Strategi bank menjaga margin selama bunga acuan mekar

Rabu, 03 Oktober 2018 | 09:30 WIB
Strategi bank menjaga margin selama bunga acuan mekar
[]
Reporter: Sumber: Harian KONTAN | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  Bankir harus bekerja ekstra keras hingga tahun depan untuk mempertahankan net interest margin. Penyebabnya, beban bunga perbankan, terutama deposito, berpotensi mekar lagi. Di sisi lain, bank masih harus mengerem kenaikan bunga kredit mengingat kondisi ekonomi belum kondusif.

Sebagai gambaran, bunga acuan BI 7DRR rate naik 150 basis poin (bps) sepanjang tahun ini. Nah, secara rata-rata industri perbankan baru menyesuaikan ke kenaikan bunga deposito sebesar 39 bps sampai Agustus 2018 menjadi 6,2%.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Victoria Care Indonesia (VICI) Kaji Ulang Target Tahun Ini
| Senin, 18 Mei 2026 | 04:20 WIB

Victoria Care Indonesia (VICI) Kaji Ulang Target Tahun Ini

Sebagai gambaran, VICI sebelumnya membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada level single digit sepanjang tahun ini.

Asuransi Umum Andalkan Kontribusi Nasabah Lama
| Senin, 18 Mei 2026 | 04:15 WIB

Asuransi Umum Andalkan Kontribusi Nasabah Lama

Perusahaan asuransi umum kini semakin mengandalkan nasabah lama demi menjaga pertumbuhan bisnis dari lini asuransi properti.

Pelemahan Rupiah Usik Bisnis Properti
| Senin, 18 Mei 2026 | 04:10 WIB

Pelemahan Rupiah Usik Bisnis Properti

Perlambatan ekonomi menyebabkan marketing salesatau prapenjualan pengembang turun cukup dalam pada kuartal I-2026.

Harga Emas Terus Tertekan, Tren Berubah?
| Minggu, 17 Mei 2026 | 15:30 WIB

Harga Emas Terus Tertekan, Tren Berubah?

Selain faktor inflasi dan suku bunga, pasar juga mulai mencermati potensi pelemahan permintaan fisik emas global.

Saham Perbankan BBRI, BMRI, BBCA Banyak Dilepas Asing Meski Bertahan di MSCI
| Minggu, 17 Mei 2026 | 14:00 WIB

Saham Perbankan BBRI, BMRI, BBCA Banyak Dilepas Asing Meski Bertahan di MSCI

Meski aksi jual asing cukup besar, sejumlah investor institusi global juga masih melakukan akumulasi saham bank-bank besar nasional.

Lawan Arus, Enam Saham Bakrie Hiasi Top Leaders IHSG di Tengah Sentimen Negatif MSCI
| Minggu, 17 Mei 2026 | 12:15 WIB

Lawan Arus, Enam Saham Bakrie Hiasi Top Leaders IHSG di Tengah Sentimen Negatif MSCI

Kenaikan harga saham emiten Grup Bakrie mencerminkan rotasi trading jangka pendek di tengah tekanan besar pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Emiten Haji Isam Bertambah Jadi Empat: Simak Performa JARR, PGUN, TEBE, Hingga PACK
| Minggu, 17 Mei 2026 | 11:00 WIB

Emiten Haji Isam Bertambah Jadi Empat: Simak Performa JARR, PGUN, TEBE, Hingga PACK

PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) merupakan emiten milik Haji Isam yang sahamnya paling menguntungkan.

OASA Bentuk BMN dan Genjot PSEL Tangsel Rp 2,6 Triliun, Ini Rekomendasi Sahamnya
| Minggu, 17 Mei 2026 | 10:00 WIB

OASA Bentuk BMN dan Genjot PSEL Tangsel Rp 2,6 Triliun, Ini Rekomendasi Sahamnya

Di proyek Tangerang Selatan, OASA menggenggam 76% kepemilikan melalui Indoplas Tianying Energy, sementara 24% dikuasai oleh China Tianying Inc.

Jangan Ada Poco-Poco
| Minggu, 17 Mei 2026 | 06:10 WIB

Jangan Ada Poco-Poco

Negara berhak mengoptimalkan penerimaan sumber daya alam. Tapi, cara mengumumkan dan mengeksekusi kebijakan sama pentingnya dengan isi kebijakan.

Kuota Tambang Anjlok, Rencana Bisnis & Investasi Tambang Terancam Mandek
| Minggu, 17 Mei 2026 | 05:50 WIB

Kuota Tambang Anjlok, Rencana Bisnis & Investasi Tambang Terancam Mandek

Pemangkasan kuota produksi tambang mengguncang industri batubara dan nikel. Banyak perusahaan kehilangan lebih dari separuh kuota produksi. 

 
INDEKS BERITA