Transparansi Whoosh

Jumat, 07 Agustus 2026 | 06:10 WIB
Transparansi Whoosh
[ILUSTRASI. TAJUK - Havid Febri (KONTAN/Steve GA)]
Havid Vebri | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah mengambil alih saham badan usaha milik negara di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) melalui Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan patut dibaca lebih dari penataan kepemilikan. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan langkah itu tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara langsung. Klaim ini menenangkan, tapi belum menjawab pertanyaan lebih mendasar: ke mana risiko finansial proyek itu akan dialihkan dan siapa yang menanggungnya jika kinerja KCIC yang mengelola Whoosh tak sesuai harapan? 

SMV memang memberi ruang fleksibilitas. Pemerintah dapat mengelola aset, pembiayaan, dan kewajiban melalui lembaga khusus tanpa mencatatkannya sebagai beban langsung APBN. Namun, pemisahan pencatatan tidak otomatis menghapus risiko. SMV tetap berada dalam ekosistem negara. Bila sumber dananya terkait aset publik, dukungan pemerintah, atau kewajiban yang pada akhirnya memerlukan intervensi negara, maka risikonya tetap memiliki dimensi fiskal.

Karena itu, perdebatan tidak boleh berhenti pada frasa "tidak membebani APBN". Pemerintah perlu membuka secara terang SMV yang akan ditunjuk, sumber dana yang digunakan, nilai transaksi, mekanisme pengalihan saham, serta proyeksi kewajiban setelah pengambilalihan. Penjelasan bahwa dana dua SMV "cukup" belum memadai tanpa ukuran yang dapat diuji publik.

Transparansi juga penting agar penggunaan SMV tidak menciptakan ruang abu-abu dalam pengawasan. Semakin banyak aset dan kewajiban publik dikelola di luar jalur APBN langsung, semakin besar kebutuhan akan pelaporan yang terbuka, audit yang kuat, dan pengawasan DPR.

Pemerintah perlu menjaga ruang fiskal. Tapi, menjaga APBN bukan hanya soal mengubah jalur pembiayaan atau memindahkan pengelolaan ke lembaga khusus. Yang lebih penting ialah memastikan risiko terukur, tata kelola jelas, dan kewajiban jangka panjang tak muncul sebagai kejutan di kemudian hari.

Pengambilalihan KCIC harus dinilai dari kemampuannya memperbaiki tata kelola dan membangun model pembiayaan yang sehat. Bukan semata dari keberhasilannya menghindari pencatatan sebagai beban langsung APBN. Tak lewat APBN bukan berarti tanpa risiko. Risiko yang dipindahkan tidak boleh disembunyikan. Ia harus tetap terlihat, dihitung, diawasi, dan dipertanggungjawabkan.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Pergerakan Rupiah Menanti Peninjauan Indeks
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 06:45 WIB

Pergerakan Rupiah Menanti Peninjauan Indeks

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot ditutup menguat  0,06% menjadi Rp 17.923 per dolar Amerika Serikat (AS). 

AUM ETF Emas Bisa Tembus Rp 3 Triliun
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 06:15 WIB

AUM ETF Emas Bisa Tembus Rp 3 Triliun

Jika tak ada aral melintang, produk Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas akan resmi meluncur pada 10 Agustus 2026

Transparansi Whoosh
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 06:10 WIB

Transparansi Whoosh

Pengambilalihan KCIC harus dinilai dari kemampuannya memperbaiki tata kelola dan membangun model pembiayaan yang sehat.

Kinerja UNTR Tertekan Kebijakan dan Penurunan Produksi
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 06:00 WIB

Kinerja UNTR Tertekan Kebijakan dan Penurunan Produksi

Perbaikan kinerja PT United Tractors Tbk (UNTR) bergantung pada persetujuan kuota RKAB serta operasional tambang Martabe

Kredit Investasi Pimpin Pertumbuhan Kredit
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 06:00 WIB

Kredit Investasi Pimpin Pertumbuhan Kredit

Menilik kinerja penyaluran kredit investasi perbankan sepanjang paruh pertama 2026.                      

Benahi Bisnis, Laba Asuransi Jiwa Kian Tebal
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45 WIB

Benahi Bisnis, Laba Asuransi Jiwa Kian Tebal

Laba bersih asuransi jiwa konvensional melompat 75,36% secara tahunan menjadi Rp 13,24 triliun pada semester I-2026. 

Industri Alas Kaki Tumbuh Dua Digit
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:40 WIB

Industri Alas Kaki Tumbuh Dua Digit

Pencapaian itu menjadi sinyal kuat bahwa permintaan, aktivitas produksi dan daya saing industri alas kaki nasional terus menguat.

OKAS Raih Kontrak Jangka Panjang Senilai US$ 60 Juta
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:33 WIB

OKAS Raih Kontrak Jangka Panjang Senilai US$ 60 Juta

Kontrak dengan nilai sekitar US$ 60 juta untuk mendukung operasi tambang batubara di Kalimantan Timur. ​

Bank Andalkan Wealth Management Dongkrak Pendapatan Berbasis Komisi
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:30 WIB

Bank Andalkan Wealth Management Dongkrak Pendapatan Berbasis Komisi

Pertumbuhan dana kelolaan atau asset under management (AUM) menjadi salah satu sumber penguatan pendapatan berbasis komisi (fee based income)

Konversi Utang Rp 4,35 Triliun, UNSP Menggelar Private Placement
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:29 WIB

Konversi Utang Rp 4,35 Triliun, UNSP Menggelar Private Placement

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menerbitkan sebanyak 145 miliar saham baru Seri B atau setara 580,17% dari modal ditempatkan dan disetor

INDEKS BERITA

Terpopuler