Sahamnya Terus Koreksi, Portofolio Investor Institusi Asing di Saham BREN Merugi

Minggu, 29 Maret 2026 | 07:00 WIB
Sahamnya Terus Koreksi, Portofolio Investor Institusi Asing di Saham BREN Merugi
[]
Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak awal 2026 saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) nampaknya belum mampu bangkit, tercatat sudah longsor 42,78% ke level 5.550  per saham hingga perdagangan Kamis (26/3/2026). Sebelumnya sejumlah investor institusi asing gencar mengakumulasi saham milik taipan Prajogo Pangestu ini sehingga posisinya saat ini mengalami potensi kerugian yang cukup dalam.

Berdasarkan data Bloomberg ada tujuh investor institusi asing yang mengakumulasi saham BREN dengan total sekitar 20,86 juta saham sejak Januari hingga tanggal data 24 Maret 2026.

Pemborong terbesar adalah Northern Trust Corp yang menambah 11,42 juta saham ke dalam portofolionya di tanggal data 28 Februari 2026. Ini merupakan transaksi perdananya masuk ke BREN. Adapun harga rata-rata perolehan atau cost basis average dari transaksi tersebut Rp 8.541 per saham.

Seiring harga saham BREN yang kini berada di kisaran 5.550 per saham (penutupan 26 Maret 2025), posisi tersebut mencerminkan tekanan valuasi yang cukup dalam kepada Northern Trust Corp. Selisih sekitar 2.991 per saham setara dengan potensi kerugian mark to market sekitar Rp 34,19 miliar atau sekitar 35% dari nilai investasinya.

Baca Juga: BREN Masuk di LQ45 dan IDX80, Ini Daftar Saham-Saham Indeks Terbaru Mulai 2 Februari

Ada juga Dimensional Fund Advisors LP yang membeli 4,40 juta saham BREN di tanggal data 23 Maret 2026. Lewat transaksinya ini jumlah saham BREN yang digenggamnya menjadi 29,06 juta saham dengan harga rata-rata perolehan 8.361 per saham.

Dengan harga BREN yang kini berada di 5.550 per saham, posisi tersebut mencerminkan tekanan valuasi yang cukup  signifikan. Selisih sekitar 2.811 per saham setara dengan potensi kerugian mark to market sekitar Rp 81,70 miliar atau lebih dari 33% dari nilai investasinya.

Setali tiga uang, Blackrock juga terpantau melakukan akumulasi 2,89 juta saham BREN di tanggal data 24 Maret 2026. Dengan begitu jumlah saham BREN yang dimilikinya menjadi 318,13 juta saham dengan harga rata-rata perolehan senilai 8.733 per saham.

Seiring harga BREN yang kini berada di kisaran 5.550 per saham, posisi ini mencerminkan tekanan valuasi yang sangat dalam. Selisih sekitar 3.183 per saham setara dengan potensi kerugian mark to market sekitar Rp 1,01 triliun atau lebih dari 36% dari nilai investasinya. Besarnya nilai ini menunjukkan bahwa koreksi harga BREN telah memberikan dampak signifikan terhadap Blackrock dengan eksposur besar di saham tersebut.

Baca Juga: Akhirnya Masuk Indeks LQ45, Begini Rekomendasi Saham BREN

Berikut daftar lengkap investor institusi asing yang mengakumulasi saham BREN di awal tahun ini: 

 

Secara teknikal, koreksi saham BREN diprediksi masih belum akan mereda dalam waktu dekat. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menjelaskan secara teknikal, posisi pergerakan BREN saat ini masih berada di fase down trend-nya dengan tekanan jual dan volume yang tidak begitu besar.

“Dari indikator lain, MACD masih cenderung koreksi di area negatif demikian pula stochastic yang diperkirakan flat di area oversold-nya,” ujarnya kepada KONTAN, Kamis (26/3/2026).

Maka menurut Didit lebih baik saat ini investor wait and see dengan melihat level support Rp 5.325 per saham dan resistance Rp 5.650 per saham.

Tim Analis Phintraco Sekuritas memaparkan saat ini, BREN diperdagangkan pada PBV 72.87x jauh lebih tinggi dari PBV subsektor utilitas sebesar 15.65x.

Lalu dari sisi keuangan, di sepanjang 2025 BREN membukukan peningkatan yang baik. BREN mencatat laba bersih sebesar US$ 165 juta di 2025 meningkat sekitar 6,5% year on year (YoY) dari sebelumnya US$ 155 juta di 2024.

Baca Juga: Ekspansi Agresif dan Aksi Borong Prajogo Pangestu Jadi Amunisi Saham BREN

Pendapatan mencapai US$ 605 juta, tumbuh sekitar 1,4% YoY didorong oleh kinerja operasional yang stabil. Seiring dengan itu, EBITDA yang dibukukan senilai US$ 518 juta dengan margin tinggi sekitar 85.6% mencerminkan efisiensi operasional yang terjaga.

“Kinerja perusahaan ditopang oleh produksi listrik panas bumi yang stabil serta kontribusi dari proyek seperti Unit Binary Salak, meskipun segmen energi tenaga angin, mengalami penurunan,” jelas Tim Phintraco Sekuritas pada (25/3/2026).

Dari sisi neraca, total aset meningkat menjadi sekitar US$ 3,87 miliar, liabilitas turun menjadi sekitar US$ 2,98 miliar, dan rasio debt to equity membaik ke sekitar 2.36x.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Anteng di Zona Hijau, Saham Gudang Garam (GGRM) Masih Layak Dikejar?
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 18:00 WIB

Anteng di Zona Hijau, Saham Gudang Garam (GGRM) Masih Layak Dikejar?

Lonjakan laba GGRM merupakan kombinasi base effect dari basis laba semester I-2025 yang rendah dan perbaikan margin operasional.

Analis Ingatkan Risiko Rights Issue Emiten Happy Hapsoro, Bukan Sekadar Soal Dilusi
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 17:10 WIB

Analis Ingatkan Risiko Rights Issue Emiten Happy Hapsoro, Bukan Sekadar Soal Dilusi

Pengumuman Penambahan Modal Dengan PMHMETD II PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), disambut dingin oleh pasar.

Jalan ITMG di Semester II-2026 Makin Ringan
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Jalan ITMG di Semester II-2026 Makin Ringan

Secara historis ITMG membagikan dividend payout ratio lebih dari 80%, sehingga menarik bagi investor yang mencari pendapatan dividen.

Bitcoin Dibalap Altcoin di Juli, Pasar Kripto Masih Bertenaga di Agustus?
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:10 WIB

Bitcoin Dibalap Altcoin di Juli, Pasar Kripto Masih Bertenaga di Agustus?

Dominasi bitcoin yang masih berada di kisaran 58%-60% membuat reli altcoin diperkirakan belum akan berlangsung merata.

Kinerja Emiten Susu Moncer, Pemangkasan MBG Bakal Jadi Ujian di Semester II
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 09:08 WIB

Kinerja Emiten Susu Moncer, Pemangkasan MBG Bakal Jadi Ujian di Semester II

Persoalan serius datang dari wacana BGN yang mengusulkan agar susu bermerek tidak lagi menjadi pemasok dalam program MBG.

Infrastruktur Dongkrak Kredit Konstruksi
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 09:06 WIB

Infrastruktur Dongkrak Kredit Konstruksi

Belanja modal korporasi dan proyek pemerintah menopang lonjakan pembiayaan konstruksi.                  

Pemerintah Guyur Subsidi Mobil Listrik hingga 40%
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:49 WIB

Pemerintah Guyur Subsidi Mobil Listrik hingga 40%

Presiden Prabowo akan segera mengumumkan paket stimulus tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional

Pendapatan dan Laba HRUM Melejit Dua Digit
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:15 WIB

Pendapatan dan Laba HRUM Melejit Dua Digit

Emiten pertambangan batubara ini meraih pertumbuhan positif dari sisi top line dan bottom line di semester I-2026.

Impor Perlebar Defisit Transaksi Berjalan
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Impor Perlebar Defisit Transaksi Berjalan

Defisit transaksi berjalan tahun ini diperkirakan bisamelebar hingga 2% dari produk domestik bruto (PDB)

Penjualan Segmen Herbal Turun, Laba Bersih SIDO Merosot 44%
| Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Penjualan Segmen Herbal Turun, Laba Bersih SIDO Merosot 44%

Emiten produsen jamu Tolak Angin ini meraup penjualan Rp 1,47 triliun per akhir Juni 2026, turun 21% secara tahunan.

INDEKS BERITA

Terpopuler