Sudah Anjlok Lebih dari 10%, Ini Sebab Saham BUMN Ini Belum Terkena Auto Rejection

Kamis, 12 Maret 2020 | 11:21 WIB
Sudah Anjlok Lebih dari 10%, Ini Sebab Saham BUMN Ini Belum Terkena Auto Rejection
[ILUSTRASI. Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/3/2020).]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah pada perdagangan pagi ini, Kamis (12/3).

Di awal perdagangan hari ini, IHSG dibuka di posisi 5.040,96. Posisi tersebut lebih rendah dibanding posisi penutupan IHSG pada perdagangan kemarin di 5.154,1.

Tidak sedikit saham yang jatuh hingga lebih dari 10% pada awal perdagangan hari ini. Saham-saham emiten BUMN bahkan mengalami penurunan belasan persen. Meski begitu, saham-saham tersebut tidak mengalami penolakan otomatis alias auto rejection.

Seperti diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai 10 Maret 2020 memberlakukan perubahan batasan auto rejection bawah (ARB).

Berdasarkan aturan baru ini, Jakarta Automated Trading System (JATS) akan melakukan penolakan otomatis alias auto rejection jika harga penawaran jual atau permintaan beli yang dimasukkan ke JATS 10% di bawah acuan harga.

Baca Juga: Badai Menerjang Bursa Saham, OJK dan BEI Mengendorkan Aturan

Itu artinya, harga saham yang turun lebih dari 10% dibandingkan acuan harga akan mengalami penolakan otomatis alias auto rejection bawah (ARB).

Nah, jika diperhatikan, beberapa saham BUMN mengalami penurunan harga lebih dari 10% pada perdagangan pagi ini.

Saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), misalnya, sempat menyentuh harga Rp 1.145 per saham. Dibandingkan harga penutupan pada perdagangan kemarin, harga saham WIKA sempat anjlok hingga 18,21%.

Baca Juga: Pilih-pilih yang Murah, Ini Saham Anggota Indeks LQ45 dengan PER Rendah

Saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga sempat menyentuh harga Rp 650 per saham. Dibandingkan posisi penutupan perdagangan kemarin, harga saham WSKT pagi ini sempat anjlok hingga 15,58%.

Sementara saham PTPP pagi ini sempat berada di possi Rp 745 per saham. Dibandingkan penutupan perdagangan kemarin, harga saham PTPP tersebut terhitung anjlok 17,22%.

Baca Juga: Ratusan Triliun Nilai Saham BUMN Menguap

Tidak sedikit investor yang kebingungan karena saham-saham  yang jatuh lebih dari 10% tersebut tidak mengalami penolakan otomatis alias auto rejection sebagaimana aturan baru BEI.

Kebingungan ini wajar. Sebab, sebagian investor menggunakan harga penutupan perdagangan hari sebelumnya sebagai acuan harga dalam menghitung batasan auto rejection.

Baca Juga: Kinerja Bank Mandiri Penuh Tantangan, Ini Rekomendasi untuk Saham BMRI

Padahal, berdasarkan aturan BEI, acuan harga yang digunakan untuk pembatasan harga penawaran tertinggi atau terendah atas saham yang dimasukkan ke JATS ditentukan berdasarkan harga pembukaan (opening price) yang terbentuk pada sesi pra-pembukaan.

 Nah, jika harga pembukaan tidak terbentuk, barulah acuan harga menggunakan harga penutupan (closingp price) di pasar reguler pada hari bursa sebelumnya.

Cuma LQ45

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo, menegaskan, acuan harga dalam mekanisme auto rejection menggunakan harga pembukaan. "Jadi, saham yang ikut pre-opening bisa turun lebih banyak karena penurunan harga dihitung dari harga pembukaan, bukan dari harga penutupan kemarin," ujar Laksono.

Harga pembukaan terbentuk berdasarkan akumulasi jumlah penawaran jual dan permintaan beli terbanyak yang dapat dialokasikan oleh JATS pada harga tertentu pada periode pra-pembukaan.

Lalu, saham apa saja yang ikut dalam sesi pra-pembukaan? "Cuma saham anggota Indeks LQ45 saja," ujar Laksnono.

Baca Juga: IHSG Fluktuatif, Investor Agresif Bisa Menambah Porsi Saham

Jadi, saham yang bukan anggota LQ45, acuan harga dalam mekanisme auto rejection menggunakan harga penutupan perdagangan kemarin.

Itu sebabnya, meski harganya sudah anjlok lebih dari 10% dibanding penutupan perdagangan kemarin, saham-saham anggota LQ45 belum mengalami auto rejection. Saham WIKA, misalnya, sempat anjlok hingga 18,21% dibanding penutupan perdagangan sebelumnya namun tidak terkena auto rejection.

Baca Juga: IHSG Belum Pulih, Janji Buyback Jadi Bahan Spekulasi

Sebab, pada perdagangan pagi ini, saham WIKA dibuka di harga Rp 1.270 per saham. Dibandingkan harga pembukaan, harga terendah saham WIKA sebesar Rp 1.145 baru tercatat turun 9,8%.

Begitu pula dengan saham PTPP. Pagi ini, saham PTPP dibuka di harga Rp 820 per saham. Dibandingkan harga pembukaan, harga saham PTPP terendah pagi ini di posisi Rp 745 per saham baru tercatat turun 9,15%.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:30 WIB

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut

Persaingan bisnis rumah sakit semakin sengit sehingga akan memengaruhi ekspansi, khususnya ke kota-kota tier dua.

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:26 WIB

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus menggeber ekspansi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) miliknya.

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:06 WIB

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1

Saham bonus yang akan dibagikan PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor atau agio saham tahun buku 2024.

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:02 WIB

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)

Momentum Ramadan dinilai bakal menjadi salah satu katalis positif bagi emiten farmasi. Salah satunya PT Darya-Varia Laboratoria Tbk.​

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:56 WIB

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI

Proyek hilirisasi Danantara juga membuka peluang keterlibatan emiten pendukung, baik di sektor energi, logistik, maupun konstruksi.

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:48 WIB

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025

Segmen selular jadi kontributor utama pertumbuhan kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) di sepanjang tahun 2025.

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:33 WIB

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi

Pelaksanaan aturan ini tidak langsung, tapi ada waktu transisi. Ini penting agar pemilik dan pengendali punya waktu menyusun strategi 

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:11 WIB

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026

Sentimen positif bagi BMRI di tahun 2026 berasal dari fundamental yang solid dan efisiensi berkelanjutan.

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:57 WIB

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026

Penjualan periode Lebaran menyumbang hampir 30% dari total target penjualan tahunan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:43 WIB

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun

Indonesia perlu belajar dari India yang mengalami masalah serupa pada 2012 namun bisa bangkit dan berhasil merebut kembali kepercayaan investor.

INDEKS BERITA

Terpopuler