Alarm Deindustrialisasi?
Selama bertahun-tahun Indonesia membanggakan stabilitas ekonomi. Ketika pandemi melanda, ekonomi berhasil pulih lebih cepat dibandingkan banyak negara berkembang. Inflasi relatif terkendali, neraca perdagangan mencatat surplus selama puluhan bulan berturut-turut, dan investasi terus meningkat. Bahkan, tahun ini pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi hingga 8%.
Di atas kertas, semua indikator itu layak diapresiasi. Namun ekonomi tidak hanya hidup di atas statistik. Dalam beberapa bulan terakhir, publik justru disuguhi kabar yang bertolak belakang. Gelombang pemutusan hubungan kerja kembali melanda industri tekstil, garmen, alas kaki, elektronik hingga berbagai sektor manufaktur. Sejumlah pabrik menghentikan produksi. Sebagian lainnya memilih merelokasi investasi ke Vietnam, India, bahkan Meksiko.
