Amazon di Australia Dikeluhkan Merchant Terkait Algoritma Preferensi Pencarian Barang

Kamis, 28 April 2022 | 15:30 WIB
Amazon di Australia Dikeluhkan Merchant Terkait Algoritma Preferensi Pencarian Barang
[ILUSTRASI. Regulator Australia mendapatkan keluhan bahwa Amazon memberikan preferensi pada barang-barang internal sendiri. REUTERS/Brendan McDermid]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Anastasia Lilin Yuliantina

KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Amazon.com Inc telah menolak untuk menjelaskan sistem pencarian produknya kepada regulator persaingan Australia. Permintaan penjelasan regulator berangkat dari keluhan-keluhan terhadap berbagai platform marketplace besar yang memberikan preferensi pada barang-barang internal mereka.

Sang regulator yakni Australian Competition and Consumer Commission (ACCC), menyebutkan sikap Amazon dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada Hari Kamis (28/4). Laporan tersebut merupakan bagian dari tinjauan lima tahun yang sama terhadap peraturan untuk big-tech yang melibatkan Facebook dan Google.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Anomali Piala Dunia 2026: Kenapa Tak Semeriah Dulu?
| Senin, 06 Juli 2026 | 06:10 WIB

Anomali Piala Dunia 2026: Kenapa Tak Semeriah Dulu?

Piala dunia menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh pebisnis. Masihkah cuan Piala Dunia tahun ini menjanjikan?

 
Berebut Dana
| Senin, 06 Juli 2026 | 06:10 WIB

Berebut Dana

Namun, keputusan pemerintah mengerek tinggi bunga ORI030 sebagai sesuatu yang mencemaskan, bahwa tanda-tanda crowding out semakin jelas.

Nasib Rupiah: Data AS Lemah, Bisakah Terus Perkasa Pekan Ini?
| Senin, 06 Juli 2026 | 06:00 WIB

Nasib Rupiah: Data AS Lemah, Bisakah Terus Perkasa Pekan Ini?

Rupiah ditutup menguat 0,18% Jumat lalu. Kini data ketenagakerjaan AS yang lemah memicu penguatan lanjutan, namun sentimen domestik bisa menahan

Kimia Farma (KAEF) Mengejar Target Kinerja Positif di Tahun Ini
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:56 WIB

Kimia Farma (KAEF) Mengejar Target Kinerja Positif di Tahun Ini

Hingga akhir 2026, KAEF menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran single digit hingga low double digit. 

Mesin Pabrik Melambat, Ancaman PHK Mengintai
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:46 WIB

Mesin Pabrik Melambat, Ancaman PHK Mengintai

Perlambatan industri manufaktur tersebut dipengaruhi oleh melemahnya permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor

Dapen Harus Lebih Cermat Atur Likuiditas
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:35 WIB

Dapen Harus Lebih Cermat Atur Likuiditas

MK mengabulkan permohonan uji materi yang membuka ruang bagi peserta untuk mencairkan manfaat pensiun secara sekaligus.

Bersihkan BUMN, Hemat Rp 50 Triliun
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:30 WIB

Bersihkan BUMN, Hemat Rp 50 Triliun

Efisiensi terbesar yang dilakukan oleh Danantara adalah dari pemangkasan transaksi berlapis alias layering transaction.

Koperasi Sawit Bisa Mengelola Lahan Milik Agrinas Palma
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:20 WIB

Koperasi Sawit Bisa Mengelola Lahan Milik Agrinas Palma

Kementerian Koperasi (Kemenkop) menggandeng PT Agrinas Palma Nusantara untuk membangun ekosistem perkebunan sawit berbasis koperasi. 

Sudah 40% Proyek Listrik Masuk Tahap Eksekusi
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:15 WIB

Sudah 40% Proyek Listrik Masuk Tahap Eksekusi

PLN tengah memacu proyek listrik untuk bisa mengejar target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Saham Energi Belum Mampu Unjuk Gigi
| Senin, 06 Juli 2026 | 05:07 WIB

Saham Energi Belum Mampu Unjuk Gigi

Risiko volatilitas saham energi diprediksi masih tinggi. Namun, peluang pemulihan selektif terbuka. Cek insisaham yang direkomendasikan analis.

INDEKS BERITA

Terpopuler