Alarm Fiskal

Senin, 12 Oktober 2026 | 06:10 WIB
Alarm Fiskal
[ILUSTRASI. TAJUK - Havid Febri (KONTAN/Steve GA)]
Havid Vebri | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Alarm fiskal APBN 2026 semakin nyaring ketika proyeksi defisit mendekati batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah dituntut memperketat belanja, tetapi penghematan tidak boleh sekadar menjadi respons terhadap tekanan fiskal. Setiap rupiah uang negara harus dikelola secara efektif, transparan, dan bertanggung jawab.

Pengetatan anggaran diperlukan untuk menjaga keberlanjutan fiskal. Namun, kebijakan ini tidak boleh menjadi alasan memangkas belanja secara serampangan. Pemerintah harus terbuka menjelaskan sumber tekanan anggaran, efektivitas program prioritas, dan langkah konkret memperbaiki kualitas belanja. Tanpa evaluasi menyeluruh, penghematan berisiko sekadar menjadi slogan administratif, bukan reformasi pengelolaan keuangan negara.

Di tengah ruang fiskal yang terbatas, kebutuhan pembiayaan berbagai program pemerintah tetap besar. Karena itu, ambisi kebijakan harus disesuaikan kemampuan anggaran. Pemerintah tak bisa memperluas komitmen belanja tanpa perhitungan matang, lalu menjadikan pengetatan sebagai solusi ketika tekanan meningkat. Setiap program baru harus memiliki perhitungan biaya, sumber pendanaan, target manfaat, dan evaluasi risiko yang jelas.

Pemangkasan perjalanan dinas, rapat, kegiatan seremonial, dan belanja non-esensial patut dilakukan. Namun, penghematan administratif tidak cukup tanpa pembenahan inefisiensi yang lebih mendasar. Pemerintah harus mengevaluasi program tumpang tindih, kegiatan minim hasil, dan belanja tanpa ukuran keberhasilan yang jelas. Jangan sampai penghematan hanya menyasar pos yang mudah dipangkas, sementara pemborosan yang lebih besar luput dari pemeriksaan.

Pengetatan yang salah sasaran justru membebani masyarakat. Pemangkasan belanja pendidikan, kesehatan, infrastruktur produktif, dan dukungan bagi UMKM tanpa pertimbangan matang berisiko menurunkan kualitas pelayanan publik, menghambat penciptaan lapangan kerja, serta melemahkan daya beli. Pemerintah harus menjaga defisit tanpa mengorbankan fondasi pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah wajib membuka informasi mengenai pos yang dipangkas, nilai penghematan, dan dampaknya ke pelayanan publik. Jangan sampai rakyat terus diminta berhemat ketika pemerintah belum transparan menunjukkan efektivitas belanjanya. Yang harus dipangkas pemborosan, bukan hak masyarakat atas pelayanan publik yang layak.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Bantalan Dividen Saat Pasar Masih Tertekan
| Senin, 12 Oktober 2026 | 07:19 WIB

Bantalan Dividen Saat Pasar Masih Tertekan

Setidaknya ada tujuh emiten akan menebar dividen interim dengan jadwal cum date sepanjang pekan ini. 

BUMI Dikabarkan Jadi Kandidat Terkuat dalam Akuisisi Kideco
| Senin, 12 Oktober 2026 | 07:10 WIB

BUMI Dikabarkan Jadi Kandidat Terkuat dalam Akuisisi Kideco

Perusahaan lain seperti Rio Tinto dan Emirates Global Aluminium, juga dikabarkan telah melakukan kajian terkait aset tambang tersebut.

Minim Katalis Saham SQMI Terkoreksi Lagi, Waspadai Risiko Support Jebol
| Senin, 12 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Minim Katalis Saham SQMI Terkoreksi Lagi, Waspadai Risiko Support Jebol

Area Rp 90 – Rp 95 menjadi support yang perlu dicermati, dengan resistance terdekat di Rp 100 dan berikutnya Rp 110 per saham.

Flu Jadi Katalis Emiten di Akhir 2026
| Senin, 12 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Flu Jadi Katalis Emiten di Akhir 2026

Kasus influenza menanjak, namun defisit BPJS dan risiko daya beli membayangi prospek emiten rumahsakit

Tekanan Dolar Mereda, Harga Emas Merangkak Naik
| Senin, 12 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Tekanan Dolar Mereda, Harga Emas Merangkak Naik

Tekanan terhadap harga emas mereda setelah sempat terperosok tajam akibat kuatnya nilai tukar dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi AS

Alarm Fiskal
| Senin, 12 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Alarm Fiskal

Pemerintah wajib membuka informasi mengenai pos yang dipangkas, nilai penghematan, dan dampaknya ke pelayanan publik.

Efek Sentimen Eksternal Menghantui Rupiah di Senin (12/10)
| Senin, 12 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Efek Sentimen Eksternal Menghantui Rupiah di Senin (12/10)

Pasar akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi. 

Bank Mandiri Pegang Risiko Tinggi di PGUN dan JARR
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:40 WIB

Bank Mandiri Pegang Risiko Tinggi di PGUN dan JARR

ChatGPT said:Kredit Bank Mandiri ke Jhonlin Group dibayangi risiko likuiditas karena agunan saham PGUN dan JARR sulit dicairkan saat gagal bayar

Beban Naik, Surat Utang Leasing Seret
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:35 WIB

Beban Naik, Surat Utang Leasing Seret

Penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 19,62 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini, turun 33,1% secara tahunan. 

Bank Asing Ramai-Ramai Perbesar Bisnis di RI
| Senin, 12 Oktober 2026 | 05:30 WIB

Bank Asing Ramai-Ramai Perbesar Bisnis di RI

ChatGPT said:Bank asing gencar ekspansi di Indonesia lewat akuisisi dan integrasi bisnis untuk memperluas pasar dan memperkuat daya saing.

INDEKS BERITA

Terpopuler