Sudah Naik Tinggi, Saham Erajaya (ERAA) Masih Bisa dikoleksi?

Jumat, 05 Juli 2019 | 05:20 WIB
Sudah Naik Tinggi, Saham Erajaya (ERAA) Masih Bisa dikoleksi?
[]
Reporter: Tedy Gumilar | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Animo pelaku pasar terhadap PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) tengah tinggi-tingginya. Saham ERAA yang sempat terpuruk lantaran kinerja keuangan kuartal I-2019 buruk, kini diselimuti angin segar.

Erajaya memulai fase uptrend sejak 20 Mei 2019 saat harga sahamnya merangkak naik dari posisi Rp 1.020 per saham. Hingga penutupan perdagangan 4 Juli 2019 harga sahamnya sudah meroket 104,9%. 

Ada dua sentimen utama yang menjadi bahan bakar penggerak saham ERAA. Pertama, rencana pemerintah memblokir ponsel ilegal menggunakan validasi International Mobile Equipment Identity (IMEI). Kedua, langkah Erajaya memboyong Juul, rokok elektrik yang tenar di Amerika Serikat (AS). 

Soal pemblokiran ponsel ilegal menjadi sentimen yang paling dominan bagi ERAA. Maklum, catatan Michael Setjoadi, analis RHB Sekuritas, barang ilegal menguasai 25% pangsa pasar ponsel di tanah air. Tahun lalu nilainya diperkirakan mencapai Rp 27 triliun.

Nahasnya, ponsel cerdas yang paling laris dijual secara ilegal diantaranya merupakan besutan Apple dan Xiaomi. Padahal, hak distribusi eksklusif keduanya dipegang Erajaya. "Mestinya ada potensi pertumbuhan penjualan 33% untuk produk yang dijual secara resmi," kata Michael dalam risetnya, 25 Juni 2019.

ERAA, anggota indeks Kompas100, menguasai pangsa pasar ponsel sebesar 35%. Selain Apple dan Xiaomi, emiten ini juga memasarkan produk Samsung, Oppo, Vivo, Huawei dan Nokia.

17 Agustus

Janu Suryanto, Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemperin) bilang, pemerintah akan mengeluarkan tiga rancangan peraturan menteri (RPM) terkait pemblokiran ponsel ilegal. Ketiganya adalah RPM menteri perindustrian, menteri perdagangan dan menteri komunikasi dan informatika. 

Saat ini ketiga RPM tersebut sedang diharmonisasi. "Rencana 17 Agustus ditandatangani oleh tiga menteri," kata Janu ke KONTAN, (4/7).

Veri Anggrijono, Direktur Jenderal Tertib Niaga dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan tidak merespons permintaan wawancara yang dilayangkan KONTAN.

Kemperin sudah memiliki Device Identification, Registration, and Blocking System (DIRBS) besutan Qualcomm Technologies, Inc. Ini merupakan platform perangkat lunak berbasis server yang bisa mengidentifikasi perangkat seluler yang dicuri, palsu dan ilegal.

Melalui pemindaian IMEI, DIRBS mengidentifikasi ponsel legal dan ilegal. Lalu, operator akan memblokir akses jaringan seluler ke perangkat tersebut. "Pakistan saja sudah, lho. Masak kita kalah," tandas Janu.

Pakistan, merujuk informasi resmi Qualcomm, merupakan negara pertama yang menggunakan DIRBS. Selain Indonesia, beberapa negara lain juga telah menyatakan minat untuk menggunakan sistem ini.

Ekspektasi tinggi

Sayangnya, ekspektasi pelaku pasar terhadap saham ERAA yang tercermin dari kenaikan harganya, mungkin sudah kelewat tinggi. Pasalnya, efek signifikan dari kedua sentimen ini ke kinerja keuangan ERAA, kemungkinan besar tidak akan langsung terasa.

Misalnya, soal Juul yang menjadi "mainan" baru Erajaya. Melongok laporan keuangan kuartal I-2019, kontribusi lini produk komputer dan peralatan elektronik lainnya hanya 3,65% dari total penjualan ERAA. Kemungkinan, di lini produk inilah Juul akan ditempatkan, bersama dengan Garmin, GoPro, dji dan produk lampu nirkabel Philips Hue.

Di sisi lain, pangsa pasar rokok elektrik juga terbatas, selama ini lebih banyak digunakan anak muda. Sementara, menggeser perokok tembakau menjadi pengguna rokok elektrik juga tidak semudah dibayangkan. Apalagi, liquid (cairan) rokok elektrik kini dikenai cukai sehingga harganya lebih mahal dari sebelumnya.

Faktor lain yang tidak kalah pentingnya, Erajaya sudah kalah start dalam memasarkan Juul di Indonesia. Para pedagang, terutama di jalur daring, jauh lebih dulu menjajakan Juul. Di Tokopedia misalnya, starter kit Juul yang diklaim asli, dijual dengan harga mulai dari sekitar Rp 448.000.

Nah, berbeda dengan ponsel, sejauh ini tidak ada platform seperti DIRBS yang bisa mengidentifikasi lalu memblokir Juul yang masuk tidak lewat jalur resmi. 

 

Kontributor Penjualan ERAA Kuartal I-2019*
Jenis Nilai Penjualan (Rp miliar) Kontribusi ke total penjualan
Ponsel dan tablet Rp 5,52 triliun 77,45%
Voucher elektronik Rp 767,29 miliar 10,77%
Aksesoris Rp 310,34 miliar 4,36%
Komputer dan peralatan elektronik lainnya Rp 260,11 miliar 3,65%
Starter packs Rp 667,79 miliar 0.95%
Voucher fisik Rp 108,31 miliar 1,52%
Suku cadang Rp 12,74 miliar 0,18%
Lain-lain Rp 79,86 miliar 1,12%
TOTAL Rp 7,12 triliun 100%
*pembulatan
sumber: LK kuartal I-2019 ERAA, diolah KONTAN

 

Tidak serta-merta

Soal pemblokiran ponsel ilegal, Janu belum memastikan apakah aturan yang tengah dirancang akan langsung berlaku efektif. Atau lebih dulu melalui periode sosialisasi dan persiapan hingga ke tingkat operator seluler.

Yang jelas, pemerintah tampak berhati-hati merilis kebijakan ini. Penelusuran KONTAN, pemblokiran ponsel ilegal sudah diwacanakan sejak dua tahun silam. Awalnya, beleid tersebut akan dirilis pada Desember 2018. Namun urung lantaran pemerintah tidak ingin aturan tersebut malah menuai banyak polemik seperti halnya regulasi registrasi nomor telepon seluler.

Belum lagi, urusan pemblokiran ponsel melibatkan banyak pihak. Pada tahap rancangan aturan, perlu waktu bagi berbagai instansi pemerintah untuk berembuk. Padahal, urusan koordinasi masih menjadi masalah klasik yang kerap dihadapi pemerintah.

Singkat cerita, kalaupun peraturan menterinya jadi diketok pada 17 Agustus 2019 mendatang, dampaknya tidak akan langsung dirasakan Erajaya. "Kemungkinan 100% implementasinya paling cepat baru tahun depan," kata William Siregar, analis BNI Sekuritas mengingatkan.

Sejalan dengan itu, investor dan trader juga perlu mengantisipasi kenaikan harga ERAA yang terlalu cepat. Biasanya, harga yang naik terlalu cepat, diikuti koreksi dengan laju yang lebih kurang serupa. Apalagi, sejauh ini katalis harga ERAA baru sebatas sentimen.

Ditambah lagi, secara valuasi harga saham ERAA sudah kelewat mahal. Data RTI menunjukkan, di harga Rp 2.090 per saham price to earning ratio (PER) ada di level 35,42x. Jauh di atas rata-rata PER Erajaya pada 2014-2018 yang sekitar 8,62x.

 

Perkembangan Valuasi Harga Saham ERAA
Tahun Harga (Rp/saham) EPS (Rp) PER (x)
2014 1.090 72,94 14,94
2015 545 77,94 6,99
2016 600 90,95 6,60
2017 735 117,05 6,28
2018 2.200 265,65 8,28
2019* 2.090 59 35,42
*Disetahunkan
sumber: riset KONTAN, diolah

 

Valuasi ERAA bisa menjadi lebih murah dari posisi saat ini, jika ke depan kinerja keuangannya membaik. Dengan demikian, tersedia pondasi yang lebih kuat bagi harga saham ERAA untuk terus menanjak naik.

Memang ada harapan kinerja ERAA pada kuartal kedua bakal membaik. Kata Michael, ini seiring penjualan pada masa lebaran yang biasanya positif. Juga didukung peluncuran produk anyar di pasar Indonesia, seperti Redmi Note 7, Huawei P30 dan Samsung S10.

Namun sejauh ini hampir semua, jika tidak ingin dikatakan tidak ada sama sekali, riset analis saham pasca rilis laporan keuangan kuartal I-2019 memproyeksikan penurunan laba bersih ERAA.

Ambil contoh Michael yang memproyeksikan laba bersih 2019 Erajaya di Rp 643 miliar, atau turun 24,35% ketimbang realisasi 2019. Proyeksi ini tidak memperhitungkan efek kebijakan pemblokiran ponsel ilegal.

Dus, estimasi laba bersih per saham (earning per share) pun ikut turun dari Rp 266 menjadi Rp 202. Walhasil, dengan target price (TP) Rp 2.000 per saham, PER 2019 ERAA ada di 8x.

Sementara William memperkirakan laba bersih ERAA turun 21,88% year on year (yoy) menjadi Rp 664 miliar. Hasilnya, target harga Rp 1.650 yang ia pasang mencerminkan PER 2019 di level 7,52x. "Secara bisnis kami masih optimistis. Sehingga ruang untuk upgrade TP masih ada," tukasnya. 

Kinerja ERAA yang jauh lebih baik berpotensi diukir tahun depan. Alasannya, ya itu tadi, jika aturannya jadi diberlakukan bulan depan pemblokiran ponsel ilegal baru berefek signifikan mulai 2020.

Lalu, baseline yang menjadi patokan kinerja pada 2020, baik penjualan maupun laba bersih tidak lagi terlalu tinggi. Pada 2018 pertumbuhan penjualan dan laba bersih ERAA masing-masing 43,39% dan 150,43%. Jauh di atas pertumbuhan penjualan dan laba bersih Erajaya pada tahun-tahun sebelumnya. 

Meski demikian, valuasi harga saham memang tidak selalu menjadi penentu naik-turunnya harga saham. Ekspektasi dan psikologis pelaku pasar acapkali memainkan peran yang dominan.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham
| Senin, 19 Oktober 2026 | 10:30 WIB

MSCI dan Perlunya Meninjau Ulang Resep Bursa Saham

Reformasi berhasil bukan karena aturan semakin banyak, tetapi karena pasar Indonesia semakin transparan, likuid, adil, dan dipercaya.       

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:19 WIB

IHSG Anjlok 40,04% YtD, Terburuk di Dunia, Asing Net Sell Rp 88 Triliun

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terburuk di antara bursa saham global yang diperbandingkan BEI sepanjang 2026.

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit
| Senin, 19 Oktober 2026 | 09:07 WIB

Tak Lagi Repot-Repot Urus Administrasi di Rumahsakit

Platform kesehatan kini tidak hanya menawarkan layanan janji temu dengan dokter, tapi juga mendampingi pasien di rumahsakit.

Kenaikan Suku Bunga Acuan Semakin Dekat
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:41 WIB

Kenaikan Suku Bunga Acuan Semakin Dekat

Gejolak pasar keuangan meningkatkan risiko perubahan arah kebijakan suku bunga acuan                

Mengawali Pekan, MSCI Masih Menghantui Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:34 WIB

Mengawali Pekan, MSCI Masih Menghantui Pasar, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pada Senin (19/10), volatilitas IHSG diprediksi masih cukup tinggi, meskipun peluang technical rebound tetap terbuka.

CNGR Incar 80% Saham GNI, PACK Berpotensi Kecipratan Sentimen Positif
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:29 WIB

CNGR Incar 80% Saham GNI, PACK Berpotensi Kecipratan Sentimen Positif

CNGR Advanced Material adalah pemilik PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) via PT Eco Energi Perkasa.

Dua Tahun Prabowo: Janji Ekonomi Tak Mampu Selamatkan IHSG dari Krisis Kepercayaan
| Senin, 19 Oktober 2026 | 08:05 WIB

Dua Tahun Prabowo: Janji Ekonomi Tak Mampu Selamatkan IHSG dari Krisis Kepercayaan

Koreksi IHSG yang lebih dalam dibandingkan sejumlah pasar lain menunjukkan adanya persoalan domestik yang turut membebani pasar.

Kelangkaan BBM dan Pemadaman Listrik Jadi Alarm Bagi Tata Kelola Energi Nasional
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:44 WIB

Kelangkaan BBM dan Pemadaman Listrik Jadi Alarm Bagi Tata Kelola Energi Nasional

Sejumlah pihak mendesak Presiden untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh agar blackout listrik dan kelangkaan BBM tidak terus berulang​

Menagih Janji Penegakan Hukum Pasar Modal di Tengah Ancaman Turun Kelas MSCI
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:39 WIB

Menagih Janji Penegakan Hukum Pasar Modal di Tengah Ancaman Turun Kelas MSCI

Dukungan terhadap pasar modal tidak cukup melalui pernyataan, tetapi harus terlihat dalam pelaksanaan reformasi dan kepastian regulasi.

ITMG Bentuk Anak Usaha di Bisnis Mineral, Investor Perlu Cermati Realisasi Eksekusi
| Senin, 19 Oktober 2026 | 07:27 WIB

ITMG Bentuk Anak Usaha di Bisnis Mineral, Investor Perlu Cermati Realisasi Eksekusi

Proyek tambang atau pengolahan mineral umumnya butuh waktu bertahun-tahun (eksplorasi, perizinan, konstruksi) sebelum menghasilkan arus kas.

INDEKS BERITA

Terpopuler