Wake Up Call: Pelaku Pasar Indonesia Mengalami Efek Disposisi

Senin, 08 Agustus 2022 | 11:13 WIB
Wake Up Call: Pelaku Pasar Indonesia Mengalami Efek Disposisi
[ILUSTRASI. Hans Kwee, Direktur Ekuator Swarna Investama, Dosen Magister Universitas Atma Jaya dan Trisakti]
Hans Kwee | Direktur Ekuator Swarna Investama, Dosen Magister Universitas Atma Jaya dan Trisakti

KONTAN.CO.ID - Selama pandemi Covid-19 pasar saham Indonesia menghadapi fenomena naiknya jumlah investor ritel. Investor baru ini banyak yang berinvestasi dengan cara ikut-ikutan. Mitchell (2018) menuliskan, perilaku seperti ini menyebabkan sebagian besar investor di pasar saham merugi.

Salah satu faktor yang menyebakan pelaku pasar rugi adalah takut kehilangan keuntungan yang sudah didapat. Efek ini dikenal sebagai efek disposisi, di mana pelaku pasar cenderung menjual saham untung lebih cepat dan menahan saham rugi lebih lama.

Penelitian yang dilakukan penulis dari tahun 2012 sampai tahun 2017 menemukan fenomena efek disposisi pada pelaku pasar Indonesia. Dengan menggunakan metode Odean (1998), penulis menemukan rasio proportion of gains realized (PGR) lebih besar dibanding proportion of losses realized (PLR). Dalam hitungan hari ditemukan rata-rata pelaku pasar yang diteliti memegang saham untung sekitar tujuh hari sedangkan saham rugi ditahan hampir 15 hari.

Bila pelaku pasar konsisten mengalami efek disposisi, lama-lama pelaku pasar tersebut akan kehabisan modal dan menahan banyak saham rugi dalam portofolio. Ketika saham untung cepat dijual, pelaku pasar kehilangan potensi mendapatkan keuntungan maksimal. Sedangkan saham rugi yang ditahan menyebabkan pelaku pasar kehilangan dana untuk investasi kembali.

Fenomena pelaku pasar mengalami disposisi efek dapat dijelaskan dengan teori prospek yang dikemukakan Kahneman & Tversky pada tahun 1979. Fungsi utilitas pelaku pasar individual sebenarnya membentuk huruf S. Harga beli merupakan titik referensi untuk mengambil keputusan membeli unit tambahan dan atau menjual saham.

Baca Juga: Wake Up Call: Inflasi Meredam Optimisme Investor

Ketika sudah memiliki sebuah posisi terbuka di pasar, pelaku pasar tersebut tidak benar-benar memperhatikan support dan resistance yang dilakukan anlis teknikal analis dalam membuat keputusan. Pelaku pasar akan memperhatikan keuntungan dan kerugian yang dialami, dengan menggunakan harga pembelian sebagai titik referensi.

Selain itu secara umum orang akan merasa lebih sakit ketika mengalami kerugian dibandingkan ketika mendapat untung. Rasa sakit yang dirasakan ketika harga turun 10% dari harga pembelian lebih terasa dibandingkan kesenangan yang didapatkan ketika harga naik 10% dari harga pembelian.

Perbedaan rasa sakit akibat kerugian dan kesenangan atau kepuasan akibat keuntungan membuat pelaku pasar mengalami efek disposisi. Ketika sudah mendapatkan keuntungan, pelaku pasar ingin cepat mengunci keuntungan tersebut dengan melakukan profit taking. Ini untuk menghindari potensi kerugian yang mungkin terjadi bila harga saham berbalik arah dan mengalami penurunan.

Selain itu, fungsi nilai S dari fungsi utilitas pelaku pasar juga berbeda ketika mengalami keuntungan dan kerugian. Ketika mengalami keuntungan, fungsi S menjadi cembung (concave) dan ketika mengalami kerugian fungsi S menjadi cekung (convex). Ini menyebabkan tambahan kepuasan pelaku pasar ketika mengalami keuntungan berkurang.

Ketika selesai membeli sebuah saham dan pelaku pasar tersebut mengalami keuntungan, rasa puas di keuntungan 5% pertama lebih besar dibandingkan tambahan keuntungan 5% berikutnya. Artinya ketika untung 5% pelaku pasar akan sangat senang dan ketika keuntungan menjadi 10% kesenangan pelaku pasar meningkat, tetapi tambahan kesenangannya menurun.

Ini sama dengan teori the law of diminishing marginal utility dalam ilmu ekonomi. Inilah yang membuat pelaku pasar lebih cepat mengambil keuntungan dan enggan menahan saham untung.

Baca Juga: Wake Up Call: Ketika Kode Broker dan Domisili Investor Tidak Lagi Ada

Begitu pula, ketika seorang pelaku pasar membeli saham kemudian mengalami kerugian maka tambahan rasa sakit menurun. Ini karena fungsi S pada kerugian yang cekung (convex). Rasa sakit di awal ketika mengalami kerugian pada satu saham lebih besar, sesudah itu tambahan rasa sakit akibat kerugian yang membesar jadi lebih kecil. Inilah yang menyebakan pelaku pasar berani menahan saham rugi lebih lama.

Fenomena efek disposisi juga dapat dijelaskan dengan mental akuntansi yang dikemukakan Thaler (1985). Seperti proses akuntansi yang melakukan jurnal pada akun yang berbeda-beda, pelaku pasar juga membagi setiap saham dalam akun-akun berbeda. Evaluasi keuntungan dan kerugian tidak dilakukan secara keseluruhan atau terhadap portofolio, tetapi terhadap masing-masing saham.

Setiap saham dihitung untung dan ruginya lalu setiap keputusan dibuat berdasarkan keuntungan dan kerugian tersebut. Kepercayaan pelaku pasar bahwa kerugian bila belum di realisasikan adalah paper loss juga menyebabkan efek disposisi. Rugi dianggap belum nyata sebelum direalisasikan.

Faktor psikologi juga berpengaruh terhadap keputusan pelaku pasar. Orang cenderung tidak mau mengakui kesalahanya dan mencari alasan atau kambing hitam. Ketika menjual saham rugi atau melakukan cut loss, seolah-olah pelaku pasar tersebut sudah mengakui kesalahannya, di mana keputusan membeli di awal adalah salah. Tetapi bila saham rugi tersebut ditahan, ada peluang harga berbalik arah, sehingga bisa mengurangi kerugian.

Faktor psikologi lain yang menyebabkan seorang pelaku pasar mengalami efek diposisi adalah penghindaran penyesalan (regret avoidance). Regret avoidance mempengaruhi keputusan penjualan saham rugi seorang pelaku pasar.

Saham rugi ketika dijual sangat mungkin menimbulkan penyesalan bila di kemudian hari harga saham tersebut mengalami kenaikan kembali. Untuk menghindari rasa penyesalan ini, pelaku pasar memilih untuk menahan saham rugi tersebut agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari.

Fenomena efek disposisi sebenarnya terjadi di seluruh dunia. Efek disposisi dipercaya adalah salah satu bias perilaku keuangan (behavioral finance) yang paling banyak menyebabkan pelaku pasar mengalami kerugian. Karena itu, efek disposisi perlu disadari dan pelaku pasar harus rasional dalam mengambil keputusan menjual ketika posisi mengalami keuntungan dan kerugian.

Bagikan

Berita Terbaru

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 13:18 WIB

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?

Saat tren bunga tinggi, apakah saat yang tepat untuk mengambil KPR? Simak saran dari perencana keuangan.

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi
| Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00 WIB

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi

Saat ini revisi UU Sisdiknas belum mengatur mengenai putusan MK yang mewajibkan pemerintah menggratiskan biaya pendidikan dasar.

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing
| Rabu, 22 Juli 2026 | 09:08 WIB

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing

Di tengah optimisme terhadap proyek CA-EDC, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada strategi pendanaan yang dipilih TPIA.

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:32 WIB

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?

Kenaikan harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga dipicu sentimen pasar dan aksi bargain hunting.

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:30 WIB

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie

Analis menilai penguatan serentak kelima saham Grup Bakrie tak lepas dari sentimen risk-on yang sedang menyelimuti pasar secara keseluruhan.

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:27 WIB

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat

Kerja sama ini memperluas distribusi, memperkuat rantai pasok emas  dan meningkatkan akses terhadap emas melalui pembiayaan syariah. 

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:08 WIB

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?

Rally saham  PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) yang telah berlangsung selama berbulan-bulan membuka peluang terjadinya profit taking.

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:58 WIB

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, investor juga perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek.

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:19 WIB

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II

Perusahaan tetap berfokus merealisasikan target ekspansi yang telah ditetapkan sejak awal tahun, yakni menambah 300–400 gerai baru sepanjang 2026.

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:14 WIB

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat

IHSG Rabu (22/7) masih berpeluang menguat, dengan level support 6.240-6.250 dan resistance di 6.390-6.400.​

INDEKS BERITA

Terpopuler