Adu Kuat Sentimen Pajak vs Bunga bagi Prospek Saham Summarecon (SMRA)

Jumat, 04 Maret 2022 | 04:10 WIB
Adu Kuat Sentimen Pajak vs Bunga bagi Prospek Saham Summarecon (SMRA)
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten properti anggota indeks Kompas 100, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), memasang target marketing sales sebesar Rp 5 triliun di tahun 2022. Untuk merealisasikan target tersebut, SMRA bakal mengandalkan sektor landed house.

SMRA memiliki sejumlah proyek yang tengah ditawarkan di Serpong, Bekasi, Bandung, Karawang, Makasar, dan Bogor. Tak hanya itu, SMRA juga masih dalam tahap pembangunan Summarecon Mall Bandung dan Summarecon Villagio Jakarta Luxury Outlet di Karawang. Dua proyek ini ditargetkan beroperasi pada akhir tahun ini.

Pada Januari 2022, SMRA sudah membukukan marketing sales Rp 363 miliar, naik 15% dibanding periode sama tahun 2021. Bahkan jika dibanding perolehan bulan Desember 2021, marketing sales SMRA melonjak 137% secara month on month (mom).

Baca Juga: Summarecon (SMRA) Cetak Penjualan Rp 231 Miliar dari Klaster Leonora Serpong

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandu Dewanto mengatakan, perolehan marketing sales itu menandakan jika prospek penjualan SMRA tahun ini bakal positif. Kata Pandu, hal ini juga ditopang insentif fiskal berupa relaksasi pajak pertambahan nilai (PPN), meski tidak sebesar tahun 2021.

Tahun ini, pemerintah memberi diskon PPN 50% untuk pembelian rumah dengan harga maksimal Rp 2 miliar, dari sebelumnya 100%. Sementara untuk rumah seharga Rp 2 miliar-Rp 5 miliar, konsumen mendapatkan keringanan 25% dari semula 50%.

Pada tahun lalu, pencapaian marketing sales SMRA juga lebih tinggi dari target manajemen. Marketing sales SMRA  pada tahun 2021 sebesar Rp 5,2 triliun, lebih tinggi 30% dibanding target marketing sales awal tahun yang sebesar Rp 4 triliun. "Target tahun ini memang lebih kecil dari realisasi tahun lalu tapi target ini relatif lebih tinggi ketimbang rata-rata pencapaian marketing sales SMRA dalam lima tahun terakhir sekitar Rp 3,9 triliun," papar Pandu.

Potensi kenaikan bunga

Apalagi pada tahun 2022 ini ada potensi kenaikan suku bunga acuan mengacu pada rencana The Fed, yang akan diikuti oleh Bank Indonesia (BI). Kenaikan bunga dapat menghambat pertumbuhan penjualan emiten properti. Apalagi, selama ini sektor properti dianggap paling sensitif atas perubahan suku bunga.

Baca Juga: Diskon PPN Diperpanjang, Ini Emiten Properti yang Diuntungkan

Pada kuartal I 2022, hasil marketing sales SMRA menurut Pandu mungkin masih aman. "Namun memasuki kuartal II, perlu diperhatikan apakah ada perlambatan terhadap marketing sales atau tidak," ujar Pandu.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya juga meyakini jika penjualan SMRA tidak terlalu beda dari tahun lalu. Sebab menjelang akhir tahun, emiten ini juga ada dua proyek besar SMRA di Bandung dan Karawang. Kata Dia, permintaan properti di wilayah Jakarta sedang dalam tren peningkatan khususnya landed house yang menyasar kelas menengah.

Tahun 2021, Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano memperkirakan, pendapatan dan laba bersih SMRA masing-masing bisa mencapai Rp 5,17 triliun dan Rp 347 miliar. Sedangkan tahun 2022 pendapatan dan laba bersih masing-masing menjadi Rp 5,68 triliun dan Rp 500 miliar.   

Proyeksi Pandu, pendapatan SMRA pada tahun ini bisa mencapai Rp 6 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 490 miliar. Saat ini harga saham SMRA diperdagangkan pada PBV 1,3 kali, lebih rendah dibanding PBV tiga tahun terakhir 1,8 kali. 

Oleh karena itu, kata Pandu,  saham SMRA masih relatif murah. Ia menargetkan saham SMRA dapat mencapai harga Rp 1.035 untuk 12 bulan ke depan. Dengan kata lain, ada potensi upside 50% sehingga posisi saat ini cukup menarik untuk dikoleksi.

Victor menyarankan, beli saham SMRA dengan target harga di Rp 1.150. "Kami percaya saham SMRA masih menarik mengingat pertumbuhan marketing sales kuat dan pemulihan investasi sektor properti di tahun 2022," kata dia. Cheryl merekomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp 750. Rabu (2/3), harga SMRA turun 1,43% menjadi Rp 690 per saham. 

Baca Juga: Summarecon Agung (SMRA) Bidik Marketing Sales Rp 5 Triliun

Bagikan

Berita Terbaru

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)
| Senin, 03 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)

Sentimen pasar awal pekan ini akan dipengaruhi oleh rilis sejumlah data makro, baik dari dalam negeri maupun global. 

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:47 WIB

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mulai merasakan manfaat dari energi terbarukan. Bukan hanya mengurangi emisi GRK, sekaligus efisiensi energi.

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas

Di balik upaya menjaga pasokan energi tersebut, para pekerja pengeboran migas di sektor hulu menjadi garda terdepan.

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%

Pemulihan industri otomotif nasional juga turut mendorong peningkatan permintaan terhadap produk komponen otomotif perusahaan. 

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:34 WIB

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury

Apabila imbal hasil US Treasury masih terus tinggi, maka ada kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga acuan.

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:33 WIB

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri

Kementerian Perindustrian memantau kondisi industri secara berkala guna mendeteksi potensi persoalan sejak dini.

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:31 WIB

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua

Rig pengeboran minyak PDSI 11.2 menjulang kokoh ke langit. Rig milik Pertamina EP Papua Field itu berdiri sebagai simbol eksplorasi energi negeri.

Rally Saham BBCA Melambat: Konsolidasi Sehat atau Awal Pembalikan Arah?
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:21 WIB

Rally Saham BBCA Melambat: Konsolidasi Sehat atau Awal Pembalikan Arah?

Risiko domestik seperti arah kebijakan BI Rate, pergerakan rupiah, maupun sentimen eksternal, masih berpotensi menekan kinerja emiten perbankan.

History, bukan His Story
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:10 WIB

History, bukan His Story

Transformational leader menjadi relevan bilamana hadir tuntutan perbaikan yang begitu besar dan kebutuhan perubahan yang kuat. 

Nasib Gelas Kopi Berubah Usai Diseruput di Kopi Nako
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:10 WIB

Nasib Gelas Kopi Berubah Usai Diseruput di Kopi Nako

Kopi Nako mengolah gelas plastik bekas pakai dari konsumennya untuk dijadikan furnitur di kedai mereka. Apakah menjadi s

INDEKS BERITA

Terpopuler