Berita Bisnis

Targetkan Menjadi Produsen Emas Terbesar ASEAN, ini Strategi Archi Indonesia (ARCI)

Jumat, 26 November 2021 | 11:06 WIB
Targetkan Menjadi Produsen Emas Terbesar ASEAN, ini Strategi Archi Indonesia (ARCI)

ILUSTRASI. Tambang emas Toka Tindung oleh PT Archi Indonesia di Minahasa, Sulawesi Utara.

Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono triatmojo

KONTAN.CO.ID - MANADO. Rencana besar telah disiapkan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) guna memaksimalkan kinerja perusahaan ke depan. Emiten produsen emas yang melantai di bursa efek pada Juni 2021 ini, membidik posisi teratas sebagai produsen emas tidak hanya di Indonesia, namun juga di Asia Tenggara.

Salah satu upaya yang sedang diupayakan oleh emiten milik Taipan Peter Sondakh ini adalah menjadikan perusahaan produsen emas terintegrasi. Tahun 2022, ARCI berniat membangun bisnis pemurnian (refinery) emas.

Guna mewujudkan cita-cita tersebut, ARCI telah mendirikan PT Elang Mulia Abadi Sempurna pada April 2019 silam. Perusahaan ini memiliki jenis usaha perdagangan dan pengolahan emas.

Pada perusahaan tersebut, ARCI memiliki porsi 51% saham. Adapun sisanya, dimiliki oleh PT Royal Raffles Capital, sebuah perusahaan yang menekuni bidang perhiasan (jewelry).

Baca Juga: Investor Mitratel (MTEL) Tak Sendiri, 36,59% Emiten Baru Harga Sahamnya di Bawah IPO

Selama ini, ARCI banyak menyerahkan proses pemurnian emasnya kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Pelajaran berharga saat Covid-19 melanda, kegiatan pemurnian emas ANTM mengalami keterbatasan dan berdampak pada ARCI.

ARCI lantas mencari alternatif proses pemurnian emasnya dengan menggandeng PT Bhumi Satu Inti. Perjanjian kerjasama pun ditandatangani anak usaha ARCI, PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN) dengan Bhumi Satu Inti pada 16 April 2020, untuk jangka waktu tiga tahun.

 

Bhumi Satu Inti akan membantu proses pemurnian dore bullion emas/perak milik MSM dan TTN hingga 15 April 2023 mendatang.

Sejalan dengan hal itu, ARCI melaksanakan study and assessment untuk pembangunan pabrik permurnian (refinery). Harapannya, feasibility study akan selesai di tahun 2022.

"Dari sana kami akan lihat, apakah feasible untuk kita jalankan (pabrik pemurnian) atau tetap bekerja sama dengan partner kita selama ini, yakni Antam dan BSI," terang Rudy Suhendra Deputy Chief Executive Officer PT Archi Indonesia Tbk, Kamis (25/11) malam.

Besar harapan Rudy pabrik pemurnian bisa berdiri. Sebab, hal ini akan menjadikan ARCI sebagai perusahaan emas terintegrasi. Hal tersebut akan menggenapi langkah ARCI memperbesar pangsa pasar, terutama menyasar kalangan milenial.

Bersama Royal Raffles Capital, ARCI mencoba memperkenalkan emas merah putih yang disebut sebagai produk emas dalam negeri. "Kami ingin mengedukasi masyarakat, khususnya kaum milenial, terhadap potensi investasi emas yang lebih modern," kata Rudy. 

Terbaru, ARCI baru saja meluncurkan produk emas bertema Justice League, kumpulan pahlawan super dari karya fiksi dari DC Comics. Harapannya, produk ARCI hasil kerjasama dengan Royal Raffles Capital tersebut bisa meningkatkan pangsa pasar emas perusahaan.

Jika pasar semakin membesar, tentu akan mendukung peningkatan produksi emas tahunan ARCI saat ini yang sebesar 200-220 kilo ons. Efek gulirnya tentu saja perlu penambahan kapasitas pabrik pengolahan dari angka 4 juta ton per tahun pada saat ini, menjadi 5 juta ton di tahun 2022 dan 8 juta ton per tahun di akhir tahun 2025 mendatang.

Baca Juga: Rajin Menambah Lahan, Mega Manunggal Property (MMLP) Belanjakan Dana Rp 500 Miliar

Bila pangsa pasar dan kapasitas pabrik pengolahan bertambah, otomatis akan mendorong penambahan jumlah produksi ARCI. Alhasil, target menjadi produsen emas terbesar di Asia Tenggara bukan hal mustahil.

Merujuk laporan CRU International Ltd pada tahun 2019, produsen emas terbesar di ASEAN masih dipegang oleh PT Agincourt Resources berjumlah 384 kilo ons. Sementara posisi kedua ditempati ARCI dengan jumlah 261 kilo ons, dan PT Merdeka Copper Gold di posisi ketiga sebanyak 223 kilo ons.

Sedangkan dari sisi jumlah cadangan, Martabe berdasarkan riset CRU masih menjadi tambang dengan dengan cadangan terbesar hingga 4,5 juta ons. Posisi kedua ditempati ARCI dengan jumlah cadangan cadangan 3,9 juta ons. Sedangkan di posisi ketiga ditempati tambang Masbate dengan jumlah cadangan 2,2 juta ons.

Rudy menyatakan dalam 5 tahun ke depan, jumlah cadangan emasnya akan meningkat menjadi 5,3 juta ons hingga 13 juta ons. Peningkatan jumlah cadangan emas ARCI tersebut ditopang tambahan cadangan dari area tambang di Koridor Barat.

Tidak tertutup kemungkinan juga, ARCI ke depan tidak berhenti dari eksplorasi open pit. Penambangan di bawah tanah juga akan dilaksanakan guna memaksimalkan produksi.

Rudy berharap, ARCI akan menjadi produsen emas terbesar di Asia Tenggara dengan sejumlah faktor di atas.

Harga saham

Terkait belanja modal atau capital expenditur (capex), Rudy menyatakan akan dibiayai dari kas internal perusahaan. Anggaran capex tahun 2022 ARCI sampai saat ini masih dalam tahap finalisasi.

Namun asal tahu saja, saban tahun ARCI menganggarkan capex sebesar US$ 70 juta-US$ 80 juta. Sebagai catatan, hingga September 2021 ARCI telah menghabiskan capex sebanyak US$ 103 juta.

Diperkirakan, ARCI masih akan menghabiskan tambahan dana capex sebesar US$ 10 juta-US$ 15 juta hingga akhir tahun. Penggunaan capex tahun 2021 hingga lebih dari US$ 100 juta tersebut, lantaran pembukaan area pit baru, yakni Alaskar.

Baca Juga: BPS Persiapkan Sensus Penduduk Ulang di 2022

Rudy menyatakan, sejumlah strategi bisnis ARCI bertujuan meningkatkan nilai fundamental perusahaan yang kemudian dapat terefleksikan pada harga saham ARCI.

Hingga penutupan perdagangan Kamis (25/11), harga saham ARCI berada di posisi Rp 580 per saham, lebih rendah dari harga initial public offering (IPO) di level Rp 750 per saham.

Dia yakin harga produk emas tahun 2022 tetap akan bullish. Untuk jangka panjang, dia tetap optimistis harga saham ARCI akan memberikan keuntungan bagi para pemegang saham.


Baca juga