat dirumorkan tengah melakukan ekspansi agresif di bisnis LNG shipping global, termasuk rumor akuisisi Hyundai LNG Shipping asal Korea senilai sekitar US$ 274 juta yang memiliki 12 kapal LNG dan 6 kapal LPG dengan kontrak jangka panjang.

Dalam skenario rumor lanjutan, BULL disebut-sebut berpotensi menjadi mitra regional Indonesia untuk ekspansi LNG deepsea, sejalan dengan transformasi BULL ke bisnis LNG, FSRU, dan midstream energi.

Direktur BULL Wong Kevin tidak membenarkan atau membantah kebenaran rumor yang beredar tersebut. Perusahaan melalui dirinya tidak memberikan komentar apapun sebelum adanya kesepakatan yang final atas aksi korporasi tersebut.

Dalam keterangan terbuka, Wong Kevin menyebutkan bahwa narasi yang berkembang di media massa tidak sepenuhnya lengkap dan akurat.

Walau demikian jika rumor yang berhembus tersebut terealisasi, maka struktur bisnis BULL berpotensi semakin solid, sebab kapal oil tanker sebagai cashflow base, ditambah LNG dengan kontrak jangka panjang dan margin lebih tinggi, yang membuka ruang re-rating valuasi.

Lebih lanjut Wafi memberikan rekomendasi beli saham BULL di target harga Rp 520 dan juga beli saham SMDR di target harga Rp 480.

BULL dipandang sedang memasuki  fase transformasi besar dengan fokus membangun backlog kontrak jangka panjang dan ekspansi ke segmen energi bernilai tinggi.

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal Michael Yeoh memberikan pandangan bahwa kenaikan saham emiten perkapalan ini terjadi akibat faktor eksternal, terutama dari sisi energi.

"Kenaikan saham-saham perkapalan ini adalah refleksi dari kombinasi siklus global di industri pelayaran, dinamika komoditas energi dan penyesuaian kebijakan dan struktur pasar di dalam negeri," paparnya.

Dari sisi teknikal, Michael menyorot bahwa HUMI berada dalam posisi all time high (ATH) begitu pula dengan BULL.

"Peluang penguatan lanjutan masih terbuka jika saham-saham ini mampu menembus level tertingginya," tandas dia.
 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 13:18 WIB

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?

Saat tren bunga tinggi, apakah saat yang tepat untuk mengambil KPR? Simak saran dari perencana keuangan.

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi
| Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00 WIB

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi

Saat ini revisi UU Sisdiknas belum mengatur mengenai putusan MK yang mewajibkan pemerintah menggratiskan biaya pendidikan dasar.

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing
| Rabu, 22 Juli 2026 | 09:08 WIB

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing

Di tengah optimisme terhadap proyek CA-EDC, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada strategi pendanaan yang dipilih TPIA.

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:32 WIB

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?

Kenaikan harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga dipicu sentimen pasar dan aksi bargain hunting.

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:30 WIB

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie

Analis menilai penguatan serentak kelima saham Grup Bakrie tak lepas dari sentimen risk-on yang sedang menyelimuti pasar secara keseluruhan.

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:27 WIB

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat

Kerja sama ini memperluas distribusi, memperkuat rantai pasok emas  dan meningkatkan akses terhadap emas melalui pembiayaan syariah. 

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:08 WIB

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?

Rally saham  PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) yang telah berlangsung selama berbulan-bulan membuka peluang terjadinya profit taking.

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:58 WIB

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, investor juga perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek.

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:19 WIB

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II

Perusahaan tetap berfokus merealisasikan target ekspansi yang telah ditetapkan sejak awal tahun, yakni menambah 300–400 gerai baru sepanjang 2026.

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:14 WIB

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat

IHSG Rabu (22/7) masih berpeluang menguat, dengan level support 6.240-6.250 dan resistance di 6.390-6.400.​

INDEKS BERITA

Terpopuler