Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:30 WIB
Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang
[ILUSTRASI. Barito Renewables Energy, BREN (DOK/Barito Renewables Energy)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar bursa karbon sempat menarik perhatian pasca Presiden Prabowo Subianto menyampaikan harapannya agar perdagangan karbon bisa memberikan manfaat ekonomi langsung bagi negara dan masyarakat.

Pada 14 Agustus 2026 lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa bursa karbon Indonesia telah mengadopsi standar karbon dunia. Ungkapan itu membawa dampak yang beragam pada beberapa emiten yang memiliki aset pembangkit energi terbarukan seperti PT Petamina Geothermal Energy Tbk (PGEO),  PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO).

Pada penutupan perdagangan Jumat (21/8) PGEO ditutup melemah 0,47% Ke Rp 1.065 melanjutkan koreksi seminggu yang sebesar 2,74% sedangkan sebulan menguat 6,50%. Adapun sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD), PGEO telah terkoreksi 5,33%.

Lalu BREN menguat 0,29% ke level Rp 3.460, sedangkan seminggu ini sudah terkoreksi 3,08%. Adapun sebulan menguat 2,98%%, belum bisa menopang pelemahan yang terjadi secara YtD sedalam 64,33%. 

Adapun KEEN tercetak masih berada di zona merah alias tertekan 1,14% ke Rp 870 pada Jumat (21/8), melanjutkan tren seminggu yang masih berada di zona merah terkoreksi 2,25%%. Adapun sebulan menguat 1,14% dan secara YtD melemah 13,86%.

Sementara ARKO ditutup menguat 1,94%ke Rp 5.250, sementara seminggu melemah 2,8% dan sebuan13,15%. Sepanjang tahun berjalan pun ARKO melemah 11,76%.

Baca Juga: Kinerja PGEO dan BREN Solid di Semester I, Prospek Emiten Panas Bumi Kian Menyala

Pengembangan pasar karbon juga dinilai bisa membuka keran pendapatan baru bagi perusahaan energi baru terbarukan melalui monetisasi kredit karbon.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Arman menuturkan bahwa pengembangan bursa karbon memang berpotensi menjadi katalis fundamental bagi emiten energi terbarukan (EBT) dalam jangka menengah, walau dampaknya belum bisa dilihat sebagai game changer di waktu dekat.

Dia berpendapat mekanisme perdagangan yang semakin matang serta penerapan standar internasional bisa membuka revenue stream tambahan dari penjualan carbon credit, di luar pendapatan konvensional dari penjualan listrik melalui power purchase agreement (PPA).

Walau begitu, dia berpendapat bahwa proses sertifikasi dan verifiksai proyek membutuhkan waktu sehingga kontribusi signifikan terhadap kinerja kemungkinan baru akan terlihat dalam satu hingga dua tahun mendatang, alias bukan langsung di sisa 2026.

"Potensi bursa karbon sebagai katalis fundamental memang meaningful, tetapi bukan game changer instan," ujar Abida belum lama ini kepada KONTAN.

Selanjutnya, bila membanding antara tiga emiten tersebut, Abida menilai, BREN dan PGEO menjadi dua emiten yang paling berpotensi memperoleh manfaat.

Hal ini dilihat Abida karena keduanya memiliki skala proyek panas bumi yang besar dan skala aset tersebut memungkinkan volume carbon credit yang dihasilkan lebih signifikan dibandingkan KEEN dan ARKO.

Dia menjelaskan bahwa panas bumi juga memiliki carbon avoidance yang terukur dan kredibel karena menggantikan pembangkit fosil secara langsung, menjadikannya kandidat kuat untuk sertifikasi karbon premium.

"KEEN dengan basis PLTA/PLTMH juga berpotensi diuntungkan namun skala volumenya lebih terbatas, sementara ARKO perlu dicermati lebih lanjut mengingat kinerja fundamentalnya yang masih tertekan di semester I-2026," imbuh Abida.

Pandangan serupa disampaikan Senior Investment Analyst Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta yang menilai PGEO merupakan salah satu beneficiary paling jelas dari berkembangnya ekosistem perdagangan karbon di Indonesia.

Pasalnya, PGEO bukan pemain baru dalam monetisasi kredit karbon. Perusahaan telah memiliki pengalaman melakukan monetisasi carbon credit sejak 2022 dan sejumlah proyeknya telah menggunakan standar seperti Clean Development Mechanism (CDM), Gold Standard, maupun Verified Carbon Standard (VCS).

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:30 WIB

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang

Analis mengingatkan perlu berhati-hati agar tidak menganggap seluruh nilai ekonomi dari bursa karbon akan otomatis masuk ke kantong emiten EBT.

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:00 WIB

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M

Pasar sedang berspekulasi tinggi terhadap JGLE seiring dengan adanya rencana rights issue sambil mengejar tren harga saham yang terbaca uptrend.

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:30 WIB

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?

Menurut analis, BRMS menarik karena ada kombinasi antara harga emas yang tinggi dan potensi peningkatan produksi emas di Poboya secara bertahap.

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026

Dalam laporannya, Stockbit menyebutkan konsensus Bloomberg memproyeksikan harga timah pada 2027 berada di US$ 44.750 per ton.

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:00 WIB

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?

Mengingat jumlah pemegang saham GOTO mencapai lebih dari 456 ribu, risiko panic selling begitu nyata ketika batas psikologis Rp 50 hilang.

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:17 WIB

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?

Peningkatan frekuensi dividen BBCA cukup efektif dalam menjaga minat investor, khususnya investor yang mengutamakan pendapatan tunai dari saham.

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:20 WIB

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat

Di balik humor girl math di media sosial, pembenaran atas belanja impulsif ternyata bisa berdampak panjang. Simak ulasannya!

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:00 WIB

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?

Sukuk Ritel seri SR025 menawarkan jaminan negara dan imbalan rutin di tengah ketidakpastian pasar. Simak pertimbangan sebelum berinvestasi!

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:34 WIB

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air

Di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan air yang berkelanjutan, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) menawarkan solusi pengola

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:31 WIB

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah

Persaingan bisnis taksi di layanan segmen menengah kini semakin masif. Siuapa yang dibidik dan seperti apa pasarnya? 

 
INDEKS BERITA

Terpopuler