Wake Up Call: Ketika Kode Broker dan Domisili Investor Tidak Lagi Ada

Senin, 11 Juli 2022 | 07:00 WIB
Wake Up Call: Ketika Kode Broker dan Domisili Investor Tidak Lagi Ada
[]
Hans Kwee | Direktur Ekuator Swarna Investama, Dosen Magister Atma Jaya dan Trisakti

KONTAN.CO.ID - Akhir tahun 2021, Bursa Efek Indonesia menutup kode broker. Lalu di akhir Juni 2022, BEI memutuskan menutup domisili investor. Memang penutupan ini hanya saat transaksi berlangsung. Kode broker dan domisili investor baru dapat dilihat setelah pasar tutup.

Banyak pro dan kontra terkait kebijakan ini. Selama ini ada sekelompok investor yang menggunakan data ini untuk memutuskan beli dan jual. Ada yang menggunakan kode broker untuk menemukan akumulasi dan distribusi bandar.

Perbandingan broker net buy dan broker net sell menjadi indikator akumulasi dan distribusi satu saham. Ada juga yang menganalisa pembelian dan penjualan broker berdasarkan karateristik, di mana ada broker yang dianggap berisi investor ritel dan ada yang dianggap bandar.

Beberapa investor mengikuti transaksi broker tertentu, terutama broker asing. Sedangkan domisili investor digunakan untuk menganalisa akumlulasi dan distribusi broker asing di pasar Indonesia.

BEI memutuskan kebijakan tersebut untuk meningkatkan tata kelola pasar modal Indonesia. Dengan ditutupnya kode broker dan domisili investor, BEI berusaha mengurangi praktek herding behaviour.

Baca Juga: Data Domisili Investor Ditutup, Aksi Asing Sulit Dilihat

Ada kekhawatiran penggunaan kode broker tertentu dan jual beli investor asing digunakan untuk mengiring investor ritel terjebak pada saham-saham tertentu. Ketika ada pihak tidak bertanggungjawab ingin memanipulasi harga sebuah saham, pihak tersebut bisa menggunakan kebiasaan investor ritel lokal yang suka mengikuti aktivitas jual dan beli investor asing atau mengekor broker tertentu.

Kebiasaan mengekor ini sebenarnya tidak baik. Ketika investor ritel mengekor, transaksinya akan tertinggal di belakang. Ketika investor asing mulai membeli, harga akan naik karena investor ritel ikut membeli. Jadi investor ritel lokal tertinggal dalam pembelian dan hanya ikut mendorong harga naik.

Lalu ketika investor asing menjual dan investor ritel lokal ikut menjual, harga turun lebih dalam. Investor asing selalu di depan dibandingkan investor ritel, sehingga keuntungan yang didapatkan lebih optimal.

Herding behavior bisa menimbulkan efek domino dan membuat saham bergerak tidak sesuai fundamental. Bisa saja investor asing melakukan penjualan saham karena butuh uang. Atau bisa jadi investor asing melakukan pembelian atau penjualan karena salah membuat analisa.

Ketika banyak investor ritel lokal yang ikut-ikutan, harga saham menjadi tidak wajar. Memang, ketidakwajaran harga saham bisa dimanfaatkan oleh smart investor untuk mengkoreksi harga dengan melakukan pembelian atau penjualan. Smart investor akan mendapatkan keuntungan, sedangkan investor yang hanya ikut-ikutan akan menderita kerugian.

Berangkat dari hal ini, otoritas pasar modal berpikir untuk melindungi investor ritel yang menggunakan herding dalam memutuskan jual dan beli. Bila banyak investor ritel lokal yang mengalami kerugian, tentu ini tidak baik bagi pasar modal, karena akan menurunkan basis investor ritel. Padahal kedalaman pasar modal salah satunya didukung jumlah investor ritel lokal yang besar.

Ketika pasar punya kedalaman yang dalam, maka votalitas pasar akan turun, sehingga risiko pasar modal akan berkurang dan cost of fund juga makin rendah. Cost of fund yang rendah tentu baik bagi perusahaan dalam negeri yang berniat mencari dana besar di pasar modal dengan biaya rendah.

Diharapkan kebijakan penutupan kode broker dan domisili investor dapat meningkatkan kewajaran harga saham. Ada yang berpendapat ketika kode domisili investor ditutup, transaksi saham akan turun karena investor tidak punya pegangan dalam memutuskan jual dan beli. Penulis berpendapat ini kemungkinan besar hanya bersifat sementara. Investor akan belajar menggunakan analisa lain dalam memutuskan jual  atau beli.

Analisis terhadap saham yang lebih rasional sebenarnya adalah analisis fundamental dan teknikal. Investor bisa mempelajari kondisi ekonomi global, regional dan lokal untuk mengetahui iklim investasi secara umum. Analisa makro ekonomi membantu investor melakukan aset alokasi terhadap berbagai instrumen investasi yang ada.

Baca Juga: Tawaran IPO Utama Radar Cahaya (RCCC), Ukurannya Mini tapi Fundamental Cukup Oke

Investor juga dapat melakukan analisa industri untuk menemukan industri mana saja yang sedang baik. Dalam setiap kondisi perekonomian ada sektor yang lebih diunggulkan. Kemudian tersebut pelaku pasar dapat melakukan analisa bisnis, keuangan dan manajemen di sektor pilihan tadi untuk menemukan perusahaan terbaik.

Ada tiga hal yang penting dalam analisa fundamental, yakni kinerja masa lalu yang solid, prospek bisnis di masa depan yang menjanjikan serta valuasi saham yang murah.

Analisa berikutnya adalah analisa teknikal. Dalam analisa teknikal, investor berusaha menemukan jejak transaksi investor besar lewat price and volume. Ketika investor institusi besar melakukan pembelian, akan tercermin pada harga dan volume transaksi. Jejak ini bisa dioptimalkan lewat analisa teknikal.

Selain itu, analisa teknikal mempelajari konsensus pelaku pasar lewat aktivitas jual dan beli yang dilakukan. Pelaku pasar yang melakukan pembelian percaya harga akan naik, sedangkan pelaku pasar yang melakukan penjualan percaya harga akan turun. Pertemuan kedua pelaku pasar ini membentuk harga dan volume transaksi. Analisa teknikal mempelajari psikologi pelaku pasar dan menemukan indikasi pergerakan harga ke depannya.

Banyak yang dapat dilakukan investor dengan analisa teknikal. Analisa ini bisa jadi alternatif ketika kode broker dan domisili investor ditutup. Investor ritel juga perlu investasi waktu, agar bisa lebih mendalami salah satu analisa, sehingga investasi dan transaksinya semakin baik di masa yang akan datang.

Bagikan

Berita Terbaru

BI Agresif dan Posisi RI di MSCI Bertahan, tapi Rupiah Sulit Menjauh dari Rp 18.000
| Senin, 29 Juni 2026 | 08:28 WIB

BI Agresif dan Posisi RI di MSCI Bertahan, tapi Rupiah Sulit Menjauh dari Rp 18.000

Kenaikan suku bunga dan intervensi pasar belum cukup memulihkan minat investor lantaran persoalan utamanya berkaitan dengan kepercayaan pasar.

Risiko Shortfall Pajak Masih Mengintai APBN
| Senin, 29 Juni 2026 | 08:00 WIB

Risiko Shortfall Pajak Masih Mengintai APBN

Target penerimaan pajak 2026 sulit tercapai meski realisasi mulai menunjukkan perbaikan.                      

Prospek Rupiah di Juli 2026: Dibayangi Dolar AS, Geopolitik, dan Nasib Dana Asing
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:39 WIB

Prospek Rupiah di Juli 2026: Dibayangi Dolar AS, Geopolitik, dan Nasib Dana Asing

Permintaan dolar AS di dalam negeri seharusnya mulai menurun menjelang pergantian bulan, seiring meredanya musim pembagian dividen.

Antara Pengumuman MSCI dan Sentimen Pasar Saham Indonesia
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:38 WIB

Antara Pengumuman MSCI dan Sentimen Pasar Saham Indonesia

Saat ini Indonesia memiliki 11 saham yang memenuhi syarat kualifikasi ukuran dan likuiditas yang melampaui ambang minimum.

KAEF Tancap Gas Garap Bahan Baku Obat
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:27 WIB

KAEF Tancap Gas Garap Bahan Baku Obat

KAEF telah mengembangkan dan memproduksi bahan baku obat lokal untuk berbagai kategori terapi prioritas

Berharap Bisa Rebound, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini, Senin (29/6)
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:26 WIB

Berharap Bisa Rebound, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini, Senin (29/6)

Dari dalam negeri pasar menantikan rilis data inflasi periode Juni 2026 yang diperkirakan tumbuh 3,1% year on year (yoy).

Insentif LPG Buka Peluang Industri Plastik
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:22 WIB

Insentif LPG Buka Peluang Industri Plastik

Namun pebisnis tetap menagih pasokan gas industri yang masih seret sehingga membebani dan menurunkan daya saing

PKPK Akuisisi Perusahaan Jasa Perkapalan dan Transportasi Laut, Aset Melesat 263%
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:16 WIB

PKPK Akuisisi Perusahaan Jasa Perkapalan dan Transportasi Laut, Aset Melesat 263%

Integrasi PKPK dan Deli Pratama diharapkan tingkatkan efisiensi operasional. Aset perusahaan diproyeksikan naik 263%.

Tren Destinasi Berjarak Dekat saat Liburan Sekolah
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:13 WIB

Tren Destinasi Berjarak Dekat saat Liburan Sekolah

Tiket.com mencatat destinasi hotel domestik yang paling diminati selama periode liburan sekolah adalah Bali, Bandung, Yogyakarta, Malang

PGEO Membidik Kapasitas Produksi 1 GW pada 2028
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:10 WIB

PGEO Membidik Kapasitas Produksi 1 GW pada 2028

PGEO telah mengamankan komitmen pendanaan hijau dari beberapa lembaga keuangan internasional yang juga telah direstui oleh negara.

INDEKS BERITA