Berita Bisnis

Walau Pasar Beda, Kompetisi Tetap Sengit

Senin, 29 Juli 2019 | 17:45 WIB

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan teknologi yang pesat, plus penggunaan ponsel pintar yang meluas, membuat transformasi digital berlangsung di berbagai lini kehidupan. Tak terkecuali, layanan keuangan berbasis teknologi yang kian menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat, mulai pembayaran hingga pinjam meminjam uang.

Transaksi pembayaran non-tunai, misalnya, kini bisa masyarakat lakukan melalui dompet digital. Lihat saja yang Tamara lakoni. Keberadaan dompet elektronik (e-wallet) memudahkan aktivitas mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan ini. Contoh, membeli makanan di toko ritel modern tanpa harus membawa uang tunai.

Pembayaran menjadi lebih efisien lantaran Tamara bisa melakukannya kapan saja, dan di mana saja. Saya juga tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah banyak sekarang, kata perempuan 20 tahun ini.

Di Indonesia, transaksi uang elektronik memang berada dalam tren pertumbuhan yang sangat pesat dalam lima tahun terakhir. Pada 2014, nominal transaksi uang elektronik baru sebesar Rp 3,32 triliun. Maka di 2018, nilai transaksi uang elektronik di Indonesia menembus angka Rp 47,2 triliun.

Tambah lagi, pasar dompet digital di Indonesia bukan cuma masyarakat lokal, tapi juga turis asing yang pelesiran ke negara kita. Itu sebabnya, platform dompet digital asal China, wechat Pay dan Alipay masuk ke negeri ini, dengan menggandeng PT Alto Halo Digital International (AHDI) sebagai mitra resmi alias official partner.

Wechat Pay dan Alipay membidik wisatawan Tiongkok yang berlibur di Indonesia. Maklum, jumlah pelancong negeri tembok raksasa yang jalan-jalan ke negara kita sangat banyak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah turis China sepanjang Januari hingga Mei 2019 lalu mencapai 882.000 orang, terbanyak di antara wisatawan dari negara lainnya.

Menurut Budhi Widjajantho Surjadi, Direktur AHDI, wechat Pay dan Alipay sudah beroperasi di Indonesia sejak 2018 lalu. Sekarang, ada lebih 2.000 merchant di Bali, Batam, Manado, dan Jakarta yang menerima pembayaran dengan platform dompet digital tersebut.

Yang terbaru, wechat Pay dan Alipay bisa buat belanja di beberapa gerai Sogo dan Alun-Alun Indonesia. Hingga akhir 2019, ADHI menargetkan, bisa menggandeng 100.000 merchant yang menyediakan transaksi wechat Pay dan Alipay untuk wisatawan asing.

Meski baru menyasar turis China, kehadiran wechat Pay dan Alipay semakin meramaikan bisnis dompet digital di tanah air. Saat ini, ada beberapa pemain lokal yang berebut ceruk pasar. Sebut saja, Go-Pay, OVO, dan Dana yang sedang gencar-gencarnya berekspansi.

Lalu, ada LinkAja. Platform dompet digital ini merupakan hasil kolaborasi bank badan usaha milik negara (BUMN) dengan PT Telkomsel.

Siap bersaing

Walau pasarnya berbeda, Winny Triswandhani, Head of Corporate Communications Go-Pay menuturkan, masuknya wechat Pay dan Alipay tetap menambah ramai kompetisi di bisnis dompet digital. Karena itu, di tengah persaingan yang makin ketat, dompet digital milik Go-Jek tersebut fokus memperkuat layanan.

Sebagai pemain lokal dan terdepan, kami punya keunggulan sesuai apa yang benar-benar masyarakat di sini butuhkan. Tidak hanya dari level urban dan kalangan menengah, tetapi juga menengah ke bawah, ujarnya.

Terlebih, Winny menyebutkan, 50% masyarakat Indonesia masih belum punya rekening di bank atawa unbank. Kami percaya, dengan pengalaman di lapangan yang kuat, Go-Pay bisa menjaring seluruh lapisan masyarakat, imbuh dia.

Saat ini, Winny mengklaim, Go-Pay sudah digunakan 50% pengguna Go-Jek yang jumlahnya mencapai 150 juta pengguna. Porsinya akan naik dan harus naik. Idealnya 100% harus cashless, ujar dia.

Sementara untuk kerjasama dengan merchant, ada 400.000 merchant yang menggunakan Go-Pay dalam mendukung transaksi pembayaran di gerai-gerai mereka. Go-Pay menargetkan, jumlah merchant terus bertambah, mengingat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mencapai 60 juta pemain lebih.

Apalagi, Go-Jek, pemilik Go-Pay, mendapat dukungan permodalan dari investor global. Salah satunya adalah Visa. Pendanaan ini juga untuk mendukung pembayaran digital Go-Jek di Asia Tenggara.

Dari total nilai transaksi bruto Go-Jek tahun lalu yang mencapai US$ 9 miliar (sekitar Rp 126,7 triliun) sebagian besar berasal dari Go-Pay. Transaksi ekosistem Go-Pay menyumbang US$ 6,3 miliar atau berkisar Rp 88,7 triliun.

Tak mau kalah, untuk bersaing dengan pemain lokal dan asing, OVO sudah menyiapkan strategi buat pengembangan bisnis ke depan. Diantaranya, memperbanyak merchant dan basis pengguna. Kami akan terus mengembangkan kemitraan dengan merek-merek ternama di bidang teknologi dan ritel, kata Harianto Gunawan, Direktur PT Visionet Internasional (OVO).

Untuk mendukung pencapaian itu, platform dompet digital milik Grup Lippo ini akan fokus menghadirkan berbagai layanan keuangan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Beberapa program yang OVO siapkan, seperti asuransi, investasi, dan pinjaman online. Bulan Mei lalu, kami meluncurkan OVO Paylater dan disusul dengan kolaborasi dengan perusahaan asuransi Prudential Indonesia, ujar Harianto.

Menurutnya, lanskap pembayaran digital di Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Sehingga, Harianto hakul yakin, bisnis ini akan terus berkembang.

Saat ini, Harianto mengklaim, OVO sudah menjelma menjadi platform dompet digital dengan volume transaksi terbesar di Indonesia. Pertumbuhannya mencapai 75 kali lipat dari 2017 ke 2018. Lebih dari satu miliar transaksi dilakukan di platform kami dalam kurun waktu satu tahun saja, terang dia.

Sejak November 2017 hingga November 2018, basis pengguna OVO juga tumbuh lebih dari 400%, dengan tiga transaksi terbesar di sektor transportasi, ritel, dan e-commerce. Saat ini, OVO tersedia di 115 juta perangkat dan merupakan dompet elektronik nomor satu di Indonesia berdasarkan total payments volume, ucap Harianto.Adapun jumlah merchant yang menjadi mitra OVO lebih dari 500.000 merchant di lebih dari 300 kota di Indonesia.

Andalkan cashback

Beda dengan Go-Pay dan OVO, LinkAja fokus melayani transaksi untuk kebutuhan mendasar, yakni pembayaran transportasi publik, pembelian bahan bakar minyak (BBM), dan pembayaran tol. Untuk layanan jalan tol, LinkAja bekerjasama dengan PT Jasa Marga Tbk di beberapa ruas seperti Bandara Soekarno-Hatta.

Lalu sektor transportasi publik, LinkAja menggandeng PT Kereta Commuter Indonesia untuk commuter line, PT Kereta Api Indonesia untuk LRT Palembang, dan taksi Blue Bird. Sedang untuk pembelian BBM, pengguna LinkAja bisa bertransaksi di 1.000 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) PT Pertamina.

Toh, LinkAja juga menggarap transaksi yang sifatnya ritel. Saat ini, tercatat ada 180.000 merchant yang bergabung dengan LinkAja, seperti McDonalds, KFC, Indomaret, Alfamart, dan Bukalapak. Untuk pengguna sampai Juli sudah 26 juta dan sampai akhir tahun kami harapkan bisa 40 juta pengguna, kata Putri Dianita Ruswaldi, Head of Corporate Communication LinkAja.

Dana besutan PT Elang Sejahtera Mandiri lebih memilih menggencarkan program promo, semisal cashback di merchant-merchant favorit. Program ini diakui para pelaku usaha mitra Dana sebagai pemacu efektif peningkatan transaksi di gerai atau toko mereka, kata Vincent Iswara, Chief Executive Officer (CEO) Dana.

Ambil Contoh, program cashback di Jakarta Fair Kemayoran 2019. Ia mengklaim, program tersebut mendorong peningkatan transaksi hingga lebih dari 50%. Begitu pula promo-promo yang lain, yang kami hadirkan, baik di tempat perniagaan modern maupun di pasar-pasar tradisional, ujar Vincent.

Menurutnya, program promo tersebut juga bertujuan untuk memperkenalkan dan mengedukasi masyarakat akan manfaat, kemudahan, serta efisiensi bertransaksi dengan Dana.

Dengan begitu, tambah Vincent, semakin banyak masyarakat sebagai pelaku ekonomi digital yang merasakan dampak positif budaya non-tunai dan non-kartu untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Vincent menyebutkan, hingga akhir kuartal I-2019, jumlah pengguna Dana sudah mencapai 15 juta, dengan rata-rata jumlah transaksi per hari sebanyak 1,5 juta transaksi.

Heru Sutadi, pengamat startup, berpandangan, dengan masuknya pemain asing, kompetisi akan menjadi semakin keras. Terlebih, pemain asing ditopang modal yang kuat. Ini belum lagi nanti dari Facebook juga akan hadir, katanya.

Bila asing dibolehkan masuk begitu saja, maka level playing field tidak tercapai karena asimetris. Meski Alipay pemain baru di sini, mereka kan pemain besar di luar, sebut Heru.

Banyak pemain asing yang kuat di luar bermain predatory pricing untuk mematikan pemain lokal. Misalnya, dengan memberi biaya layanan semurah mungkin, sehingga pengguna berpindah dan lama-lama pemain lokal mati. Ini harus diwaspadai, tegas Heru.

Maka itu, regulator jangan terlalu terbuka di bisnis dompet digital. Kalau pun asing boleh masuk, syaratnya harus ketat. Pertama, mereka kudu memiliki badan usaha tetap di Indonesia. Kedua, mesti ada kongsi dengan lokal. Kalau lokal sudah ada, mereka bisa diwajibkan pakai lokal dengan sistem interkoneksi, jelas Heru.

Yang tidak kalah penting, regulator wajib mengawasi platformdompet digital asing. Jangan sampai dimanfaatkan pihak tertentu sebagai sarana pencucian uang atau pendanaan kegiatan terorisme.


Reporter: Havid Vebri, Merlinda Riska, Nina Dwiantika
Editor: Havid Vebri


Baca juga