Utang Berkurang, Wijaya Karya (WIKA) Lebih Ringan

Rabu, 17 November 2021 | 04:25 WIB
Utang Berkurang, Wijaya Karya (WIKA) Lebih Ringan
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan kenaikan kontrak baru hingga kuartal III-2021. Per akhir September 2021, emiten konstruksi pelat merah ini meraih kontrak baru Rp 13,16 triliun, naik 92,4% dari realisasi kuartal III-2020 Rp 6,84 triliun. 

Analis Panin Sekuritas Restu Pamungkas mengatakan, realisasi tersebut baru memenuhi 37,6% dari target kontrak baru pada tahun ini. Alhasil, WIKA mengubah target kontrak baru tahun ini jadi Rp 35 triliun, dari Rp 40,1 triliun. 

"Perolehan kontrak baru tahun ini melambat karena tender proyek baru sangat bergantung pada capital expenditure (capex) dari project owner," kata Restu dalam riset 2 November 2021. Saat pandemi, pemilik proyek banyak yang terdampak sehingga harus mengevaluasi pencairan belanja modal.

Baca Juga: Kontrak baru meningkat, cermati rekomendasi saham Wijaya Karya (WIKA)

Analis Samuel Sekuritas Andreas Kristo menyatakan, angka target WIKA mempertimbangkan nilai tender yang dirilis pemerintah Rp 24 triliun. Dia bilang, saat ini tender yang diikuti WIKA antara lain proyek jalan tol, smelter, gedung, bendungan dan irigasi. 

"Katalis positif lain juga datang dari penerimaan pembayaran tender WIKA senilai Rp 4 triliun. Perolehan tersebut dari proyek kereta cepat, terminal Kijing, dan jalan tol Kunciran-Cengkareng," kata Andreas. Tahun depan, WIKA berpotensi mencatatkan perbaikan kinerja.

Ada beberapa proyek infrastruktur yang dikantongi WIKA tahun depan. Andreas memproyeksikan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) kontrak baru WIKA 23,3% hingga tahun 2023.

Adapun tantangan WIKA terletak pada arus kas. Salah satu potensi gangguan arus adalah proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Pendanaan proyek ini bersumber dari pinjaman China Development Bank (CDB) 75% dan ekuitas 25% dengan total nilai investasi US$ 6,1 miliar. Konsorsium Indonesia mendapat kewajiban pemenuhan ekuitas US$ 911 juta, dan China US$ 607 juta.

Konsorsium itu bernama Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), dan WIKA mengapit porsi mayoritas 38%. Setoran WIKA ke PSBI sudah berjumlah US$ 324 juta atau 93,7% dari total investasi. Sebagai catatan, setoran dana investasi ke ekuitas PSBI, hingga kini mencapai 66,3%.

Baca Juga: Kontrak baru masih jauh dari target, analis masih rekomendasikan beli saham WIKA

Hal itu mengakibatkan pencairan dana dari CDB tertahan, yakni baru 75% dari yang harus dikeluarkan. "Kami melihat, base equity belum bisa dipenuhi, hal ini akan mengganggu arus kas WIKA ke depan," ujar Restu.

Terbaru, pemerintah akan menyalurkan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk membayar sisa dana ekuitas PSBI yang belum terpenuhi, lewat PT Kereta Api Indonesia (KAI). Menurut Restu, hal itu bakal mendilusi porsi kepemilikan WIKA sebagai pemegang saham mayoritas KCIC di PSBI. Dampaknya, porsi investment return lebih rendah. "Dalam jangka panjang, WIKA membuka ruang divestasi proyek KCIC," jelas Restu. 

Analis UOB Kay Hian Sekuritas Selvi Ocktaviani dalam riset 17 September menyebut, WIKA punya balance sheet solid. Apalagi, WIKA menargetkan profil utang sehat dari saat ini 60% utang jangka pendek dan 40% utang jangka panjang menjadi 35% utang jangka pendek dan 65% utang jangka panjang per tahun di tahun 2021. 

Menurut Selvi, WIKA akan merilis obligasi Rp 2 triliun. "Kami memproyeksikan gross gearing WIKA pada akhir 2021 1,5 kali," kata Selvi.

Tahun ini, Selvi memproyeksikan pendapatan WIKA Rp 18,18 triliun dan laba bersih Rp 419 miliar. Tahun 2022, pendapatan WIKA diprediksikan  sekitar Rp 24,16 triliun dan laba bersih Rp 796 miliar.

Andreas merekomendasikan beli saham WIKA dengan target Rp 1.440. Sedangkan Selvi dan Restu menyarankan beli WIKA dengan target Rp 1.400 dan Rp 1.500 per saham. 

Baca Juga: Anak usaha Wijaya Karya (WIKA) gencar memproduksi sepeda motor listrik Gesits

 

Bagikan

Berita Terbaru

Kinerja Saham IPO 2025: COIN, RATU, CDIA Melesat, Dua Calon Emiten Mengantre
| Sabtu, 29 November 2025 | 19:56 WIB

Kinerja Saham IPO 2025: COIN, RATU, CDIA Melesat, Dua Calon Emiten Mengantre

Pelajari saham-saham IPO BEI 2025 yang menguat signifikan seperti COIN (3.470%) dan RATU. Intip potensi RLCO dan Super Bank (SUPA).

Kisah Antonius Auwyang: Membangun Jembatan Emas Produk Indonesia di Australia
| Sabtu, 29 November 2025 | 16:50 WIB

Kisah Antonius Auwyang: Membangun Jembatan Emas Produk Indonesia di Australia

Tity Antonius Auwyang, insinyur sipil, sukses membangun Sony Trading Australia, mendistribusikan ribuan produk Indonesia ke pasar Australia.

Tips Investasi Ala Direktur OCBC The Ka Jit: Jangan Tergoda Ambil Untung Cepat
| Sabtu, 29 November 2025 | 14:36 WIB

Tips Investasi Ala Direktur OCBC The Ka Jit: Jangan Tergoda Ambil Untung Cepat

Mengintip strategi investasi dan portofolio pribadi Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), The Ka Jit

Astra Graphia (ASGR) Mengincar Peluang Bisnis Solusi Teknologi
| Sabtu, 29 November 2025 | 14:25 WIB

Astra Graphia (ASGR) Mengincar Peluang Bisnis Solusi Teknologi

Mengupas rencana bisnis PT Astra Graphia Tbk (ASGR) yang tengah memperkuat bisnis solusi teknologi lewat anak usahanya

Fiskal Ngegas, Menkeu Minta Moneter Longgar
| Sabtu, 29 November 2025 | 09:02 WIB

Fiskal Ngegas, Menkeu Minta Moneter Longgar

Menteri Keuangan menilai fiskal masih menjadi pendorong utama ekonomi dan meminta bank sentral melonggarkan moneternya

Reformasi Bea Cukai demi Menutup Kebocoran Ratusan Triliun Rupiah
| Sabtu, 29 November 2025 | 08:51 WIB

Reformasi Bea Cukai demi Menutup Kebocoran Ratusan Triliun Rupiah

Maraknya praktik underinvoicing dalam ekspor-impor mengindikasikan bahwa ukuran shadow economy di Indonesia masih besar

Menyemai Inovasi di Setiap Kebijakan
| Sabtu, 29 November 2025 | 07:05 WIB

Menyemai Inovasi di Setiap Kebijakan

Indonesia ternyata kekurangan terkait strategi pengembangan kebijakan yang berbasis pada dampak yang dihasilkan.​

Aroma Neo Orde Baru
| Sabtu, 29 November 2025 | 07:05 WIB

Aroma Neo Orde Baru

Menyerahkan kembali fungsi pemeriksaan kepada entitas asing merupakan bentuk pertaruhan kedaulatan yang nekat.

IHSG Sepekan Menguat 1,12% di Akhir November, Saham-Saham Ini Naik Paling Tinggi
| Sabtu, 29 November 2025 | 06:10 WIB

IHSG Sepekan Menguat 1,12% di Akhir November, Saham-Saham Ini Naik Paling Tinggi

Pada periode 24-28 November 2025, IHSG mengakumulasi kenaikan 1,12%. IHSG ditutup pada 8.508,71 pada perdagangan terakhir, Jumat (28/11). 

Target Kontrak Baru Wijaya Karya Gedung (WEGE) Rp 3 Triliun di Tahun 2026
| Sabtu, 29 November 2025 | 05:25 WIB

Target Kontrak Baru Wijaya Karya Gedung (WEGE) Rp 3 Triliun di Tahun 2026

WEGE mulai menerapkan pendekatan bisnis dengan menggandeng mitra strategis untuk menggarap sebuah proyek baru.

INDEKS BERITA

Terpopuler