Adi Mahfudz, Wakil Ketua Umum Kadin: Pengusaha Sangat Menghindari PHK

Senin, 24 Oktober 2022 | 09:43 WIB
Adi Mahfudz, Wakil Ketua Umum Kadin: Pengusaha Sangat Menghindari PHK
[ILUSTRASI. Adi Mahfudz, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan.]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasca tersandera pandemi Covid-19, kini pelaku usaha secara perlahan mulai bangkit. Hanya, masalah baru muncul: ancaman resesi ekonomi global di 2023.

Kadin Indonesia pun memproyeksikan, bakal ada pelemahan permintaan ekspor 40% hingga 60% pada tahun depan. Ini imbas dari ketidakpastian perekonomian global.

Dus, pelaku usaha harus memutar otak bahkan bersiap melakukan efisiensi untuk menghadapi tantangan baru ini. PHK juga jadi opsi? Untuk menjawabnya, wartawan Tabloid KONTAN mewawancarai Adi Mahfudz, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Ketenagakerjaan pada Rabu (19/10) lalu. 

Berikut nukilannya:

KONTAN: Ancaman resesi ekonomi global tahun depan makin nyata, Apa benar dunia usaha sedang berencana melakukan PHK massal?

ADI: Kalau bicara PHK massal, masih jauh, dan itu kami hindari. Pengusaha sangat menghindari PHK, kecuali jika terjadi ancaman serius terhadap ketidakmampuan proses produksi, maka PHK tidak terhindarkan. Misalnya, perusahaan sudah tidak mampu membayar utang, gaji, atau upah.

Dalam regulasi ketenagakerjaan, kami juga diminta untuk menghindari PHK, dan itu merupakan keputusan  terakhir bila perusahaan sudah tidak ada lagi kemampuan. PHK, kan, ada ukurannya. Yang jelas, PHK massal sudah terjadi di saat pandemi Covid-19. Jadi sebetulnya, tidak ada lagi kekagetan, apalagi soal proyeksi resesi global. Saat ini, ekonomi kita mulai perlahan bangkit, dan dunia usaha kembali antusias.

KONTAN: Tapi, banyak sekali kabar soal PHK, tidak hanya terjadi di indutsri startup tapi juga padat karya. Kenapa hal ini sampai terjadi?

ADI: Kalau PHK di startup, kan, lebih ke efisiensi. Karena, startup menjalankan bisnisnya dengan sistem dan pengendalian teknologi. Di Indonesia, itu belum bisa dijadikan alat gerak industri, jadi belum ada instrumennya, terlebih lagi soal budaya. Jadi memang, startup yang kurang punya daya saing, pasti akan melakukan PHK supaya lebih kompetitif.

Bisnis itu, kan, fluktuatif, bisa naik bisa turun, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Makanya, ukuran utamanya adalah inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Saat ini, inflasi dan pertumbuhan ekonomi kita relatif bagus dibandingkan dengan negara-negara lain. Tetapi, kembali lagi, PHK merupakan proses terakhir yang bisa kami lakukan.

KONTAN: Apakah artinya, perusahaan yang melakukan PHK sudah tidak memiliki kemampuan bertahan?

ADI: PHK terjadi karena beberapa alasan. Pertama, untuk efisiensi. Karena perusahaan merugi, maka mereka melakukan PHK. Kalau menurut regulasi, jika perusahaan merugi dalam dua tahun, boleh melakukan PHK. 

Kedua, jika perusahaan melakukan merger,  pengusaha dan pekerja bisa menyepakati  melanjutkan kerjasama atau tidak. Saat perusahaan merger, sah melakukan PHK.

Ketiga, PHK bisa dilakukan  dalam keadaan force majeur. Misalnya, perusahaan pailit, tidak sanggup membayar utang dan gaji pekerja.

KONTAN: Lalu, bagaimana pengusaha mengelola bisns untuk menghindari PHK di tengah ancaman resesi?
ADI: Sejauh ini kami dikejutkan dengan berbagai proyeksi bahwa tahun depan akan terjadi resesi global. Bahkan, Presiden Joko Widodo bilang, ekonomi kita akan gelap. 

Nah, sebagai pengusaha, kami harus tetap optimistis dan senantiasa mengedepankan terbosoan berpikir, karena ini penting. Kami harus tahu kondisi ekonomi gelap itu bagaimana solusinya. Kalau bisa, ya, kami ubah jadi terang.

Musibah, kan, juga bisa kita ubah menjadi berkah, selama kita terus bergerak. Makanya, kita perlu diversifikasi usaha, ini hal yang sangat penting. Jadi, ketika satu sektor usaha kita gelap, masih ada sektor usaha lainnya yang terang dan mampu membawa kita melewati masa-masa sulit itu.

KONTAN: Berapa lama waktu yang dunia usaha butuhkan untuk kembali bertumbuh seperti sebelum pandemi?

ADI: Kita sama-sama paham bahwa pemulihan dampak pandemi Covid-19  tidak mudah. Kita tersandera dua-tiga tahun oleh pandemi. Saat ini, kondisi memang sudah mulai stabil dan bergerak, tetapi recovery usaha  tidak mudah, butuh tiga-lima tahun ke depan.
Tapi, pemerintah juga perlu memperkuat stimulus daya beli UMKM dan membuka akses bagi UMKM. Kemudian, yang tak kalah penting adalah pengelolaan risiko yang baik.      

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:21 WIB

Usulan Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton pada 2027

Pemerintah mulai membuka periode pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan mineral dan batubara tahun 2027 

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:04 WIB

Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Memperkuat Bisnis Bahan Pangan

 PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) menyambut mitra strategis yang akan mengakuisisi anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom). 

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:01 WIB

Mitra10 Ekspansi, CSAP Kejar Pertumbuhan Penjualan 10% di Tahun 2026

PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) optimistis mencapai target pertumbuhan kinerja keuangan di sepanjang tahun ini dari ekspansi gerai Mitra10.

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:15 WIB

Bali dan Target Pertumbuhan Ekonomi 8%

Bali menunjukkan sumber pertumbuhan baru sudah muncul; yang dibutuhkan kini kecepatan, keberanian dan disiplin.

Fiskal Terjepit
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:05 WIB

Fiskal Terjepit

Tantangan APBN bukan memilih antara subsidi energi dan bansos, tapi memastikan keduanya berjalan efektif tanpa mengabaikan keberlanjutan fiskal.

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:01 WIB

Daftar Emiten HSC Makin Panjang, Waspadai Saham yang Bisa Keluar dari Indeks Global

Risiko outflow membayangi emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi (HSC) yang masuk ke indeks global

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:56 WIB

IHSG Masih Lesu, Investor Masih Berhati-hati

Di tengah pelemahan IHSG pada perdagangan Selasa (13/10), dana asing tercatat net buy sebesar Rp 570,4 miliar.  

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Potensi Ketidakhematan Subsidi Listrik Tingkatkan Risiko Fiskal Sebesar Rp 61,48 T

Jika Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) digunakan, akan diperoleh penghematan nilai subsidi sebesar Rp 28,54 triliun. 

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:25 WIB

Ujian Berat Bagi IHSG: Badai Inflasi AS Hingga Penantian Evaluasi MSCI Pada November

Sentimen global yang membaik belum tentu cukup untuk memicu reli IHSG secara berkelanjutan selama ketidakpastian terkait MSCI belum terjawab.

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis

Emiten dengan merek yang kuat, jaringan distribusi luas, dan efisiensi operasional lebih berpeluang menjaga kinerja fundamentalnya.

INDEKS BERITA

Terpopuler