Sehat dan Mandiri

Kamis, 26 Januari 2023 | 08:00 WIB
Sehat dan Mandiri
[]
Reporter: Sandy Baskoro | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor kesehatan tak pernah redup. Pasca pandemi Covid-19, orang semakin sadar, betapa kesehatan mahal harganya. Kini permintaan berdatangan dari berbagai lini: mulai dari obat-obatan, layanan rumah sakit, hingga alat kesehatan dan laboratorium.

Investasi di bidang kesehatan terus menanjak. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, sektor kimia dan farmasi mencatatkan investasi senilai Rp 93,6 triliun di sepanjang tahun 2022. Angka itu meliputi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Nilai investasi sektor kimia dan farmasi masuk lima besar investasi di Indonesia pada tahun 2022. Investasi di sektor ini masih di bawah empat sektor lainnya, yakni industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya (Rp 171,2 triliun); pertambangan (Rp 136,4 triliun); transportasi, gudang dan telekomunikasi (Rp 134,3 triliun) dan perumahan, kawasan industri dan perkantoran (Rp 109,4 triliun).

Meski demikian, pencapaian sektor farmasi di 2022 lebih baik ketimbang 2021, dimana investasi sektor tersebut tak masuk lima besar.

Bukan hanya perusahaan farmasi yang rajin menggelar ekspansi bisnisnya. Korporasi di luar farmasi juga mulai mengintip peluang.

Kabar terbaru, Grup Indika Energy merangsek bisnis kesehatan melalui anak usahanya, PT Indika Medika Nusantara. Untuk memperkuat bisnis kesehatan, Indika Medika menggandeng Bioneer Corporation, perusahaan manufaktur alat kesehatan asal Korea Selatan.

Indika Medika dan Bioneer Corporation mendirikan perusahaan patungan (joint venture) bernama PT Bioneer Indika Group. Langkah Indika menandakan bisnis di bidang kesehatan semakin menjanjikan.

Pasca pandemi, belanja kesehatan masyarakat terus meningkat. Oleh karena itu, pemerintah perlu segera menjawab peluang sekaligus tantangan di sektor kesehatan yang semakin kompleks.

Saatnya Kementerian Kesehatan mengubah fokus penggunaan anggaran dari sebelumnya penanganan pandemi. Pemerintah harus membangun sistem ketahanan kesehatan yang kokoh, termasuk menggandeng Kementerian Perindustrian untuk membangun industri kesehatan yang kuat.

Belajar dari pandemi, Indonesia harus mengembangkan industri bahan baku obat, vaksin hingga alat kesehatan. Selama ini, kita terlalu nyaman untuk selalu mengimpor obat dan alat-alat kesehatan. Sudah saatnya Indonesia membangun kemandirian di bidang kesehatan.

Bagikan

Berita Terbaru

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam
| Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam

Selain faktor moneter, lonjakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh eskalasi risiko geopolitik global, dari Venezuela kini bergeser ke Iran.

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30 WIB

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​

Ruang konsumsi barang non-esensial diprediksi kian terbatas dan pola belanja masyarakat cenderung menjadi lebih selektif.

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:04 WIB

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan

Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh melambat menjadi 4,4% secara tahunan  

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:01 WIB

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun

Kebutuhan belanja pemerintah di kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai Rp 700 triliun, namun penerimaan belum akan optimal

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:30 WIB

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan

Dalam jangka panjang, kasus korupsi pajak bakal menyeret rasio perpajakan Indonesia                 

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:16 WIB

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?

Dengan kecenderungan uptrend yang mulai terbentuk, investor bisa menerapkan strategi buy on weakness saham BUVA yang dinilai masih relevan.

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:53 WIB

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri

Meski ikut terimbas flash crash IHSG, hingga 12 Januari 2026 persentase kenaikan saham Bakrie non-minerba masih berkisar antara 15% hingga 83%.

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:39 WIB

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran

Inaplas belum percaya diri dengan prospek industri plastik keseluruhan pada 2026, lantaran barang jadi asal China membanjiri pasar lokal.

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat

Sektor logistik hingga tambang masih jadi penopang terhadap penjualan kendaraan niaga pada tahun ini

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim

Dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diprediksi makin menarik usai spin off es krim dan lepas Sariwangi.

INDEKS BERITA