Temukan Makin Banyak Saham Salah Harga, Lo Kheng Hong Beli 20 Saham Setiap Hari

Selasa, 20 Agustus 2019 | 10:55 WIB
Temukan Makin Banyak Saham Salah Harga, Lo Kheng Hong Beli 20 Saham Setiap Hari
[ILUSTRASI. Kiat Lo Kheng Hong memilih saham salah harga]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagi investor kawakan seperti Lo Kheng Hong, gejolak di bursa saham justru bisa menjadi berkah.

Sebab, Lo Kheng Hong mengatakan, fluktuasi bursa saham belakangan ini membuatnya menemukan semakin banyak saham salah harga.

"Ketemu lebih banyak," ujar Lo Kheng Hong.

Seperti kita tahu, pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini cukup fluktuatif.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (1/8), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertengger di posisi 6.286,66.

Jika dihitung dalam sebulan terakhir, IHSG sudah terkoreksi sebesar 2,63%.

Bulan lalu, Lo Kheng Hong menceritakan, memiliki daftar yang berisi sekitar 15 saham yang ia harus beli setiap hari.

Nah, jumlah saham di dalam daftar tersebut kini bertambah banyak seiring gejolak yang menerpa bursa saham.

Investor yang kerap dijuluki Warren Buffett Indonesia itu bilang, saat ini sedang membeli 20 saham yang salah harga.

Baca Juga: Enggak peduli perubahan konstituen indeks, Lo Kheng Hong punya daftar saham sendiri

Setiap hari, Lo Kheng Hong disiplin membeli 20 saham tersebut.

Anda tentu penasaran, saham apa saja yang Lo Kheng Hong beli saban hari itu.

Lo Kheng Hong bilang, 20 saham yang ia beli setiap hari berasal dari berbagai sektor.

Nah, di antara 20 saham itu, tidak ada saham perusahaan yang berasal dari sektor perbankan dan sektor barang konsumen.

Sebab, Lo Kheng Hong belum menemukan saham yang salah harga di kedua sektor tersebut.

Lo Kheng Hong mengaku, sebagian besar dari 20 saham yang ia beli setiap hari merupakan saham perusahaan di sektor komoditas.

Sayang, Lo Kheng Hong enggan membisikkan saham-saham apa saja yang ia beli setiap hari. .

Dia khawatir, jika ia menginformasikan saham apa saja yang ia beli, harga saham tersebut akan melonjak sehingga tidak bisa disebut saham salah harga lagi.

Yang Lo Kheng Hong maksud saham salah harga adalah saham yang harga pasarnya kemurahan alias jauh di bawah nilai wajarnya.

Mencari saham salah harga

Nah, sebetulnya, Anda juga bisa mencari sendiri saham salah harga.

Caranya dengan melihat valuasi saham tersebut.

Salah satu metode yang paling populer digunakan untuk menilai valuasi saham adalah dengan membandingkan antara harga saham dengan laba bersih per saham perusahaan.

Perbandingan ini dikenal dengan sebutan price to earning ratio (PER).

Semakin kecil PER sebuah saham, maka bisa dikatakan semakin murah valuasi harga saham emiten tersebut.

Biasanya, kebanyakan investor fundamental menggunakan patokan PER lebih kecil atau sama dengan 5 kali untuk memilih saham-saham murah.

Metode valuasi populer lainnya adalah dengan membandingkan harga saham dengan nilai bukunya atau price to book value ratio (PBV).

Nilai buku dihitung dengan membagi jumlah ekuitas dengan jumlah saham yang beredar.

Seperti PER, semakin kecil PBV, semakin murah pula valuasi saham tersebut.

Biasanya, investor menilai saham murah jika PBV-nya sama atau di bawah satu kali.

Baca Juga: Strategi Lo Kheng Hong Membeli Saham Salah Harga

Analis biasanya menggunakan metode PBV untuk menilai saham di sektor perbankan.

Namun, metode PBV ini juga bisa Anda gunakan saat menilai perusahaan yang tengah merugi sehingga PER-nya negatif.

Metode ini pula yang Lo Kheng Hong terapkan saat mengakumulasi saham PT Indika Energy Tbk (INDY).

Di akhir 2015, harga saham INDY jatuh ke posisi Rp 110 per saham akibat penurunan harga batubara yang membuat perusahaan merugi.

Dengan jumlah saham beredar sebanyak 5,21 miliar saham, nilai pasar saham INDY saat itu hanya sebesar Rp 573 miliar atau sekitar US$ 43 juta.

Padahal, Indika saat itu memiliki ekuitas senilai Rp 667 juta.

Artinya, harga saham INDY saat itu jauh di bawah nilai bukunya alias salah harga.

Metode serupa juga Lo Kheng Hong gunakan saat masuk ke saham PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), anak usaha Indika.

Lo Kheng Hong mulai membeli saham MBSS sejak awal 2016 saat harga sahamnya masih di kisaran Rp 220 per saham.

Salah satu alasannya adalah karena harga pasar saham MBSS jauh di bawah nilai bukunya.

Alasan lainnya adalah karena Indika membeli 51% saham MBSS pada 2011 di harga Rp 1.630 per saham.

Baca Juga: Ini alasan Lo Kheng Hong menambah 9,28 juta saham Mitrabahtera Segara (MBSS)

Pertanyaannya, bagaimana jika perusahaan merugi sementara ekuitasnya juga minus sehingga PBV-nya negatif?

Lo Kheng Hong pernah mengatakan, pemilihan saham salah harga tidak selalu hanya berdasarkan rasio PER dan PBV semata.

Investor yang tahun ini genap berusia 60 tahun itu mengatakan, penilaian saham murah atau mahal juga harus mempertimbangkan nilai wajar perusahaan tersebut.

Hal ini pernah Lo Kheng Hong praktikkan waktu menambah kepemilikan saham BUMI saat harganya Rp 50 per saham.

Saat itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami kerugian dan defisiensi modal  karena beban utang yang begitu besar ditambah harga batubara yang terus menurun.

Alhasil, pada periode pertengahan 2015 hingga pertengahan 2016, harga saham BUMI relatif anteng di posisi Rp 50 per saham.

Saat itulah, Lo Kheng Hong makin agresif menambah saham BUMI.

Pertimbangan Lo Kheng Hong waktu itu adalah cadangan batubara terbukti BUMI yang sebanyak 3 miliar ton.

Dengan asumsi harga rata-rata batubara periode 2015-2016 di kisaran US$ 40 per metrik ton, nilai cadangan batubara BUMI masih sebesar US$ 120 miliar.

Sementara, dengan harga saham BUMI di posisi Rp 50 per saham dan jumlah saham beredar saat itu sebanyak 36,6 miliar saham, nilai perusahaan BUMI saat itu hanya US$ 137 juta dengan asumsi kurs Rp 13.300 per dollar AS.

Baca Juga: Lo Kheng Hong meraup angpao besar dari BUMI

Enggak ada salahnya Anda yang juga mulai mencari saham-saham yang salah harga.

Bagi Lo Kheng Hong, pekerjaan seorang sleeping investor setiap hari adalah mencari perusahaan yang bagus dan murah.

Salah satu kiat Lo Kheng Hong mencari saham salah harga adalah dengan memilih perusahaan yang sektornya kurang bagus tapi memiliki prospek bagus.

Lo Kheng Hong menyarankan untuk memilih sektor komoditas. Sebab, saham di luar sektor komoditas sulit berubah menjadi bagus di kemudian hari.

Lo Kheng Hong yakin, saham salah harga itu suatu hari akan dibeli oleh investor saham dan fund manager di seluruh dunia. 

Sehingga, saham yang salah harga itu akan kembali ke harga wajarnya.

"Ini seperti yang dikatakan oleh pemenang hadiah Nobel Eugene Fama mengenai pasar efisien," ujar Lo Kheng Hong.

Tentu saja, kunci dari investasi ala Lo Kheng Hong adalah kesabaran.

Sebab, tak jarang butuh waktu lama agar saham yang salah harga menjadi naik sehingga harga pasarnya sesuai dengan nilai wajarnya.

"Beli dan simpan, menunggu dengan sabar, suatu pasti akan menjadi baik," ujar Lo Kheng Hong.

Jadi, silakan mulai mencari saham-saham salah harga versi Anda sendiri.

Baca Juga: Strategi Lo Kheng Hong Membeli Saham Salah Harga

Bagikan

Berita Terbaru

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam
| Selasa, 13 Januari 2026 | 10:00 WIB

Rekor Emas Dorong Saham Tambang Naik Tajam

Selain faktor moneter, lonjakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh eskalasi risiko geopolitik global, dari Venezuela kini bergeser ke Iran.

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30 WIB

Menakar Semarak Imlek, Ramadan, dan Lebaran 2026 Kala Konsumen Tengah Tertekan​

Ruang konsumsi barang non-esensial diprediksi kian terbatas dan pola belanja masyarakat cenderung menjadi lebih selektif.

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:04 WIB

Indikasi Kuat Belanja Masyarakat Awal Tahun Masih Tertahan

Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh melambat menjadi 4,4% secara tahunan  

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun
| Selasa, 13 Januari 2026 | 09:01 WIB

Tekanan Kas Negara di Awal Tahun

Kebutuhan belanja pemerintah di kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai Rp 700 triliun, namun penerimaan belum akan optimal

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:30 WIB

Skandal Pajak Menggerus Kepatuhan dan Penerimaan

Dalam jangka panjang, kasus korupsi pajak bakal menyeret rasio perpajakan Indonesia                 

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?
| Selasa, 13 Januari 2026 | 08:16 WIB

BUVA Volatil: Reli Lanjut atau Profit Taking?

Dengan kecenderungan uptrend yang mulai terbentuk, investor bisa menerapkan strategi buy on weakness saham BUVA yang dinilai masih relevan.

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:53 WIB

Saham Bakrie Non-Minerba Ikut Naik Panggung, Efek Euforia BUMI-BRMS & Narasi Sendiri

Meski ikut terimbas flash crash IHSG, hingga 12 Januari 2026 persentase kenaikan saham Bakrie non-minerba masih berkisar antara 15% hingga 83%.

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:39 WIB

Industri Kemasan Berharap dari Lebaran

Inaplas belum percaya diri dengan prospek industri plastik keseluruhan pada 2026, lantaran barang jadi asal China membanjiri pasar lokal.

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Laju Kendaraan Niaga Masih Terasa Berat

Sektor logistik hingga tambang masih jadi penopang terhadap penjualan kendaraan niaga pada tahun ini

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim
| Selasa, 13 Januari 2026 | 07:33 WIB

Menakar Kilau Dividen UNVR 2026 Pasca Divestasi Sariwangi dan Spin Off Bisnis Es Krim

Dividen PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diprediksi makin menarik usai spin off es krim dan lepas Sariwangi.

INDEKS BERITA

Terpopuler