Strategi Manajer Investasi di Saat IHSG Terpuruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam dua tahun terakhir, tepatnya memasuki masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pasar keuangan dan investasi Indonesia memasuki masa baru serta menghadapi banyak pula kebijakan baru.
Sebut saja keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), kebijakan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI), sorotan berbagai lembaga peringkat asing terhadap transparansi pasar saham dalam negeri, hingga kritik dari pengamat internasional terhadap arah kebijakan yang diambil oleh pemerintah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang resmi berkinerja terburuk di dunia, selaras dengan pelemahan konsisten yang terjadi pada mata uang rupiah, mewarnai perjalanan pasar keuangan Indonesia dalam di bawah pemerintahan yang baru seumur jagung ini.
Di tengah kusut dan berlikunya performa pasar keuangan dalam dua tahun terakhir, para pihak yang menginvestasikan dananya pun turut mencari akal mencari instrumen yang aman.
Sebagaimana diketahui bersama, IHSG banyak mengalami jatuh bangun sepanjang tahun ini. IHSG bahkan melemah secara bulanan dari Januari-Juni 2026. Sejumlah sentimen buruk menerpa IHSG sepanjang tahun ini mulai dari peringatan dari MSCI, downgrade outlook lembaga rating, hingga persoalan fiskal. Kondisi ini membuat IHSG sempat babak belur hingga pernah jatuh 14% di Maret 2026.
Baca Juga: Rapor Juli Positif, Bisakah Reksadana Saham Cuan Tahun Ini?
Hingga Juni, IHSG bahkan belum mencetak kenaikan secara bulanan. Sepanjang semester I-2026, IHSG terkoreksi sekitar 34,74%, dengan penurunan sebesar 7,9% hanya pada Juni. Rekor ini menjadi yang terburuk dalam sejarah Indonesia, setidaknya sejak tahun 1990.
Di saat yang sama, beberapa laporan dari manajemen investasi membukukan kinerja negatif pula, mengikuti pelemahan IHSG. Tidak hanya nilai aset yang turun akibat koreksi harga saham, industri juga mulai menghadapi meningkatnya redemption dari investor.
Direktur Infovesta Wawan Hendrayana menyampaikan bahwa data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan net redemption Juni 2026 memang cukup besar, yakni sekitar Rp 23,7 triliun MtM, tapi secara year to date (YtD) masih relatif terkendali, yaitu hanya sekitar Rp 2,1 triliun. Artinya, sebagian besar penurunan NAB justru lebih banyak dipengaruhi oleh mark to market akibat koreksi IHSG yang dalam.
Walau begitu, keadaan tersebut tetap memaksa para manajer investasi mengubah cara mereka mengelola portofolio maupun menjaga kepercayaan investor. Strateginya bukan lagi semata mengejar return tertinggi, melainkan memastikan investor tetap bertahan melewati salah satu siklus pasar yang paling menantang.
Bagi industri manajemen investasi, redemption massal merupakan ancaman yang jauh lebih serius dibanding penurunan harga saham.
