Antusiasme Emas Antam (ANTM) di Tengah Terbatasnya Ketersediaan Stok

Sabtu, 28 Maret 2026 | 00:40 WIB
Antusiasme Emas Antam (ANTM) di Tengah Terbatasnya Ketersediaan Stok
[ILUSTRASI. Emas Batangan Turun Harga (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gempita pembelian emas di momen Lebaran dan Idulfitri masih berlanjut. Bahkan PT Aneka Tambang Tbk kini menjajakan produknya lewat booth (stan) di tiga mal besar, yakni di Pondok Indah Mall 1, Pakuwon Mall Bekasi dan Mall Taman Anggrek.

Berdasarkan cuitan warga internet di akun X, akun @rahmalianfidina mengatakan pihaknya telah mengantre selama dua jam di butik Antam Mall Taman Anggrek demi "mengamankan THR (tunjangan hari raya),". Di lokasi yang sama, pengguna akun X lain juga menyampaikan bahwa emas yang tersisa tinggal gramasi 50 gram dan 100 gram saja, padahal antrean masih sangat panjang.

"Kok bisa ya? itu pada mau beli? harganya kan bisa Rp 150 juta hingga Rp 200 jutaan?" tutur akun @mochammadneil tiga hari lalu dikutip KONTAN, Jumat (27/3).

Antrean panjang di stan Antam memang tidak hanya ini saja terjadi. Di tahun lalu, peristiwa serupa juga terjadi malah di saat harga emas global sedang tinggi-tingginya.

Kini, harga emas terus melemah seiring tekanan geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran. Harga emas dunia kini ada di bawah US$ 4.400 per ons troi. Pantauan dari Kitco menyebutkan harga emas pada Jumat (27/3) merosot 0,44% menjadi US$ 4.396,40 per ons troi. Kontrak emas April juga ikut terkoreksi menjadi US$ 4.452,10 per ons troi.

Sementara itu harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia ANTM juga ikut turun Rp 40.000 per gram dari yang sebelumnya Rp 2.850.000 per gram menjadi Rp 2.810.000 per gram. Harga buyback emas juga ikut turun Rp 76.000 per gram menjadi Rp 2.414.000 per gram dari Rp 2.490.000 per gram.

Asal tahu saja, harga buyback adalah harga yang berlaku ketika kita menjual emas kepada gerai Antam. Jika pagi ini, membeli emas Antam seharga Rp 2.810.000 per gram, maka jika kita terpaksa menjual kembali emas tersebut pada siang atau sore hari, harganya hanya akan dihargai Rp 2.414.000 per gram oleh Antam.

Di sisi lain, antusiasme masyarakat terhadap emas Antam ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan suplainya. Tak hanya di butik offline yang tersebar di berbagai mal saja yang cepat ludes, penjualan emas online Antam juga ramai diserbu.

Saat ditanya oleh KONTAN mengenai strategi penjualan serta ketersediaan pasokan, manajemen Antam mengakui belum bisa memberikan penjelasan.

Reydi Octa Pengamat Pasar Modal dan Bisnis melihat langkah Antam membuka booth di mal besar bisa dibaca sebagai kombinasi strategi distribusi dan marketing.

"Kesan scarcity memang bisa terbentuk, tapi lebih karena ketidakseimbangan supply dan demand di tengah lonjakan minat, bukan semata sengaja diciptakan," ujar Reydi kepada KONTAN, Jumat (27/3).

Mengenai gap antara harga jual dan harga buyback emas Antam yang dinilai cukup besar, dia melanjutkan bahwa dalam industri emas ritel, spread harga jual dan buyback memang wajar, apalagi saat volatilitas tinggi.

Namun menurut dia, jika gap spread melebar hal itu bisa menimbulkan persepsi kurang fair. Selama masih wajar dan merupakan mekanisme pasar, ini masih normal, tapi perlu dijaga agar tidak merugikan konsumen.

Melihat kuatnya antusias masyarakat untuk berinvestasi emas melalui antrean panjang serta akses yang terbatas di berbagai butik emas Antam, hal tersebut memang berpotensi memicu fenomena fear of missing out (FOMO). Asal tahu saja, antusiasme ini juga memicu fenomena war nomor antrean daring.

"Dalam jangka pendek bisa mendorong penjualan, tapi jika tidak dikelola dengan baik, berisiko menimbulkan persepsi bahwa momentum dimanfaatkan. Transparansi dan konsistensi harga menjadi kunci agar kepercayaan tetap terjaga," tandasnya.

Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa bisnis ritel emas melalui jaringan butik emas Antam menjadi katalis kuatnya. Antam memiliki pangsa ritel yang dominan dan relatif tidak tertandingi sehingga mampu menghasilkan arus kas likuid yang berulang.

"ANTM melalui butik emasnya memegang pangsa pasar ritel yang tidak tertandingi, memberikan arus kas yang sangat likuid. Terlebih, tingkat kesadaran investasi emas di masyarakat terus meningkat," papar Nafan.

Sementara itu, hingga kuartal III-2025 volume penjualan emas ANTM terkoreksi tajam menjadi 4,8 ton walau harga jual rata-rata (ASP) menguntungkan. Analis Bahana Sekuritas Jeremy Mikael menyebutkan bahkan laba bersih ANTM diporoyeksi akan tertekan dalam jangka pendek sebab terbatasnya pasokan.

"Penurunan itu diakibatkan oleh tantangan pasokan domestik yang dipicu oleh insiden di tambang Grasber milik PTFI dab berkurangnya minat pemasok lokal untuk menjual hasil tambang ke ANTM," tulisnya dalam riset di awal Desember 2025. Dia mempertahankan rekomendasi beli dengan harga di level Rp 3.700.

Jumat (27/3) ANTM ditutup menguat 2,04% ke Rp 3.500 , walau seminggu terakhir terkoreksi 6,67%. Adapun sepanjang tahun berjalan ini, ANTM telah melambung 11,11%.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Strategi Haaland dengan Ambil Peluang dari Pinggiran
| Minggu, 26 Juli 2026 | 09:41 WIB

Strategi Haaland dengan Ambil Peluang dari Pinggiran

​Salah satu pemain debutan Piala Dunia 2026 yang langsung menyita perhatian adalah Erling Haaland, striker klub Manchester City

Jadi Solusi, Persiapan Mendaki Kini Enggak Bikin Repot Lagi
| Minggu, 26 Juli 2026 | 09:36 WIB

Jadi Solusi, Persiapan Mendaki Kini Enggak Bikin Repot Lagi

Pendaki pemula semakin banyak jumlahnya. Dan, mereka membutuhkan aplikasi pendaki, mulai dari persiapan hingga petunjuk teknis.

Otot Valas Kendur, Peluang Cuan Ditaksir Belum Tamat
| Minggu, 26 Juli 2026 | 08:00 WIB

Otot Valas Kendur, Peluang Cuan Ditaksir Belum Tamat

Laju valuta asing di dalam negeri mulai seret. Lebih selektif mengoleksi valas yang masih potensial ungguli rupiah di sisa tahun ini!

Ketika Usia Bukan Menjadi Kendala Menuju Puncak
| Minggu, 26 Juli 2026 | 07:10 WIB

Ketika Usia Bukan Menjadi Kendala Menuju Puncak

Hobi mendaki gunung, bukan lagi didalami oleh mereka yang muda usia. Para warga lanjut usia pun masih semangat dengan tr

Prospek Jangka Panjang Lebih Penting bagi Junji Misael
| Minggu, 26 Juli 2026 | 07:00 WIB

Prospek Jangka Panjang Lebih Penting bagi Junji Misael

Menelisik strategi investasi Junji Misael, Direktur Bisnis Bittime yang mengandalkan diverifikasi aset 

Kredit UMKM Belum Mampu Berlari Kencang
| Minggu, 26 Juli 2026 | 06:50 WIB

Kredit UMKM Belum Mampu Berlari Kencang

Hingga Juni 2026, Bank Indonesia mencatat, kredit UMKM hanya tumbuh 1% secara tahunan menjadi Rp 1.519,1 triliun

Bagaimana Kesetaraan Gender Menjadi Strategi Jitu Bisnis Asuransi
| Minggu, 26 Juli 2026 | 06:35 WIB

Bagaimana Kesetaraan Gender Menjadi Strategi Jitu Bisnis Asuransi

FWD Insurance Indonesia membuktikan keberagaman gender masuk dalam strategi bisnis, yang mampu melahirkan talenta, inova

 
Pendulang Cuan dari Mereka yang Demam Naik Gunung
| Minggu, 26 Juli 2026 | 06:10 WIB

Pendulang Cuan dari Mereka yang Demam Naik Gunung

Popularitas naik gunung menjadi ladang cuan bagi usaha open trip, transportasi dan penyedia jasa lain di sekitar gunung.

Menguji Kesiapan Emiten Menghadapi Aturan Baru Terkait ESG
| Minggu, 26 Juli 2026 | 06:10 WIB

Menguji Kesiapan Emiten Menghadapi Aturan Baru Terkait ESG

Kalau tak ada aral melintang, tahun depan, OJK menerapkan Standar Pengungkapan Keberlanjutan. Sejauh mana prosesnya?

Ujian Kelembagaan BGN
| Minggu, 26 Juli 2026 | 05:30 WIB

Ujian Kelembagaan BGN

​Kasus dugaan korupsi di Badan Gizi Nasional yang mencuat beberapa waktu lalu seharusnya menjadi peringatan keras.

INDEKS BERITA

Terpopuler