Serba Sulit

Rabu, 18 Maret 2026 | 03:13 WIB
Serba Sulit
[ILUSTRASI. TAJUK - Khomarul Hidayat (KONTAN/Indra Surya)]
Khomarul Hidayat | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Musim mudik Lebaran telah tiba. Hari-hari ini, jutaan penduduk melakukan perjalanan mudik untuk merayakan lebaran di kampung halaman. Kementerian Perhubungan memperkirakan 50,60% penduduk atau 143,91 juta orang bakal melakukan perjalanan mudik pada momen lebaran tahun ini. Mobilitas penduduk dalam jumlah besar ini sudah tentu mendatangkan efek berantai yang juga besar ke perekonomian. 

Hitungan Kadin, perputaran uang pada periode mudik Lebaran 2026 bisa mencapai Rp 148 triliun - Rp 160 triliun. ​Tak ayal, pemerintah pun mengandalkan momentum ini untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya banyak digerakkan konsumsi rumah tangga, momen lebaran tentu tak mau dilewatkan pemerintah.

Apalagi di tengah ketidakpastian prospek ekonomi global akibat lonjakan harga minyak dunia pasca meletusnya perang Iran yang menimbulkan ketegangan tinggi di Timur Tengah.

Saat kondisi global tak menentu, harapan satu-satunya untuk memacu ekonomi hanya dari ekonomi domestik dengan konsumsi rumah tangga sebagai penopang. 

Maklum, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) kita. Di kuartal IV 2025 semisal, konsumsi rumah tangga berkontribusi 53,63% ke pertumbuhan ekonomi.

Belanja pemerintah seharusnya juga bisa dijadikan penyokong. Sayangnya, ruang fiskal terbatas karena anggaran terkunci untuk program prioritas pemerintah seperti makan bergizi gratis yang memakan anggaran besar dan berpotensi menjadi beban fiskal.

Sementara ekspansi fiskal dengan menaikkan defisit anggaran terlalu berisiko bagi kredibilitas fiskal. Lembaga pemeringkat dunia juga sudah mewanti-wanti soal ini. Dus, konsumsi masyarakat lagi-lagi diharapkan menjadi penyelamat. Beruntung, Indonesia mempunyai populasi yang besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk menyangga perekonomian. Beruntung pula, ada momentum seperti lebaran yang menggeliatkan aktivitas ekonomi dan perputaran uang di masyarakat.

Persoalannya, setelah lebaran berlalu, tidak ada momentum yang cukup kuat untuk mendorong belanja masyarakat. Sisi lain, ekonomi Indonesia sedang menghadapi ancaman yang tidak bisa dipandang remeh; gejolak harga minyak yang bisa merembet ke kenaikan harga energi, terutama BBM. Tak menyesuaikan harga BBM, APBN bisa jebol. Sementara menaikkan harga BBM subsidi bakal memicu efek berantai. Bukan hanya ke harga barang dan menekan daya beli rumah tangga, juga menyulut gejolak sosial. Bak makan buah simalakama memang.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Dana Bencana Diduga untuk Beli Saham Pribadi Adik Mantan Kepala BNPB
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:20 WIB

Dana Bencana Diduga untuk Beli Saham Pribadi Adik Mantan Kepala BNPB

KPK menduga dana korupsi sebesar Rp 30,98 miliar digunakan untuk membeli saham PT MDLA              

Gejolak Pasar Keuangan Semakin Menekan Fiskal
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:06 WIB

Gejolak Pasar Keuangan Semakin Menekan Fiskal

Pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan lonjakan harga minyak memperbesar defisit               

IPAC Berencana Go Private, APAC Siap Tender Sukarela
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:08 WIB

IPAC Berencana Go Private, APAC Siap Tender Sukarela

APAC Investment 2 Pte.Ltd selaku pengendali IPAC akan melakukan penawaran tender sukarela untuk membeli saham milik pemegang saham publik. ​

PGEO Terbitkan 54,72 Juta Saham Baru dari Program MESOP
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:01 WIB

PGEO Terbitkan 54,72 Juta Saham Baru dari Program MESOP

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menerbitkan 54,72 juta saham baru melalui pelaksanaan program MESOP tahap I, II, dan III.

Bisnis Data Center Angkat Prospek TOTL
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:52 WIB

Bisnis Data Center Angkat Prospek TOTL

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) akan memfokuskan bisnisnya pada proyeksi kontruksi data center. Ini berpotensi mendongkrak laba TOTL pada 2027.

Saham Big Caps Jadi Pemberat, Laju IHSG Semakin Melambat
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:44 WIB

Saham Big Caps Jadi Pemberat, Laju IHSG Semakin Melambat

IHSG ambruk pasca MSCI umumkan rencana reklasifikasi pasar Indonesia ke standalone market. Saham bank big caps di posisi teratas pemberat IHSG.

Rupiah Berpotensi Terperosok ke Kisaran 18.500 per dolar AS
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Rupiah Berpotensi Terperosok ke Kisaran 18.500 per dolar AS

Rupiah kembali menembus 18.000  ke Rp 18.027 per dolar Amerika Serikat (AS) atau  melemah 0,50% secara harian pada Jumat (16/10).

Gaet Mitra Baru Demi Perkuat Bisnis
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Gaet Mitra Baru Demi Perkuat Bisnis

PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) menggandeng Deniko asal Denmark untuk memperkuat segmen bisnis manufaktur

Imbal Hasil SBN Berpotensi Meningkat
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Imbal Hasil SBN Berpotensi Meningkat

Tekanan dari eksternal  dan internal masih akan menekan pasar surat utang domestik hingga akhir tahun

Sanksi Lambat, MSCI Lebih Cepat
| Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:12 WIB

Sanksi Lambat, MSCI Lebih Cepat

Sebelum usulan MSCI terkait penurunan status pasar Indonesia, sudah berembus kabar akan ada sanksi kepada pelanggar transaksi pasar saham

INDEKS BERITA

Terpopuler