KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minggu-minggu ini merupakan hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2024-2025 bagi para siswa PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan sekolah sederajat yang lain.
Lepas dari wajah-wajah ceria ayah-bunda yang mengantar putra-putrinya masuk sekolah pertama kalinya, akhir-akhir ini dunia pendidikan di Indonesia kerap menjadi fokus sorotan masyarakat.
Pusat perhatian masyarakat terhadap dunia pendidikan sebenarnya masih itu-itu saja, sama dari tahun ke tahun. Variasinya saja yang berbeda: biaya sekolah atau uang kuliah, seleksi masuk sekolah, ujian masuk perguruan tinggi negeri, perubahan kurikulum, dan sebagainya.
Masalah seleksi sekolah SMP dan SMA paling kerap menjadi keluhan orang tua. Sistem zonasi yang bertujuan memeratakan kesempatan siswa mendapatkan sekolah baik terbukti rawan kecurangan.
Di lain sisi, banyak sekolah alih-alih terpicu meningkatkan mutu sekolah karena mendapatkan siswa bibit unggul, sistem zonasi justru mengundang moral hazard orang tua, Ketua RT/RW, juga panitia penerimaan siswa baru sekolah yang notabene para guru sendiri.
Banyak cerita tentang calon siswa yang pindah Kartu Keluarga (KK) agar diterima sekolah tertentu, padahal kenyataannya mereka tinggal di wilayah lain. Akibatnya, calon siswa yang tinggal lebih dekat ke sekolah kalah bersaing jarak dan gagal masuk sekolah negeri.
Beberapa orang tua yang anaknya tak diterima bahkan mengukur jarak rumahnya pakai meteran. Mereka tidak mengerti bagaimana bisa anaknya tidak diterima padahal rumahnya cuma berjarak sepelemparan galah dari gerbang sekolah.
Baru-baru ini ramai pemberitaan SMP di Depok Jawa Barat ketahuan me-mark-up nilai rapor siswa mereka agar bisa diterima sekolah lanjutan lewat jalur prestasi. Akibatnya, puluhan siswa terkatung-katung belum mendapat sekolah karena hasil seleksi sebelumnya dianulir.
Praktik-praktik kecurangan semacam itu disinyalir juga ditawarkan para oknum di tingkat SMA dengan target siswa yang kelak berencana masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur rapor.
Pernah muncul keluhan orang tua siswa kelas satu SMA gara-gara anaknya melorot dari rangking 1 ke ranking 12, terlompati teman-temannya yang sehari-hari nilainya biasa-biasa saja.
Siapa pun menteri pendidikan yang baru nanti akan mewarisi PR-PR lama ini. Inovatif dengan gagasan kekinian penting, tapi jangan menutup mata terhadap persoalan lama yang belum terselesaikan.
