Tingkat Pengembalian Aset Bermasalah Perbankan Meningkat

Kamis, 16 Mei 2019 | 10:46 WIB
Tingkat Pengembalian Aset Bermasalah Perbankan Meningkat
[]
Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan terus berupaya melakukan pemulihan kredit bermasalah yang dihapusbukukan (write off) guna menekan kerugian. Bank menargetkan rasio pengembalian kredit yang dihapusbukukan itu atau recovery rate-nya terus meningkat.

Pada kuartal I-2019, rata-rata sejumlah bank berhasil membukukan peningkatan recovery rate. Bank BNI misalnya mencatatkan, nilai write off sebesar Rp 1,5 triliun atau turun 18% dari Rp 1,84 triliun di kuartal pertama tahun 2018.

Pemulihan yang berhasil dilakukan bank berlogo angka 46 itu mencapai Rp 507 miliar atau dengan rasio 33,5%. Sedangkan di periode yang sama tahun lalu, recovery rate-nya hanya 24,3% atau sebesar Rp 449 miliar. Peningkatan rasio pengembalian dari kredit hapus buku itu sejalan dengan tindakan hukum yang telah diambil bersama dengan eksekusi jaminan.

Adapun Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga mencatat hal serupa. Meskipun hapus buku perseroan ini turun, pemulihannya justru meningkat. Bank pelat merah ini melakukan write off sebesar Rp 2,5 triliun atau turun 16,6% dari Rp 3 triliun di kuartal I-2018.

Adapun kredit yang berhasil dikembalikan mencapai Rp 1,4 triliun atau recovery rate-nya mencapai 54,3%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 39,8% atau sekitar Rp 1,2 triliun.

Bank Mandiri juga berhasil mencatatkan kenaikan recovery rate. Sepanjang kuartal I-2019, bank ini melakukan write off sebesar Rp 3,23 triliun atau turun 40% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 5,39 triliun. Recovery rate dari hapus buku itu mencapai Rp 1,07 triliun atau dengan rasio 33,1%. Sementara rasio recovery kuartal I tahun lalu hanya 17,7% atau sebesar Rp 957 miliar.

Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan, tahun ini Bank Mandiri menargetkan recovery rate sekitar Rp 5 triliun–Rp 6 triliun. "Target itu belum memasukkan potensi recovery rate dari kredit macet ke SNP Finance karena itu masih dalam proses di pengadilan," katanya kepada KONTAN.

Bagikan

Berita Terbaru

Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:11 WIB

Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit

Penguatan dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor musiman.                                                 

Cashback Bikin Kaget, Coretax Ubah Peta Pajak
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:09 WIB

Cashback Bikin Kaget, Coretax Ubah Peta Pajak

Coretax berlaku, warganet gelisah masih kurang bayar pajak gara-gara menerima cashback.                    

Bangkitnya Investasi Reksadana Syariah di Indonesia
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 09:33 WIB

Bangkitnya Investasi Reksadana Syariah di Indonesia

Reksadana syariah mengikuti prinsip Islam, yaitu menghindari riba gharar dan maysir dengan fokus pada aset halal seperti sukuk dan saham syariah. 

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:17 WIB

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

Pada 22 Januari 2026, Rama Indonesia berencana mengakuisisi 59,24% saham PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) dari modal disetor dan ditempatkan.

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:09 WIB

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal disetor dan paling sedikit saham yang beredar 7,5% dari modal disetor. ​

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:02 WIB

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), jadi salah satu penahan kinerja IHSG di sepanjang pekan ini. ​

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:53 WIB

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi

Kinerja saham masih loyo di awal tahun 2026, emiten teknologi dibayangi bubble kecerdasan buatan (AI)

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka

Kondisi geopolitik yang panas dingin membuat harga emas diprediksi bakal terus menanjak di tahun 2026.

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi

Ekonomi resiliensi diperlukan saat ini untuk bisa melindungi rakyat kebanyakan dari tekanan ekonomi.​

Menunggu Bunga Layu
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menunggu Bunga Layu

Otoritas perlu lebih galak memastikan efisiensi perbankan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk bunga kredit yang rendah.

INDEKS BERITA