Alarm Sektor Manufaktur

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:00 WIB
Alarm Sektor Manufaktur
[ILUSTRASI. TAJUK - Sandy Baskoro (KONTAN/Steve G.A)]
Sandy Baskoro | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor manufaktur Indonesia berada di simpang jalan. Penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 46,9 pada Juni 2026 bukan sekadar statistik bulanan. Kontraksi paling tajam dalam setahun ini menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur, yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dan penyerap tenaga kerja terbesar, sedang menghadapi persoalan serius.

Memang paling gampang menyalahkan gonjang ganjing ekonomi global. Namun, jika terus berlindung di balik faktor eksternal, kita justru mengabaikan masalah yang ada di dalam negeri. Kelesuan manufaktur Indonesia semakin menunjukkan adanya persoalan struktural yang belum terselesaikan.

Sebagaimana disinggung kalangan pengusaha, problem utama kita adalah tingginya biaya berusaha. Industri masih dibebani ongkos logistik yang mahal, harga energi yang belum sepenuhnya kompetitif, bunga kredit yang tinggi, hingga berbagai pungutan dan regulasi yang kerap berubah.

Persoalan kedua adalah membanjirnya produk impor murah. Banyak industri padat karya, mulai dari tekstil, alas kaki, hingga elektronik, kehilangan pangsa pasar di dalam negeri. Persaingan merupakan hal yang wajar, tetapi ketika praktik perdagangan tidak sehat dibiarkan berlarut-larut, industri nasional akan semakin tertekan. Ketiga, iklim investasi belum memberikan kepastian. Dunia usaha tidak hanya membutuhkan insentif, tetapi juga konsistensi kebijakan. Perubahan aturan yang terlalu sering membuat pelaku industri memilih menunda ekspansi karena sulit menghitung risiko bisnis dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, pemerintah tidak cukup hanya merespons pelemahan PMI dengan stimulus sesaat. Yang dibutuhkan adalah pembenahan menyeluruh terhadap daya saing industri. Kepastian regulasi harus menjadi prioritas, diikuti percepatan penurunan biaya logistik melalui efisiensi pelabuhan dan distribusi. Program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), juga konsistensi suplainya, perlu diperluas agar industri memperoleh pasokan energi dengan harga kompetitif dan berkelanjutan.

Insentif investasi juga perlu diarahkan lebih tepat sasaran, terutama kepada industri padat karya. Dukungan berupa insentif pajak, pembiayaan investasi mesin, hingga pelatihan tenaga kerja akan jauh lebih berdampak dibanding kebijakan yang bersifat umum. PMI yang berada di zona kontraksi tidak boleh dianggap sekadar siklus. Jika dibiarkan, pelemahan manufaktur akan menekan investasi, mengurangi penciptaan lapangan kerja, dan pada akhirnya menyumbat pertumbuhan ekonomi.                  

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Sepekan Cetak Net Sell Rp 101,78 Miliar, Begini Poyeksi Kinerja UNTR di Kuartal III
| Senin, 17 Agustus 2026 | 15:20 WIB

Sepekan Cetak Net Sell Rp 101,78 Miliar, Begini Poyeksi Kinerja UNTR di Kuartal III

Beroperasinya kembali Tambang Emas Martabe secara penuh akan menjadi penggerak margin laba yang signifikan bagi UNTR.

Saham NCKL Kembali Menguat, Intip Katalis dan Risikonya
| Senin, 17 Agustus 2026 | 13:30 WIB

Saham NCKL Kembali Menguat, Intip Katalis dan Risikonya

Lonjakan kapasitas produksi para produsen nikel berpotensi menekan harga acuan LME dan dapat membatasi ASP yang diterima NCKL.

Tekanan Geopolitik Tak Kendur, Penguatan Harga Emas Global Masih Berlanjut Pekan Ini
| Senin, 17 Agustus 2026 | 12:46 WIB

Tekanan Geopolitik Tak Kendur, Penguatan Harga Emas Global Masih Berlanjut Pekan Ini

Risiko geopolitik tentu masih menjadi katalis utama pergerakan harga emas, khususnya jika gangguan masih terjadi di Selat Hormuz dan Laut Merah.

ETF Emas Meluncur, Sumber Cuan Anyar atau Euforia
| Senin, 17 Agustus 2026 | 07:00 WIB

ETF Emas Meluncur, Sumber Cuan Anyar atau Euforia

Lima ETF emas mencuri perhatian investor pada awal peluncuran 10 Agustus 2026. Daya tahan instrumen baru ini mulai diuji.

Kemerdekaan Ekonomi
| Senin, 17 Agustus 2026 | 05:10 WIB

Kemerdekaan Ekonomi

BPS menunjukkan ekonomi Indonesia sebenarnya masih tumbuh cukup kuat. Pada kuartal II-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan.

Tokenisasi Real World Asset (RWA), Pintu Baru Pasar Modal
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:53 WIB

Tokenisasi Real World Asset (RWA), Pintu Baru Pasar Modal

Tantangan terbesar RWA pada validasi aset, yaitu memastikan token didukung aset riil dengan nilai yang sesuai.

Intip Isi Portofolio Investasi Direktur Keuangan Krom Bank, Alvin James
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Intip Isi Portofolio Investasi Direktur Keuangan Krom Bank, Alvin James

Pengalaman panjang di industri keuangan membuat Direktur Keuangan Krom Bank semakin selektif dalam mengelola portofolio investasinya.

Mengenal Ego Odysseus Dalam Memimpin
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:35 WIB

Mengenal Ego Odysseus Dalam Memimpin

​Mencari orang yang pintar, visioner dan berwawasan luas itu memang sulit. Namun, jauh lebih sulit lagi mencari orang yang bijak.

Menekan Produksi Emisi Karbon Lewat Bata Ringan
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:35 WIB

Menekan Produksi Emisi Karbon Lewat Bata Ringan

Bata ringan bukan hanya material konstruksi, ia juga bagian dari upaya mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon.

 
Layar Bioskop yang Merambah Bisnis Nobar Hingga Pijat
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:15 WIB

Layar Bioskop yang Merambah Bisnis Nobar Hingga Pijat

Bioskop makin ekspansif mengembangkan bisnis dengan menggarap lini usaha non penayangan film. Seperti apa peluangnya?

INDEKS BERITA

Terpopuler