Tak Boleh Rebutan

Senin, 16 Februari 2026 | 06:10 WIB
Tak Boleh Rebutan
[ILUSTRASI. TAJUK - Hasbi Maulana (KONTAN/Indra Surya)]
Hasbi Maulana | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini bukan lagi sekadar kebijakan, melainkan mesin ekonomi raksasa yang mulai beroperasi penuh. Pemerintah secara de facto telah menjadi konsumen institusi terbesar di pasar pangan domestik. Di balik fakta ini muncul peringatan dini: risiko lonjakan harga jika tak diimbangi tambahan pasokan di seluruh lini bahan makanan kebutuhan dapur. 

Di sini letak titik rawan inflasi. Jika pemerintah hanya fokus pada produksi dan distribusi porsi namun membiarkan dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bergantung pada mekanisme pasar tradisional, rakyat banyak akan menanggung efek samping berupa kenaikan harga bahan pangan.

Kita patut mengapresiasi gerak cepat Kementerian Pertanian dan Danantara melakukan groundbreaking proyek ayam dan telur di berbagai daerah, serta ambisi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun ribuan desa nelayan. Namun, perlu diingat, menu MBG tidak hanya daging dan ikan. Dapur MBG juga butuh sayuran, buah, hingga bumbu dapur yang lengkap. 

Langkah perluasan produksi sumber bahan baku MBG harus diperluas secara masif ke sektor hortikultura. Tanpa tambahan sumber pasokan komoditas seperti bawang, cabai, dan sayuran hijau yang signifikan, juru belanja dapur-dapur SPPG akan terus bersaing memperebutkan stok bahan baku versus ibu rumah tangga dan pengusaha kuliner di pasar-pasar tradisional.

Bagi pedagang warung nasi, kenaikan harga bahan makanan sulit dialihkan ke konsumen. Mereka terjepit. Di satu sisi mereka tidak bisa menaikkan harga jual secara drastis karena memberatkan pembeli, di sisi lain modal belanja terus membengkak akibat kenaikan harga. Ini ironi yang harus dicegah. Jangan sampai program yang ingin menghapus stunting justru menciptakan "stunting ekonomi" bagi jutaan pelaku UMKM kuliner kita.

Keberhasilan MBG tidak boleh hanya diukur dari angka statistik distribusi makanan di sekolah. Tolok ukur tambahan yang tak kalah penting adalah stabilitas harga di meja makan masyarakat. Sinkronisasi pasokan harus mencakup seluruh spektrum isi piring. 

Hanya dengan memastikan pasokan baru bahan pangan untuk mengimbangi serapan ribuan dapur SPPG, pemerintah akan mampu menjamin: ompreng anak sekolah penuh terisi tanpa mengurangi isi piring masyarakat umum. Jangan biarkan niat baik MBG menjadi bumerang inflasi nasional.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup

Ketidakpastian hasil review MSCI serta transparansi tata kelola pasar modal menjadi faktor yang ikut mendorong arus net sell asingdari big caps.

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Investor tampaknya lebih banyak mem-pricing risiko persepsi, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan persoalan kelembagaan.

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR

Pembahasan mengenai perlakuan PPN dan PPh atas transaksi EGR telah dilakukan bersama Kementerian Keuangan

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?

Peningkatan investasi asing tidak serta-merta bertranslasi ke kenaikan harga saham emiten kawasan industri.

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:28 WIB

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun selama tiga bulan berturut-turut                            

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru

Destru Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo           

 Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:03 WIB

Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?

Sektor farmasi memiliki karakter defensif karena kebutuhan terhadap obat dan produk kesehatan bertahan di berbagai kondisi ekonomi.

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar

Ekspansi pengembangan produk yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap harus mampu menjawab kebutuhan investor

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:38 WIB

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%

Penjualan  PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencapai Rp 5,49 triliun, naik 34,6% year-on-year (yoy)

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia

OJK tengah melakukan finalisasi aturan demutualisasi, Danantara siap masuk menjadi pemegang saham BEI

INDEKS BERITA

Terpopuler