Tidak Ada Debat Lagi

Selasa, 03 Februari 2026 | 06:10 WIB
Tidak Ada Debat Lagi
[ILUSTRASI. TAJUK - SS kurniawan (KONTAN/Steve GA)]
S.S. Kurniawan | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sama seperti tahun lalu, pemerintah memastikan, tahun ini tidak memberi subsidi untuk pembelian sepeda motor listrik baru sebesar Rp 7 juta. Pertimbangannya, kondisi keuangan negara.

Efeknya, tanpa subsidi, penjualan motor listrik sepanjang tahun lalu anjlok. Mengacu data Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) Kementerian Perhubungan, penjualan motor listrik pada 2025 sebanyak 55.059 unit. Angka ini merosot 28,6% dibanding 2024 mencapai 77.078 unit.

Tapi, pencapaian penjualan tahun lalu tak lepas dari strategi produsen motor listrik yang tetap memberikan "subsidi" dari kantong mereka sendiri. Contoh, Polytron memberi diskon harga senilai subsidi dari pemerintah sebesar Rp 7 juta. Sampai akhir Januari tahun ini, Polytron masih memberi "subsidi".

Cuma, pertumbuhan permintaan motor listrik paling jelas terlihat dari segmen ride-hailing dan armada logistik secara business to business (B2B), yang mengandalkan efisiensi total cost of ownership (TCO). Seharusnya, permintaan dari masyarakat juga tinggi, lantaran pasarnya yang sangat besar.

Dan, tahun ini, pasar motor listrik di Indonesia bakal kedatangan pemain baru asal Vietnam, VinFast. Tentu, kalau VinFast benar-benar masuk ke Indonesia, bakal semakin meramaikan pasar motor listrik dalam negeri yang sudah riuh.

Subsidi memang menjadi daya tarik buat masyarakat membeli motor listrik. Tapi, ini hanya satu dari pertimbangan lainnya. Infrastruktur pendukung juga jadi pertimbangan. Beda seperti mobil listrik yang stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) ada di mana-mana, motor setrum, kan, tidak.

Kehadiran SPKLU fast charging menjadi sangat penting lantaran pengisian baterai motor listrik secara manual, seperti di rumah, membutuhkan waktu yang sangat lama, hingga berjam-jam. Tambah lagi, kapasitas baterai motor listrik tidak besar sehingga daya jelajahnya tidak jauh-jauh amat. Jadi, butuh sering-sering mengisi baterai.

Memang, SPKLU dan motor listrik seperti telur dan ayam, mana yang lebih dulu. Tapi, harus tidak ada debat lagi untuk mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan ini oleh masyarakat. Apalagi, sudah jelas, keberadaan motor listrik bisa memangkas emisi karbon.

Jadi, kalau pemerintah tidak mau lagi memberikan subsidi untuk pembelian motor listrik, mestinya bisa membangun SPKLU di titik-titik strategis. Dengan begitu, bisa menambah daya tarik masyarakat untuk membeli motor listrik.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:21 WIB

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027

Pemerintah mulai membuka periode pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan mineral dan batubara tahun 2027 

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:04 WIB

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan

 PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) menyambut mitra strategis yang akan mengakuisisi anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom). 

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:01 WIB

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026

PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) optimistis mencapai target pertumbuhan kinerja keuangan di sepanjang tahun ini dari ekspansi gerai Mitra10.

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:15 WIB

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%

Bali menunjukkan sumber pertumbuhan baru sudah muncul; yang dibutuhkan kini kecepatan, keberanian dan disiplin.

Fiskal Terjepit
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:05 WIB

Fiskal Terjepit

Tantangan APBN bukan memilih antara subsidi energi dan bansos, tapi memastikan keduanya berjalan efektif tanpa mengabaikan keberlanjutan fiskal.

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:01 WIB

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global

Risiko outflow membayangi emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi (HSC) yang masuk ke indeks global

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:56 WIB

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati

Di tengah pelemahan IHSG pada perdagangan Selasa (13/10), dana asing tercatat net buy sebesar Rp 570,4 miliar.  

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T

Jika Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) digunakan, akan diperoleh penghematan nilai subsidi sebesar Rp 28,54 triliun. 

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:25 WIB

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November

Sentimen global yang membaik belum tentu cukup untuk memicu reli IHSG secara berkelanjutan selama ketidakpastian terkait MSCI belum terjawab.

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis

Emiten dengan merek yang kuat, jaringan distribusi luas, dan efisiensi operasional lebih berpeluang menjaga kinerja fundamentalnya.

INDEKS BERITA

Terpopuler