Ancaman Karhutla dan Ujian Doktrin Proximate Cause
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mengumumkan akhir Juli lalu bahwa El Nino telah aktif pada kategori kuat, dengan pengaruh diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Puncak kemarau jatuh pada Agustus dan September. Hingga 2 Agustus 2026 tercatat sekitar 5.690 titik panas di seluruh Indonesia, dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diproyeksikan tertinggi di Sumatra serta Kalimantan. Dua pulau itu bukan semata sentra perkebunan, melainkan juga lokasi pabrik pengolahan, gudang, terminal dan fasilitas energi bernilai triliunan rupiah.
Otoritas Jasa Keuangan sudah memberi sinyal sejak awal tahun. Regulator mengingatkan industri bahwa El Nino berpotensi menaikkan frekuensi dan severitas klaim pada lini harta benda, kendaraan bermotor, pertanian serta kesehatan, sembari mendorong penguatan proteksi katastropik dan pemutakhiran peta risiko bersama Maipark. Peringatan itu ditujukan kepada penanggung. Sisi tertanggung nyaris tidak dibicarakan.
Baca Juga: Pendapatan Agregat Consumer Staples Tumbuh, Namun Belum Cerminkan Pemulihan Daya Beli
