Sigma Energy (SICO) Bakal Kian Lancar Berekspansi Usai IPO

Sabtu, 16 April 2022 | 03:05 WIB
Sigma Energy (SICO) Bakal Kian Lancar Berekspansi Usai IPO
[]
Reporter: Aris Nurjani | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sigma Energy Compressindo Tbk menargetkan bisa mengerek kinerja double digit di tahun ini. Emiten yang kerap disebut dengan Sinerco ini yakin pendapatan bisa naik 17% di 2022. 

Emiten yang bergerak di bidang jasa penyewaan alat-alat untuk monetisasi minyak dan gas suar bakar dengan menggunakan teknologi kompresi ini akan mengembangkan usaha dengan meningkatkan jumlah penyewa unit pemakaian GasJack. Ini adalah merek alat kompresi yang dimiliki Sigma Energy. 

Alat ini bisa mengurangi gas karbon yang dilepas ke udara dan dimanfaatkan untuk menambah volume produksi gas. "Ke depan kami akan meningkatkan pemakaian GasJack hingga 90% dari saat ini sekitar 73% dari total unit yang dimiliki untuk pengembangan usaha," terang Sekretaris Perusahaan Sigma Energy Compressindo Nurjamil. 

Baca Juga: Sigma Energy Compressindo (SICO) Incar Pendapatan Rp 85,50 Miliar di Tahun Ini

Ke depan, emiten dengan kode saham SICO ini akan membeli satu unit mesin compressor dengan kapasitas yang lebih besar. Rencana lain dari perusahaan ini adalah melakukan promosi pemasaran kepada kontraktor kontrak kerjasama (K3S) migas di Indonesia. 

Sebagai modal untuk rencana bisnis tersebut, SICO akan menggunakan dana hasil penawaran umum perdana alias initial public offering (IPO) Rp 62,10 miliar. Dari dana terhimpun, SICO mengalokasikan 15,5% di antaranya untuk membayar utang ke 
Bank KEB Hana, 44,75% untuk pengembangan usaha dan 39,75% untuk modal kerja. 

Dalam jangka panjang, Sigma Energy juga akan fokus pada bisnis inti, yakni penyewaan alat kompresor dan mengurangi pemanasan global. Nurjamil mengaku, Sinerco telah membuka cabang usaha lain yang bergerak di bidang pengoperasian SPBU. 

Pada 2017, SICO mulai membuka cabang usaha baru yang bergerak di bidang pengoperasian SPBU, PT Sigma Niaga Gas. SICO bekerjasama dengan Shell membuka SPBU di Kawasan Soewarna Bussiness Park area Bandara International Soekarno Hatta. Hingga September 2021, kontribusi SPBU mencapai 33,05% dari total pendapatan SICO.

Potensi besar

Bidang layanan sewa mini gas kompresor tetap jadi kontributor pendapatan paling utama. SICO mengklaim menjadi pemimpin pasar di bisnis ini. Menurut Nurjamil, pangsa pasar Sico mencapai 99,14%. 

Baca Juga: Sigma Energy Compressindo (SICO) Resmi Listing di BEI, Sahamnya Hampir Mentok ARA

Ke depan, SICO mengincar sejumlah proyek dengan beberapa perusahaan, seperti PT Pertamina Hulu Indonesia Zona 9 di Balikpapan, PT Pertagas Niaga, PT Chevron Indonesia dan PT Pertamina Hulu Energy TEJ di Tuban. 

Nurjamil mengatakan, saat ini Sinerco tengah menggarap proyek PT Pertamina Hulu Energi, PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi, PT Minarak Brantas dan PT Medco EP Indonesia. Hingga saat ini, SICO juga telah berkontribusi menangkap hingga 1.500 MMSCF gas suar bakar per tahun, dengan nilai US$ 12,5 juta. 

Menurut Nurjamil, prospek bisnis SICO ke depan masih sangat besar, mengingat potensi jumlah produksi gas suar (flare gas) di Indonesia. Apalagi pemerintah Indonesia telah berkomitmen dan ikut dalam perjanjian Paris yang menargetkan lingkungan kegiatan migas tanpa gas suar bakar pada tahun 2030. Ini tentu akan menjadi potensi besar bagi SICO. 

Nurjamil mengatakan, harga gas yang masih tinggi akibat ketatnya pasokan, ikut meningkatkan aktivitas pengeboran sumur minyak dan gas baru di Indonesia. Kondisi ini tentunya akan memberikan dampak positif terhadap bisnis SICO di bidang pendukung industri pengeboran minyak dan gas.

Baca Juga: Segera IPO, Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tawarkan Harga di Kisaran Rp 100-Rp 125

Nurjamil berharap, berbagai rencana tersebut bisa mendorong SICO mencapai target pendapatan di tahun ini, sebesar Rp 85,50 miliar. Jumlah ini meningkat 17% dari target tahun sebelumnya. Sementara laba bersih Sinerco diharapkan bisa mencapai Rp 12,6 miliar atau naik 38% dari target laba sebelumnya.

Mengutip laporan keuangan SICO per 30 September 2021, perusahaan ini mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp 6,84 miliar, atau tumbuh 8,91% secara year on year (yoy). Sementara pendapatan Sinerco mencapai Rp 55,04 miliar, naik dari periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar Rp 55,02 miliar. 

Kontribusi bisnis penyewaan mesin mini compressor Gas Jack hingga akhir September mencapai Rp 35,88 miliar. Kontribusi penjualan bahan bakar Rp 18,19 miliar. 

Sisanya adalah pendapatan lain-lain. "Persaingan perusahaan sejenis bukan merupakan hal bagi kami mengingat saat ini kami merupakan pemain utama di bidang penyewaan mesin compressor GasJack," ujar Nurjamil. 

Baca Juga: Ada 32 Calon Emiten Akan IPO, Potensi Nilai Penggalangan Dana Rp 29,13 Triliun

Hingga saat ini, SICO telah membawa masuk 50 unit mini gas kompresor dan berencana memiliki jenis kompresor lainnya. Karena itu, dengan dana IPO, pengembangan bisnis bisa lebih cepat.  

Saham SICO Terus Turun

Pergerakan harga saham PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) tak berjalan mulus dan cenderung melandai. Sejak tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) 8 April lalu, SICO hanya naik di hari pertama. Selanjutnya saham SICO cenderung turun. Harga SICO sejak melantai hingga Kamis (14/4) telah anjlok 15,65% jadi Rp 194 per saham. 

Saat penawaran umum, harga saham perdana SICO ditawarkan di Rp 230 per saham. Dus, perusahaan ini mampu meraih dana Rp 62,10 miliar. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa penyewaan alat-alat untuk monetasi minyak dan gas ini mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT Sigma Energy Utama sebanyak 63,30%.

Pemegang saham lain adalah Patricia Gitta Chandra yang menguasai sebanyak 7,03% saham. Sisanya sebanyak 29,67% merupakan porsi saham milik masyarakat, setara dengan 270 juta saham.      

Baca Juga: Ada Enam Calon Emiten yang Bakal Melantai di BEI, Simak Prospeknya

Bagikan

Berita Terbaru

Tertekan Sentimen Global dan Domestik, Rupiah Sepekan Terus Bergerak Lesu
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22 WIB

Tertekan Sentimen Global dan Domestik, Rupiah Sepekan Terus Bergerak Lesu

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,13% ke Rp 16.819 per dolar AS pada perdagangan, Jumat (9/1).

Presiden Direktur MARK Ridwan Goh Punya Kiat Membangun Portofolio Aset yang Solid
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:19 WIB

Presiden Direktur MARK Ridwan Goh Punya Kiat Membangun Portofolio Aset yang Solid

Bagi Ridwan Goh, investasi bukan cuma jalan pintas menuju kekayaan, tapi sebuah sarana untuk mengelola nilai secara disiplin dan terstruktur. 

Blibli (BELI) Memperkuat Strategi Omnichannel dan Infrastruktur Logistik
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:16 WIB

Blibli (BELI) Memperkuat Strategi Omnichannel dan Infrastruktur Logistik

Di tengah persaingan bisnis e-commerce yang ketat, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli terus memperkuat fondasi omnichannel 

Optimisme Akhir Tahun Menurun
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 09:59 WIB

Optimisme Akhir Tahun Menurun

IKK Desember 2025 berada di level 123,5. Indeks di atas 100 menunjukkan posisi optimistis           

Kabinet Makin Gemuk, Efek Ekonomi Tetap Tipis
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 09:48 WIB

Kabinet Makin Gemuk, Efek Ekonomi Tetap Tipis

Realisasi belanja K/L tahun 2025 mencapai Rp 1.500,4 triliun, setara 129,3% dari target             

Harga Jam Tangan Mewah Cetak Rekor, Jam Model Dress Watch Paling Diburu Kolektor
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Jam Tangan Mewah Cetak Rekor, Jam Model Dress Watch Paling Diburu Kolektor

Harga jam tangan mewah di pasar sekunder mencetak rekor tertinggi dalam dua tahun, didorong aksi gen Z memburu dress watch

Beban Fiskal
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:30 WIB

Beban Fiskal

Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) adalah jangkar perekonomian. Kesehatan keuangan negara cerminnya adalah kesehatan fiskal.

Bos Ponsel yang Terus Berdering
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:15 WIB

Bos Ponsel yang Terus Berdering

Menyusuri perjalanan karier Hasan Aula hingga menjabat Wakil Direktur Utama PT Erajaya Swasembada Tbk.

Konsumsi Listrik per Kapita Indonesia Melonjak
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 05:50 WIB

Konsumsi Listrik per Kapita Indonesia Melonjak

Konsumsi listrik per kapita Indonesia naik dari 1.411 kilowatt hour (kWh) pada 2024 menjadi 1.584 kWh pada 2025.

Optimalisasi Manajemen Risiko Suku Bunga
| Sabtu, 10 Januari 2026 | 05:37 WIB

Optimalisasi Manajemen Risiko Suku Bunga

Pengelolaan investasi berbasis kewajiban kini menjadi keharusan bagi industri pensiun dan asuransi yang menghadapi kewajiban jangka panjang.

INDEKS BERITA

Terpopuler