SIDO Kebut Penjualan di Akhir Tahun, Laba Kuartal IV-2025 Diproyeksi Melonjak 59%

Jumat, 12 Desember 2025 | 08:04 WIB
SIDO Kebut Penjualan di Akhir Tahun, Laba Kuartal IV-2025 Diproyeksi Melonjak 59%
[ILUSTRASI. Aktivitas pekerja di fasilitas produksi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). DOK/SIDO]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Guyuran hujan serta momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) diproyeksi menjadi angin segar bagi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). Emiten jamu ini optimistis meraih pertumbuhan penjualan yang solid di penghujung tahun 2025.

RHB Sekuritas Indonesia dalam riset teranyarnya membedah prospek emiten berkode saham SIDO tersebut. Menurut mereka, kuartal IV-2025 dan kuartal I-2026 bakal menjadi momentum panen cuan bagi perseroan.

Analis RHB Sekuritas Vanessa Karmajaya memproyeksikan, laba SIDO di akhir tahun ini berpotensi terkerek 22,4% secara tahunan (year on year/YoY). Pendorong utamanya adalah siklus musiman di kuartal IV-2025 dan kuartal I-2026, eksekusi program last bite, serta efek positif stimulus pemerintah yang diharapkan mendongkrak konsumsi masyarakat.

"Perkiraan kinerja SIDO di kuartal IV-2025 akan tumbuh 24,6% secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ), sementara laba bersih diperkirakan melonjak 59% secara kuartalan," tulis Vanessa dalam riset yang dikutip Kontan, Kamis (11/12).

Secara historis dalam rentang 2016 hingga 2024, SIDO memang mencatat rata-rata pertumbuhan penjualan kuartal IV sebesar 37% secara kuartalan, dengan lonjakan laba bersih mencapai 61%. Periode ini kerap menjadi puncak kinerja SIDO, bahkan paling tangguh dibandingkan perusahaan kesehatan (healthcare) lain dalam cakupan RHB Sekuritas.

Senada, MNC Sekuritas menegaskan bahwa lonjakan permintaan musiman di kuartal IV-2025 bakal menjadi puncak penjualan tahun ini. Research Analyst MNC Sekuritas Catherine Florencia, mengestimasi periode ini menyumbang sekitar 30% hingga 34% terhadap total pendapatan tahunan perseroan.

Lebih jauh, MNC Sekuritas menyoroti adanya aksi restocking (stok ulang) dari saluran penjualan yang ditarik lebih awal ke kuartal IV-2025 demi mengantisipasi periode Lebaran 2026.

"Kami memproyeksi restocking yang dilakukan lebih awal biasanya terjadi jelang periode Lebaran di akhir kuartal I-2026," paparnya.

Baca Juga: The Fed Turunkan Bunga, Tapi Rupiah Masih Jadi Ganjalan Investor

Ekspansi Distribusi dan Produk Baru

Kekuatan SIDO di periode ini juga ditopang oleh strategi agresif perseroan memperluas jangkauan distribusi. SIDO tercatat menambah 9.900 gerai general trade (GT) dan 1.000 gerai modern trade (MT).

Hingga kuartal III-2025, total gerai yang mendistribusikan produk SIDO mencapai 252.000–253.000 untuk GT, dan 56.000–58.000 untuk MT. Dalam lima tahun ke depan, SIDO membidik 100.000 gerai modern trade, sementara target 250.000 general trade sejatinya sudah tercapai.

Meski serapan belanja modal (capex) masih tergolong rendah —baru 24% per November 2025 dari alokasi Rp 150 miliar–Rp 175 miliar— investasi pada pengembangan produk baru terus digenjot.

Di pasar ekspor, SIDO melihat peluang yang cukup solid. Per kuartal III-2025, penjualan ekspor melesat 23% YoY dengan kontribusi mencapai 7,9% terhadap total pendapatan.

"Kontribusi negara yang cukup signifikan adalah Malaysia dengan 4,6% dari total pendapatan, disusul Nigeria dan Filipina masing-masing 1% hingga 2%. Ekspansi juga dilakukan ke Vietnam melalui perizinan produk," imbuh Vanessa.

Inovasi produk juga tak henti dilakukan. Misalnya, pada Oktober 2025, SIDO meluncurkan Herbal C+ Collagen Strawberry Lemonade, menyasar segmen kecantikan dan minuman kesehatan yang tetap stabil meski pasar kosmetik tengah lesu.

Meski kontribusi produk baru masih mini, RHB Sekuritas menilai peluang pertumbuhannya tetap terbuka lebar di luar produk legendaris seperti Tolak Angin.

Baca Juga: Nilai Transaksi Kripto Domestik Turun di November 2025

Rekomendasi Saham

Dari sisi kinerja keuangan per September 2025, SIDO membukukan pendapatan Rp 2,7 triliun, tumbuh 3,9% YoY. Laba bersih tercatat Rp 818,5 miliar, naik 5,2% dibandingkan periode sama tahun lalu. Profitabilitas tetap terjaga dengan gross profit margin (GPM) 56,7% dan net profit margin (NPM) 30%.

Segmen food & beverages (F&B) menjadi salah satu penopang usai naik 4,4%, didukung melandainya harga bahan baku seperti taurine, aspartame, citric acid, dan fructose. Capaian ini sukses mengimbangi segmen farmasi yang terkoreksi 1,8% YoY.

MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham SIDO dengan target harga Rp 610 per saham. Target ini mencerminkan valuasi price to earnings (PE) 15,5 kali dan price to book value (PBV) 5,1 kali pada 2026.

Sementara itu, Senior Investment Information Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai prospek SIDO bergantung pada penerimaan pasar terhadap produk-produknya.

"Produk SIDO cukup variatif dan unik. Meskipun berada pada niche market, produk SIDO terbukti dapat diterima dengan baik oleh konsumen," urainya. Meski pertumbuhan diprediksi single digit, bisnis SIDO dinilai sustainable dengan dividend yield yang menarik.

Sekadar mengingatkan, November lalu SIDO telah membagikan dividen interim tunai total Rp 647,57 miliar atau Rp 22 per saham.

Nafan merekomendasikan accumulative buy dengan target harga Rp 670. Senada, Vanessa Karmajaya menaikkan rekomendasi dari netral menjadi buy dengan target harga sama, yakni Rp 670.

Pada perdagangan Kamis (11/12), saham SIDO ditutup terkoreksi 0,94% ke level Rp 525. Dalam sepekan, saham ini melemah 2,78% dan sebulan terakhir turun 5,41%. Namun dalam enam bulan terakhir, SIDO masih mencatatkan penguatan 1,94%, meski secara year to date (YtD) terkoreksi 10,26%.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Manuver Maxglory di Balik Saham SQMI: Bayang Utang, Valuasi, dan Proyek Ciemas
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 09:30 WIB

Manuver Maxglory di Balik Saham SQMI: Bayang Utang, Valuasi, dan Proyek Ciemas

Masalah paling mendasar yang dihadapi SQMI sejatinya terletak pada macetnya pengembangan pabrik pengolahan emas Ciemas.

Terbitkan 170 Juta Saham Baru, PTRO Siap Menggelar Rights Issue
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 09:04 WIB

Terbitkan 170 Juta Saham Baru, PTRO Siap Menggelar Rights Issue

Emiten kontraktor pertambangan batubara milik taipan Prajogo Pangestu itu akan menerbitkan maksimal 170 juta saham baru atau setara 1,69%.

Danantara, INA, dan TPIA Tuntaskan Investasi Strategis
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Danantara, INA, dan TPIA Tuntaskan Investasi Strategis

Kesepakatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kapasitas industri soda kaustik dan ethylene dichloride (EDC) di pasar domestik.

Inflasi AS Melejit, Pasar Keuangan Asia Menjerit
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:52 WIB

Inflasi AS Melejit, Pasar Keuangan Asia Menjerit

Kenaikan data inflasi Amerika Serikat bulan September 2026 mengguncang bursa saham dan mata uang di Asia.

Kebakaran Hutan Berpotensi Membakar Kinerja Emiten CPO
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:26 WIB

Kebakaran Hutan Berpotensi Membakar Kinerja Emiten CPO

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi risiko operasional bagi sejumlah emiten perkebunan kelapa sawit. 

Tantangan Saham Telekomunikasi
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:24 WIB

Tantangan Saham Telekomunikasi

Tekanan di Bursa Efek Indonesia (BEI) turut membuat saham-saham telekomunikasi dan infrastruktur pendukungnya berguguran.

MSCI Berpotensi Downgrade Indonesia, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (16/10)
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:24 WIB

MSCI Berpotensi Downgrade Indonesia, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (16/10)

Penyedia layanan indeks global, MSCI yang mengumumkan dimulainya konsultasi untuk mengklasifikasikan ulang Indeks MSCI Indonesia.

Emiten Keluar HSC di Saat Pasar Penuh Tekanan, Apa Dampaknya ke Harga Saham?
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Emiten Keluar HSC di Saat Pasar Penuh Tekanan, Apa Dampaknya ke Harga Saham?

Cara paling cepat untuk mengurangi konsentrasi kepemilikan adalah dengan mengurangi kepemilikan pengendali secara langsung di pasar.

Dilego Asing Rp 1,6 Triliun, GOTO Jadi Saham Terbanyak Dilepas pada Oktober Berjalan
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 07:36 WIB

Dilego Asing Rp 1,6 Triliun, GOTO Jadi Saham Terbanyak Dilepas pada Oktober Berjalan

Deutsche Bank hingga State Street Corp terpantau melepas sebagian kepemilikannya di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Lampu Merah Saham Indonesia: MSCI Siapkan Hukuman Terberat, RI bisa Selevel Zimbabwe
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 07:10 WIB

Lampu Merah Saham Indonesia: MSCI Siapkan Hukuman Terberat, RI bisa Selevel Zimbabwe

Delapan bulan ke depan menjadi ujian apakah reformasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan diikuti penindakan dan bukti nyata.

INDEKS BERITA

Terpopuler