Tercekik Hormuz

Rabu, 11 Maret 2026 | 03:02 WIB
Tercekik Hormuz
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang di Timur Tengah mengingatkan dunia pada satu titik yang menentukan denyut ekonomi global: Selat Hormuz. Selat ini menjadi jalur hampir 20% perdagangan minyak dunia. Ketika kawasan Teluk memanas dan lalu lintas tanker tersendat, dampaknya terasa sampai di Indonesia.
Bagi ekonomi kita, kemacetan Hormuz bukan sekadar isu geopolitik. Peristiwa ini menimbulkan guncangan energi dan bahan baku yang bisa merambat cepat ke berbagai sektor industri vital.

Indonesia masih menjadi importir besar minyak mentah, BBM, dan LPG. Ketika konflik mengerek harga minyak dan mengganggu pengiriman dari Timur Tengah, biaya impor energi melonjak. Bagi industri, ini berarti biaya produksi meningkat.

Petrokimia paling terpukul. Banyak bahan baku seperti nafta berasal dari kawasan Teluk. Ketika pasokan terganggu dan ongkos pengiriman naik, pabrik petrokimia menghadapi risiko margin tergerus dan penurunan utilisasi. Bahkan, ada yang telah mengumumkan keadaan kahar. 

Industri nikel dan hilirisasi logam juga terdampak. Di balik semarak nikel, ternyata, 75% pasokan sulfur berasal dari Timur Tengah. Gangguan logistik atau kenaikan harga bahan kimia pendukung ini dapat meningkatkan biaya produksi smelter.

Sektor pupuk pun terancam. Produksi pupuk global sangat bergantung pada gas dan bahan baku dari kawasan energi dunia. Jika pasokan terganggu, harga pupuk berpotensi naik dan menekan sektor pertanian domestik. Konon, para distributor mulai kesulitan memesan pupuk urea karena si produsen tak kunjung merilis price list terbaru. 

Logistik dan transportasi juga menghadapi tekanan. Risiko konflik membuat premi asuransi kapal dan tarif angkut melonjak. Ongkos distribusi barang menjadi lebih mahal dan industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor ikut terkena dampaknya.

Memang, ada sektor yang menangguk untung. Kenaikan harga energi global dapat memberi angin segar bagi ekspor batubara dan juga CPO. Namun, keuntungan ini tidak serta-merta menutupi dampak luas kenaikan biaya energi dan logistik.

Bagi Indonesia, kemacetan Hormuz adalah pengingat bahwa kekuatan industri nasional tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga oleh ketahanan energi dan rantai pasok. Selama ketergantungan pada energi impor masih tinggi, setiap gejolak di jalur minyak dunia akan selalu berpotensi menekan industri dalam negeri.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ancaman Defisit APBN: Rupiah Tertekan, Harga Minyak Membara
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:30 WIB

Ancaman Defisit APBN: Rupiah Tertekan, Harga Minyak Membara

Rupiah ditutup melemah pada Senin (9/3) di Rp16.949 per dolar AS. Sentimen global dan harga minyak picu tekanan. Simak proyeksi terbarunya

Ekspansi Bisa Memacu Kinerja TBS Energi Utama (TOBA) Kembali Perkasa Pada 2026
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:22 WIB

Ekspansi Bisa Memacu Kinerja TBS Energi Utama (TOBA) Kembali Perkasa Pada 2026

Tahun 2025 jadi momentum penting bagi PT TBS Energi Utama Tbk untuk memperkuat fondasi bisnis hijau. Upaya ini bisa mendongkrak kinerja di 2026.

Investor Wajib Tahu! Ini Pilihan Aset Aman Saat Gejolak Ekonomi
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:15 WIB

Investor Wajib Tahu! Ini Pilihan Aset Aman Saat Gejolak Ekonomi

Harga emas melonjak 16,58% sejak awal 2026. Konflik Timur Tengah picu kenaikan safe haven, lindungi aset Anda dari ketidakpastian global

Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Menguat pada Rabu (11/3)
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:15 WIB

Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Menguat pada Rabu (11/3)

Nilai tukar rupiah naik 0,51% ke Rp 16.863 per dolar AS hari ini. Komunikasi Trump-Putin jadi kunci. Simak prediksi besok!

Musim Pembagian Dividen Memacu Laju Indeks BUMN
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:11 WIB

Musim Pembagian Dividen Memacu Laju Indeks BUMN

Mayoritas indeks utama di Bursa Efek Indonesia tergerus di atas 2% sejak awal tahun 2026 (YtD). Namun, indeks BUMN20 hanya terkoreksi tipis 0,91%.

Kinerja ADRO, ADMR, AADI Tahun Lalu Merana: Bagaimana Proyeksi 2026?
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Kinerja ADRO, ADMR, AADI Tahun Lalu Merana: Bagaimana Proyeksi 2026?

Eluang perbaikan kinerja mereka tetap terbuka pada 2026, bergantung pada perkembangan harga komoditas batubara hingga agenda hilirisasi mineral.

Astra International: Strategi Mobil Hibrida Dongkrak Penjualan?
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Astra International: Strategi Mobil Hibrida Dongkrak Penjualan?

Laba bersih ASII di 2026 diperkirakan lebih rendah dari 2025. Analis beberkan penyebab utama dan rekomendasinya. 

Transisi Energi Global Dorong Harga Logam Industri, Siap-siap Lonjakan Baru
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Transisi Energi Global Dorong Harga Logam Industri, Siap-siap Lonjakan Baru

Harga aluminium, nikel, dan timah bergerak liar. Konflik Timur Tengah dan pasokan terbatas jadi pemicu utama. 

Pelayaran Nasional Ekalaya Purnamasari (ELPI) Incar Pendapatan Tumbuh hingga 30%
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Pelayaran Nasional Ekalaya Purnamasari (ELPI) Incar Pendapatan Tumbuh hingga 30%

Target tersebut meningkat dibandingkan capaian pendapatan pada 2025 yang berada di kisaran Rp 1 triliun hingga Rp 1,01 triliun.

Pompanisasi untuk Antisipasi El Nino
| Rabu, 11 Maret 2026 | 03:35 WIB

Pompanisasi untuk Antisipasi El Nino

Ancaman penurunan produksi pangan mengintai setelah BMKG memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia bakal masuk musim kemarau lebih awal.

INDEKS BERITA

Terpopuler