Tak Cukup Bunga

Jumat, 12 Juni 2026 | 06:10 WIB
Tak Cukup Bunga
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia akhirnya mengambil langkah spesial. Selasa lalu, BI secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%. Keputusan itu diambil dalam rapat mingguan, bukan dalam Rapat Dewan Gubernur bulanan. Padahal, belum lama, dalam RDG Mei, BI juga sudah menaikkan bunga acuan 50 basis poin. 

Langkah ini memberi pesan penting. BI, tampaknya, menyadari bahwa kekang yang selama ini dipasang pada imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN) justru menjadi bumerang bagi rupiah. Dengan menahan bunga acuan dan yield agar tidak naik terlalu tinggi, aset rupiah kehilangan daya tariknya. Investor surat utang memilih minggir karena risiko Indonesia meningkat, tetapi imbal hasil yang ditawarkan tidak cukup memberi kompensasi.

Setelah BI Rate naik, imbal hasil surat utang negara tenor 10 tahun bergerak ke kisaran 7%. Sementara, rupiah juga menguat tipis. 

Sejumlah ekonom, menilai BI perlu menaikkan bunga lagi ke kisaran 6% agar daya tarik aset rupiah lebih bersaing dengan aset berisiko serupa di negara lain. Namun, kenaikan bunga hanya solusi sementara. Ia belum menyembuhkan penyakit utamanya. Akar masalah rupiah adalah lunturnya kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Karena itu, pemerintah harus segera melengkapi obat sementara dari BI dengan perbaikan yang lebih fundamental. Yang paling utama adalah pengelolaan anggaran. Perubahan prioritas dan realokasi belanja mendesak dilakukan. Anggaran program besar seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih perlu segera dipangkas dan sebagian dialihkan ke pos yang lebih produktif, yang benar-benar memperkuat kapasitas produksi, ekspor, dan daya tahan ekonomi.

Subsidi harus dikelola lebih cermat agar tepat sasaran dan tidak terus membebani fiskal. Alokasi keuangan yang menjadi hak daerah, seperti Dana Bagi Hasil, juga perlu mendapat perhatian serius. Banyak daerah, kini, menghadapi tekanan kas yang berat. Jika dibiarkan, masalah fiskal daerah bisa ikut melemahkan denyut ekonomi nasional.

Pemerintah juga harus memperbaiki cara menyusun dan mengomunikasikan kebijakan. Tidak boleh lagi ada kebijakan dadakan yang mengguncang pasar, seperti rencana ekspor satu pintu untuk CPO, batubara, dan paduan besi. Kebijakan strategis harus disiapkan matang, diuji dampaknya, dikonsultasikan dengan pelaku usaha, lalu dikomunikasikan dengan jelas.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Alokasikan Capex Rp 12 Triliun, JSMR Memercepat Operasional Proyek Tol
| Kamis, 10 September 2026 | 08:47 WIB

Alokasikan Capex Rp 12 Triliun, JSMR Memercepat Operasional Proyek Tol

PT Jasa Marga Tbk (JSMR) siap merampungkan sejumlah ruas tol. Terkini, JSMR akan mengoperasionalkan ruas tol Jogja-Bawen seksi 6.

Harga Komoditas Terus Mendaki, Prospek Emiten Tembaga Semakin Cerah
| Kamis, 10 September 2026 | 08:39 WIB

Harga Komoditas Terus Mendaki, Prospek Emiten Tembaga Semakin Cerah

Prospek emiten tembaga di pengujung tahun 2026 semakin cerah. Hal ini seiring tren harga tembaga di pasar global yang masih terus mendaki. ​

Tiga Investor Baru Siap Bercokol di KEK Kendal
| Kamis, 10 September 2026 | 08:36 WIB

Tiga Investor Baru Siap Bercokol di KEK Kendal

Ketiganya adalah  Anhui Anli Materials Technology Co Ltd, Zhejiang Tongli Clothing Co Ltd serta PT Padimas Surya Makmur.

OJK Segera Terbitkan Aturan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
| Kamis, 10 September 2026 | 08:28 WIB

OJK Segera Terbitkan Aturan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis

OJK menargetkan, POJK BMKS bisa diterbitkan pada 17 September 2026. Ada dua Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) yang tengah disiapkan.​

Normalisasi Stok, Kinerja SIDO Baru Akan Pulih Tahun Depan
| Kamis, 10 September 2026 | 08:27 WIB

Normalisasi Stok, Kinerja SIDO Baru Akan Pulih Tahun Depan

SIDO sedang menjalani proses pemulihan kinerja keuangan usai terjadi normalisasi stok pada awal tahun 2026

Potensi Penguatan Terbatas
| Kamis, 10 September 2026 | 08:23 WIB

Potensi Penguatan Terbatas

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas pada perdagangan Kamis (10/9)

Akses Pendanaan Hijau untuk Proyek EBT Kencana Energi Terbuka, Simak Prospek KEEN
| Kamis, 10 September 2026 | 08:13 WIB

Akses Pendanaan Hijau untuk Proyek EBT Kencana Energi Terbuka, Simak Prospek KEEN

PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap cuaca yang bisa memengaruhi kinerja keuangannya.

Rasio Utang Pemerintah Lampaui 40% PDB di 2027
| Kamis, 10 September 2026 | 08:13 WIB

Rasio Utang Pemerintah Lampaui 40% PDB di 2027

Kemkeu menargetkan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 40,31%-40,64% pada 202

Bakal Akuisisi Perusahaan Migas, Saham PIPA Masih Menarik untuk Dikoleksi?
| Kamis, 10 September 2026 | 08:11 WIB

Bakal Akuisisi Perusahaan Migas, Saham PIPA Masih Menarik untuk Dikoleksi?

Aztech memiliki kontrak strategis dengan Pertamina dengan proyeksi pendapatan sekitar Rp 250 miliar per tahun dan margin EBITDA mencapai 60%.

Waspada Efek dari Rencana Menarik Dana Menganggur Pemda
| Kamis, 10 September 2026 | 08:06 WIB

Waspada Efek dari Rencana Menarik Dana Menganggur Pemda

Nilai dana yang mengendap pemda di perbankan daerah diproyeksi mencapai sekitar Rp 100 triliun      

INDEKS BERITA

Terpopuler