Saham Sektor Semen Menguat Imbas Rencana Tambahan Anggaran Kementerian PU Rp 36,91 T

Senin, 09 Februari 2026 | 05:40 WIB
Saham Sektor Semen Menguat Imbas Rencana Tambahan Anggaran Kementerian PU Rp 36,91 T
[ILUSTRASI. Renovasi Pesantren-Kementerian PU Siapkan Program Renovasi Gedung Tua (DOK/Kementerian PU)]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengajukan usulan tambahan anggaran sebesar Rp 36,91 triliun untuk tahun 2026. Tambahan anggaran ini dirancang sebagai bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) 2026 yang berfokus pada percepatan pembangunan infrastruktur dasar di berbagai daerah, seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas dan layanan publik.

Porsi terbesar dari anggaran tambahan tersebut dialokasikan untuk penanganan irigasi daerah dan pembangunan jalan daerah, masing-masing sebesar Rp 15 triliun. Kedua sektor ini dinilai krusial dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus memperlancar distribusi logistik antarwilayah, terutama di daerah yang selama ini masih memiliki keterbatasan akses infrastruktur.

Selain infrastruktur konektivitas, pemerintah juga memberi perhatian pada sektor pendidikan. Anggaran sebesar Rp 5,16 triliun dialokasikan untuk pembangunan Sekolah Rakyat, disertai dana Rp 22 miliar untuk rehabilitasi sekolah keagamaan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sarana pendidikan sekaligus memperkuat layanan publik di daerah.

Tak hanya itu, program KSPEAN Wanam turut mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp1,53 triliun. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat pembangunan kawasan tertentu yang memiliki nilai strategis, baik dari sisi ekonomi maupun pemerataan pembangunan.

Usulan tambahan anggaran ini diajukan seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan infrastruktur daerah yang selama beberapa tahun terakhir mengalami keterbatasan realisasi. Inpres 2026 diharapkan menjadi landasan hukum yang mempercepat eksekusi proyek-proyek prioritas, sehingga dampak ekonomi dapat segera dirasakan.

Baca Juga: Emiten Semen Berharap Efek Pemangkasan Suku Bunga BI

Peningkatan belanja infrastruktur pemerintah mulai memunculkan optimisme di pasar modal. Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada 5 Februari 2026 menilai bahwa aktivitas pembangunan jalan, irigasi, serta fasilitas pendidikan berpotensi mendorong kenaikan permintaan semen dan material bangunan dalam beberapa kuartal ke depan.

Emiten semen berkapitalisasi besar diperkirakan menjadi penerima manfaat utama dari tren tersebut. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dinilai memiliki posisi strategis untuk menangkap peluang peningkatan volume penjualan, seiring skala produksi dan jaringan distribusi yang luas di berbagai wilayah Indonesia.

Meski prospeknya menjanjikan, dampak positif kebijakan ini sangat bergantung pada kecepatan dan konsistensi realisasi anggaran di lapangan. Keterlambatan proyek atau penyerapan anggaran yang tidak optimal berpotensi menahan akselerasi kinerja sektor semen.

Selain faktor realisasi, tekanan margin juga masih menjadi tantangan yang perlu dicermati. Potensi kenaikan biaya energi, logistik, serta bahan baku dapat menggerus profitabilitas emiten, meskipun volume penjualan mengalami peningkatan.

Namun demikian, secara keseluruhan tambahan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum berbasis Instruksi Presiden (Inpres) 2026 dinilai sebagai katalis positif jangka menengah bagi sektor konstruksi dan semen. Kebijakan ini membuka ruang pemulihan setelah sektor tersebut mengalami tekanan sepanjang 2025 akibat minimnya proyek baru.

Pemulihan yang diharapkan pun bersifat bertahap. Pada tahap awal, dampak kebijakan lebih terlihat pada perbaikan aktivitas operasional dan stabilisasi arus kas, sementara kontribusi terhadap pertumbuhan laba diperkirakan baru terasa secara gradual mulai tahun ini.

Sentimen positif ini ternyata langsung bergulir di pasar modal. Saham-saham emiten semen menunjukkan pergerakan yang kontras dibandingkan kondisi pasar secara umum, mencerminkan ekspektasi investor terhadap prospek sektor tersebut.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 2,08%. Namun di tengah koreksi pasar tersebut, saham SMGR dan INTP justru kompak menguat masing-masing 1,15% dan 0,78%, menandakan minat beli investor terhadap sektor semen mulai kembali menguat.

Rekomendasi saham

SMGR

MNC Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dengan target harga 2.900 per saham. Rekomendasi ini mencerminkan pandangan positif terhadap prospek jangka menengah SMGR, terutama di tengah potensi pemulihan sektor konstruksi dan infrastruktur seiring meningkatnya belanja pemerintah.

Dari sisi valuasi, saham SMGR dinilai masih menarik berdasarkan rasio price to book value (PBV) yang relatif rendah. PBV SMGR diperkirakan berada di level 0,38 kali pada tahun ini dan tetap di kisaran yang sama pada tahun depan, mencerminkan valuasi yang berada di bawah nilai bukunya. Sementara itu, rasio price to earnings (PER) diproyeksikan sebesar 54,99 kali pada tahun berjalan dan sedikit menurun menjadi 54,23 kali pada tahun berikutnya.

Selain target harga tersebut, MNC Sekuritas juga mencatat rata-rata target analis atau average net recommendation (ANR) SMGR berada di level 3.027 per saham. Hal ini memperkuat pandangan bahwa saham SMGR masih memiliki ruang penguatan, seiring ekspektasi perbaikan kinerja operasional dan sentimen positif dari sektor infrastruktur ke depan.

Baca Juga: Proyek Infrastruktur Jadi Harapan Semen Indonesia Tbk (SMGR) di 2026

Mandiri Sekuritas juga memberikan rekomendasi buy untuk saham SMGR dengan target harga 3.090 per saham. Rekomendasi ini didasarkan pada prospek perbaikan kinerja keuangan SMGR yang diperkirakan semakin solid, seiring rencana pemerintah membenahi infrastruktur dasar serta efisiensi operasional yang mulai memberikan dampak positif.

Dari sisi kinerja, laba bersih SMGR sepanjang tahun lalu diperkirakan mencapai Rp 321 miliar. Memasuki tahun berjalan, laba bersih emiten semen pelat merah tersebut diproyeksikan melonjak signifikan menjadi Rp 623 miliar, mencerminkan potensi pemulihan profitabilitas. Secara valuasi, SMGR diperdagangkan dengan PER sekitar 28,1 kali dan PBV 0,4 kali, yang masih dinilai atraktif untuk emiten berbasis aset besar seperti SMGR.

Selain itu, valuasi EV/EBITDA SMGR diperkirakan berada di level 5,2 kali pada tahun ini, membaik dibandingkan tahun lalu yang berada di kisaran 5,8 kali. Penurunan rasio ini mengindikasikan peningkatan efisiensi dan daya tarik valuasi.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Dari 12 Konsultasi Penurunan Klasifikasi Market oleh MSCI, Hanya Dua yang Selamat
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 12:30 WIB

Dari 12 Konsultasi Penurunan Klasifikasi Market oleh MSCI, Hanya Dua yang Selamat

Penyesuaian investasi oleh investor asing sudah berlangsung bahkan sebelum keputusan akhir diambil MSCI.

Reformasi Pasar Modal Diuji, Transparansi dan Penegakan Hukum Jadi Sorotan MSCI
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Reformasi Pasar Modal Diuji, Transparansi dan Penegakan Hukum Jadi Sorotan MSCI

Arus modal asing tidak bisa menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan karena juga dipengaruhi suku bunga global, nilai tukar, dan geopolitik. 

Potensi Cuan Bank Menebal Usai GWM Turun, Saham Apa yang Paling Layak Dicermati?
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Potensi Cuan Bank Menebal Usai GWM Turun, Saham Apa yang Paling Layak Dicermati?

Penurunan giro wajib minimum (GWM) membuat Bank berpeluang mengurangi kebutuhan mencari pendanaan mahal.

Danantara Garap 8 Proyek Waste to Energy, Simak Peluang CDIA, BIPI, BNBR, dan OASA
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Danantara Garap 8 Proyek Waste to Energy, Simak Peluang CDIA, BIPI, BNBR, dan OASA

Fasilitas PSEL membutuhkan pasokan sampah yang memadai dan konsisten, baik dari sisi volume maupun karakteristiknya.

Terancam Turun Kasta ke Standalone Market, Investor Perlu Siaga
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Terancam Turun Kasta ke Standalone Market, Investor Perlu Siaga

Merespons ancaman dari penyedia indeks global MSCI, otoritas pasar modal mulai menindak pelanggaran. Efektif melunakkan sikap MSCI?

Prospek Kinerja FORE Dipengaruhi Produktivitas dan Kemampuan Menjaga Margin
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Prospek Kinerja FORE Dipengaruhi Produktivitas dan Kemampuan Menjaga Margin

Investor perlui mencermati SSSG, produktivitas gerai anyar, fluktuasi daya beli masyarakat, serta kemampuan menjaga margin.

Efisiensi Berbasis ESG, Dari Pengelolaan Air Hingga Memangkas Emisi
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Efisiensi Berbasis ESG, Dari Pengelolaan Air Hingga Memangkas Emisi

Inisiatif keberlanjutan Japfa Comfeed Indonesia perkuat efisiensi operasional dan mendukung pertumbuhan kinerja keuangan

Mengurai Masalah Daur Ulang Kemasan UHT
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Mengurai Masalah Daur Ulang Kemasan UHT

Kemasan susu UHT praktis untuk dikonsumsi, tetapi lapisan kertas, plastik, dan aluminium membuatnya rumit didaur ulang. 

Sssst! Buku Bisa Menjadi Ruang untuk Bertemu
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 06:05 WIB

Sssst! Buku Bisa Menjadi Ruang untuk Bertemu

Berawal dari kegemaran membaca, komunitas membaca buku lahir dan mempertemukan orang-orang dengan minat serupa. Buku men

 
Homeostasis Artificial Intelligence
| Minggu, 25 Oktober 2026 | 05:55 WIB

Homeostasis Artificial Intelligence

AI kian canggih dan otonom. Mampukah peradaban menjaga keseimbangan di tengah peluang dan risiko yang mengiringinya?

INDEKS BERITA

Terpopuler