Alarm Sektor Manufaktur
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor manufaktur Indonesia berada di simpang jalan. Penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 46,9 pada Juni 2026 bukan sekadar statistik bulanan. Kontraksi paling tajam dalam setahun ini menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur, yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dan penyerap tenaga kerja terbesar, sedang menghadapi persoalan serius.
Memang paling gampang menyalahkan gonjang ganjing ekonomi global. Namun, jika terus berlindung di balik faktor eksternal, kita justru mengabaikan masalah yang ada di dalam negeri. Kelesuan manufaktur Indonesia semakin menunjukkan adanya persoalan struktural yang belum terselesaikan.
Sebagaimana disinggung kalangan pengusaha, problem utama kita adalah tingginya biaya berusaha. Industri masih dibebani ongkos logistik yang mahal, harga energi yang belum sepenuhnya kompetitif, bunga kredit yang tinggi, hingga berbagai pungutan dan regulasi yang kerap berubah.
Persoalan kedua adalah membanjirnya produk impor murah. Banyak industri padat karya, mulai dari tekstil, alas kaki, hingga elektronik, kehilangan pangsa pasar di dalam negeri. Persaingan merupakan hal yang wajar, tetapi ketika praktik perdagangan tidak sehat dibiarkan berlarut-larut, industri nasional akan semakin tertekan. Ketiga, iklim investasi belum memberikan kepastian. Dunia usaha tidak hanya membutuhkan insentif, tetapi juga konsistensi kebijakan. Perubahan aturan yang terlalu sering membuat pelaku industri memilih menunda ekspansi karena sulit menghitung risiko bisnis dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, pemerintah tidak cukup hanya merespons pelemahan PMI dengan stimulus sesaat. Yang dibutuhkan adalah pembenahan menyeluruh terhadap daya saing industri. Kepastian regulasi harus menjadi prioritas, diikuti percepatan penurunan biaya logistik melalui efisiensi pelabuhan dan distribusi. Program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), juga konsistensi suplainya, perlu diperluas agar industri memperoleh pasokan energi dengan harga kompetitif dan berkelanjutan.
Insentif investasi juga perlu diarahkan lebih tepat sasaran, terutama kepada industri padat karya. Dukungan berupa insentif pajak, pembiayaan investasi mesin, hingga pelatihan tenaga kerja akan jauh lebih berdampak dibanding kebijakan yang bersifat umum. PMI yang berada di zona kontraksi tidak boleh dianggap sekadar siklus. Jika dibiarkan, pelemahan manufaktur akan menekan investasi, mengurangi penciptaan lapangan kerja, dan pada akhirnya menyumbat pertumbuhan ekonomi.
