SAM Indonesia, Calon Emiten dari Pelaku Industri Kreatif Berkelas Dunia

Minggu, 13 Oktober 2019 | 00:58 WIB
SAM Indonesia, Calon Emiten dari Pelaku Industri Kreatif Berkelas Dunia
[ILUSTRASI. Aktivitas karyawan PT SAM Indonesia Tbk atau yang akrab dikenal dengan sebutan SAM Creative Group Indonesia (SAM CGI)]
Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT SAM Indonesia membuka mata dunia, bahwa pelaku usaha industri kreatif Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara maju lain. Perusahaan yang dikomandoi Edy Suwarno selaku direktur utama, yang juga pemilik PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) ini, kerap menyabet penghargaan bergengsi di level internasional.

Kini, SAM Indonesia bersiap mencatatkan sejarah baru lewat aksi initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). IPO ini bakal menempatkan SAM Indonesia sebagai emiten pertama di BEI yang bergerak di bisnis corporate & digital communication consultant.

Edy berharap IPO SAM Indonesia terlaksana November 2019 mendatang. Perusahaan ini akan menawarkan tidak kurang 75% sahamnya ke investor publik.

Terkait target perolehan dana IPO, SAM Indonesia memang tidak mematok angka fantastis. Dengan asumsi menjual 150 juta saham di harga nominal Rp 100 per saham, maka dana segar IPO yang bisa diperoleh SAM Indonesia berkisar Rp 15 miliar.

Namun hitung-hitungan di atas masih memakai asumsi harga nominal saham. Sebab proses bookbuilding memang belum dilaksanakan, sejak mini expose diselenggarakan SAM Indonesia dihadapan jajaran petinggi otoritas bursa beberapa waktu lalu.

"Asumsi saya, harganya tidak jauh dari nilai nominalnya," tutur Edy, saat ditemui KONTAN, di salah satu markas SAM Indonesia, di bilangan Kemang, Rabu (9/10) sore.

Edy, yang saat ini mengapit porsi 95% saham, mengaku tidak menyiapkan calon investor korporasi untuk menyerap saham IPO SAM Indonesia.

Dia optimistis, lini bisnis SAM Indonesia yang sangat menjanjikan, bisa menjadi amunisi ampuh guna menarik minat publik. Terlebih, segudang prestasi yang pernah ditorehkan perusahaan ini di kancah nasional dan internasional.

Adapun selain Edy, duduk dijajaran direksi SAM Indonesia adalah Prasetiyo Hermanto dan Anita, masing-masing sebagai direksi. Prasetiyo Hermanto atau yang akrab disapa Giants Hermanto, juga merupakan pemilik 5% saham SAM Indonesia.

Sedangkan nama Dimas Kahlil Sudoyo Beck (Dimas Beck), dipercaya duduk di jajaran komisaris SAM Indonesia. Sebagai Komisaris Utama, muncul nama Fifki Hakim.   

Lahir saat krisis ekonomi

Prasetiyo Hermanto Direktur SAM Indonesia berkisah, cikal bakal SAM Indonesia bermula dari SAM Design, yang berdiri di Surabaya, bulan Desember 1998. Nama SAM sendiri diambil inisial nama tiga orang pendirinya, yakni Tanadi Santoso (Santoso), Anang Supardi (Anang), dan Martin Kristianto (Martin).

Pada awal keberadaannya, SAM Design menawarkan jasa web development yang saat itu masih sangat jarang di Indonesia. Asal tahu saja, sekitar tahun 1994-2000, merupakan era perusahaan internet berkembang sangat pesat.

"Beridiri tahun 1998, SAM Design muncul guna bangkit melawan krisis dan mendapatkan penghasilan berbasis dollar AS," tutur Giants. Tidak butuh waktu lama, SAM Design sukses membuka jaringan di Eropa dan Amerika Serikat  (AS) dan kebanjiran banyak proyek. 

Namun cobaan datang. Era booming perusahaan internet mencapai kondisi internet bubble. Banyak perusahaan "dot com" saat itu bertumbangan. Order pembuatan web development pun berkurang drastis.

Cobaan kedua datang tahun 2002 atas bisnis SAM Design di Bali. Serangan bom di Bali, menyebabkan bisnis SAM Design semakin terhimpit. Padahal saat itu, Bali digadang bakal menjadi Silicon Valley-nya Indonesia.

Benih terwujudnya Silicon Valley di Bali ditandai dengan keberadaan BaliCamp yang didirikan oleh Toto Sugiri, melalui Grup Sigma Caraka.

BaliCamp kala itu mendirikan pusat pengembangan software berkelas dunia, yang bakal menyaingi Bangalore, silicon valley-nya India.

Namun bom Bali membuyarkan mimpi mewujudkan Silicon Valley di Indonesia, kala itu.

Pasca bom Bali, SAM Design memfokuskan layanan bagi perusahaan dalam negeri. Tahun 2004, berdiri PT SAM Indonesia di Jakarta. Nama SAM tetap dipakai, meski Santoso, Anang, dan Martin tidak termasuk dalam daftar pemilik saham di perusahaan tersebut.

Tiga divisi utama

Saat ini, SAM Indonesia memiliki tiga divisi usaha. Yakni, SAM creation, SAM digital dan SAM motion.

Usaha SAM creation utamanya melayani kebutuhan klien di bidang corporate & marketing communication. Kekuatan utamanya terletak pada jasa konsultasi pembuatan laporan tahunan (annual report) yang telah diakui melalui penghargaan nasional (annual report award) dan internasional seperti LACP Award.

Sebagai pelaku usaha kreatif, SAM Indonesia memiliki kapabilitas dalam menyusun strategic planning & strategic campaign yang matang dan tepat sasaran. Selain itu, SAM Design juga menghadirkan layanan branding & design terutama untuk pembuatan kalender, profil perusahaan, dan logo serta identitas perusahaan.

Selanjutnya adalah SAM digital. SAM Digital memanfa]atkan kemajuan teknologi di era digital untuk menghadirkan jasa mobile apps development atau pembuatan dan pengembangan aplikasi. Layanannya diberikan baik untuk kebutuhan korporat maupun komersial seperti e-commerce.

Selain sebagai mobile apps developer, SAM digital juga menyediakan jasa content creator serta konsultan, untuk kebutuhan digital branding dan digital communication.

Yang terakhir adalah SAM motion. SAM Motion menyediakan jasa pembuatan video korporat (corporate video). Lewat jasa tersebut, SAM Indonesia mampu membetot perhatian dunia, kala meraih penghargaan The Cannes Corporate Media & TV Awards di Prancis, serta German Design Award pada tahun 2018 di Jerman.

Peluang cuan

Tidak dipungkiri, lingkup bisnis SAM Indonesia di bidang industri kreatif sangat prospektif. 

Misalnya saja dari jasa pembuatan laporan tahunan. Saat ini, kata Giants, SAM Indonesia memiliki 29 klien emiten bursa. Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mempercayakan pembuatan desain pembuatan laporan tahunannya kepada perusahaan ini.

Melihat jumlah emiten yang ditargetkan mencapai 648 perusahaan hingga akhir tahun 2019, tentu prospek jasa pembuatan laporan tahunan SAM Indonesia masih bisa terus tumbuh. Apalagi saban tahun Bursa Efek Indonesia (BEI) mematok penambahan jumlah emiten yang cukup agresif.

Asal tahu saja, hingga kini terdapat 70.000 perusahaan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya 1%-nya yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selain itu, emiten kita saat ini pun masih banyak yang belum memiliki website yang sesuai dengan kehendak regulator. Fakta ini menjadikan potensi bisnis SAM Indonesia dalam pemberian jasa apps development, punya prospek cerah. SAM Indonesia lantas membidik pertumbuhan bisnis apps development sebesar 10% dan jasa perawatan sebanyak 20%.

Secara umum, hingga saat ini SAM Indonesia memiliki setidaknya 50 klien. Diantaranya adalah PT Pertamina, PT Astra Honda Motor, PT Bukit Asam Tbk, Toyota, Bank Mega, Allianz, dan Lexus.

Selanjutnya masih ada PT Bank Negara Indonesia Tbk, BNI Syariah, Bank Indonesia, OJK, PT PP Tbk, BEI, PT Bank Central Asia Tbk, PT Mandiri Sekuritas, PT Garuda Indonesia Tbk dan PT Toba Bara.

Diakui dunia internasional

Tidak dipungkiri, sejak tahun 2004 nama SAM Indonesia terus berkibar. Hingga akhirnya pada 13 Oktober 2016, SAM Indonesia memperoleh medali emas di ajang Cannes Corporate Media & TV Awards Prancis. "SAM Indonesia menjadi perusahaan pertama asal Indonesia yang berhasil memenangkan penghargaan di ajang bergengsi itu," kenang Giants.

SAM Indonesia juga sempat menjuarai The International Annual Report Design Awards (IADA) yang diselenggarakan di Londong, Inggris.

Selanjutnya pada 9 Februari 2018, SAM Indonesia menjuarai German Design Award, di Frankfurt. SAM Indonesia memperoleh penghargaan dalam katagori audio visual.

Pada tahun yang sama, SAM Indonesia memperoleh penghargaan pada ARC Awards XXXII di New York Amerika Serikat (AS).

Berlanjut tahun 2019, SAM Indonesia memenangkan medali perak pada ajang Design Award & Competition di Italia. 

Secara total, SAM Indonesia telah memperoleh 21 penghargaan baik nasional maupun internasional. Dan lewat rencana IPO, SAM Indonesia siap memenangkan hati masyarakat pasar modal.

Bagikan

Berita Terbaru

Bea Masuk Plastik 0% Berlaku Enam Bulan, Ini Peluang dan Risiko Bagi Emiten di Hilir
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Bea Masuk Plastik 0% Berlaku Enam Bulan, Ini Peluang dan Risiko Bagi Emiten di Hilir

Risiko pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak, biaya pengiriman, dan gangguan pasokan global masih membayangi industri plastik.

Volatilitas Bitcoin Menurun, Harga Masih Dibayangi Inflasi AS dan Keputusan The Fed
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Volatilitas Bitcoin Menurun, Harga Masih Dibayangi Inflasi AS dan Keputusan The Fed

Harga bitcoin diprediksi bergerak di US$ 75.000–US$ 100.000 hingga akhir 2026, dengan asumsi tidak terjadi guncangan besar pada ekonomi global.

Mengukur Kontribusi Ekonomi Syariah
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:11 WIB

Mengukur Kontribusi Ekonomi Syariah

Rantai nilai halal atau halal value chain disebut menyumbang sekitar 24,9% terhadap PDB nasional    

Tambah Modal Usaha, HRTA Siap Menggelar Private Placement
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:57 WIB

Tambah Modal Usaha, HRTA Siap Menggelar Private Placement

Untuk memuluskan aksi ini, manajemen HRTA akan minta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada Jumat (16/10). ​

Potensi Penerimaan dari Fasilitas Pajak Tak Banyak
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:57 WIB

Potensi Penerimaan dari Fasilitas Pajak Tak Banyak

Estimasi penerimaan pajak yang bisa masuk dari fasilitas ini hanya Rp 40,2 triliun​                 

BEI Tetapkan Harga Teoritis Rights Issue BUVA Rp 520 per Saham
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:52 WIB

BEI Tetapkan Harga Teoritis Rights Issue BUVA Rp 520 per Saham

Penetapan ini mengacu ke harga BUVA pada akhir cum di pasar reguler per 13 Oktober 2026 sebesar Rp 590 per saham.​

Saham ISAT Direkomendasikan Buy, Simak Target Harga dan Prospek Bisnis AI
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:48 WIB

Saham ISAT Direkomendasikan Buy, Simak Target Harga dan Prospek Bisnis AI

Fasilitas awal Zankore berkapasitas 100 MW dapat menghasilkan laba sebesar US$ 126 juta pada tahun pertama dan US$ 331 juta pada tahun kedua.

Penjualan Emiten Konsumer Berpeluang Naik, Tapi Margin Dibayangi Tekanan Bahan Baku
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:39 WIB

Penjualan Emiten Konsumer Berpeluang Naik, Tapi Margin Dibayangi Tekanan Bahan Baku

Tekanan biaya bahan baku dan daya beli membuat pertumbuhan pendapatan belum otomatis berujung pada kenaikan laba.

IHSG Masih Bergerak Fluktuatif
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:37 WIB

IHSG Masih Bergerak Fluktuatif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif di tengah sentimen harga minyak yang masih tinggi

Pembatasan Gas Industri Ganggu Investasi
| Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:32 WIB

Pembatasan Gas Industri Ganggu Investasi

Pembatasan pasokan gas bumi mulai menekan aktivitas industri dalam negeri. Rencana ekspansi tertunda, ribuan pekerja berpotensi terdampak.

INDEKS BERITA

Terpopuler