Awas, Saham Sektor Keuangan Rawan Koreksi

Sabtu, 11 Mei 2019 | 10:28 WIB
Awas, Saham Sektor Keuangan Rawan Koreksi
[]
Reporter: Yoliawan H | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki bulan kelima 2019, pergerakan pasar saham Indonesia gonjang-ganjing. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga Jumat (10/5) hanya ditutup menguat tipis 0,24% secara year to date (ytd) ke 6.209,12. Perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang menekan pergerakan IHSG.

Kendati demikian, masih ada sektor saham yang menguat sepanjang tahun ini. Sektor tersebut adalah sektor keuangan. Berdasarkan data BEI, indeks saham sektor keuangan masih mencetak pertumbuhan 5,74% di tengah stagnasi IHSG.

Meski begitu, menurut Wijen Pontus, analis Royal Investium Sekuritas, saham sektor keuangan, khususnya perbankan, masih rawan terkoreksi saat ini. Saham-saham sektor keuangan juga bukan masuk ke dalam saham yang defensif dalam situasi saat ini.

Apalagi berdasarkan hitungan dia, saat ini secara valuasi, saham perbankan sudah termasuk mahal. "Saham bank sudah mahal. Return on investment (ROI) bank jadi pertimbangan. Malah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ROI-nya turun," ujar Wijen.

Karena itu, saham perbankan rawan terkoreksi, meski tanpa sentimen perang dagang. Sebab, menurut Wijen, ada potensi terjadinya perlambatan ekonomi. Kondisi ini akan membuat prospek perkembangan industri perbankan suram.

Memang, di kuartal I 2019, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,07%, namun hal ini menunjukkan perlambatan. Selain itu, penyaluran kredit perbankan juga melambat.

Sementara itu, suku bunga acuan BI yang stabil tak bisa mendongkrak kredit secara signifikan. Sektor perbankan, menurut Wijen, juga dibebani perusahaan financial technology dan digital payment.

Analis Indo Premier Sekuritas Mino juga berpendapat, saham perbankan akan semakin rawan terkoreksi bila perang dagang terjadi. Sebab efeknya memperlambat ekonomi dan tentunya dampak ke perbankan tidak bagus. "Bisa memicu perlambatan pertumbuhan kredit dan NPL bisa naik," ujar dia.

Untuk itu, Mino masih menyarankan wait and see atas saham sektor perbankan, terlebih melihat perkembangan perang dagang AS dan China. Ia menyarankan investor melihat lebih lanjut perundingan antar dua negara tadi.

Pendapat lain disampaikan oleh analis OSO Sekuritas, Sukarno Alatas. Menurut dia, sektor perbankan masuk saham defensif untuk investasi jangka menengah sampai panjang. Karena itu, saat tren menurun seperti sekarang, investor bisa mulai membeli selagi harga masih murah.

Indeks perbankan akan sejalan dengan rebound IHSG. "Jadi jika kondisi IHSG diprediksi turun, maka saham perbankan mengikuti. Bisa strategi buy on weakness dan gunakan teknikal untuk masuk lagi," papar Sukarno. Apalagi ke depan, menurut Sukarno, rilis data ekonomi dalam negeri di semester II-2019 bisa kembali membaik.

Bagikan

Berita Terbaru

Tangkap Peluang Permintaan Semen, SMGR Siapkan Strategi
| Rabu, 09 September 2026 | 09:02 WIB

Tangkap Peluang Permintaan Semen, SMGR Siapkan Strategi

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) siapkan berbagai strategi untuk memaksimalkan prospek positif industri semen di dalam negeri

AKRA Andalkan Bisnis Energi Hijau dan Kawasan Industri
| Rabu, 09 September 2026 | 08:58 WIB

AKRA Andalkan Bisnis Energi Hijau dan Kawasan Industri

PT AKR Corporindo Tbk (AKRO) berupaya menyediakan berbagai solusi energi untuk kawasan industri JIIPE

Ancang-Ancang Menyambut Musim Dividen
| Rabu, 09 September 2026 | 08:50 WIB

Ancang-Ancang Menyambut Musim Dividen

Emiten tambang dan perkebunan kelapa sawit (CPO) berpeluang memberi dividen yang menarik pada tahun ini

Menakar Prospek Saham FILM, MSIN dan RAAM di Tengah Wacana Insentif Pajak Film
| Rabu, 09 September 2026 | 08:44 WIB

Menakar Prospek Saham FILM, MSIN dan RAAM di Tengah Wacana Insentif Pajak Film

Dukungan pemerintah masih minim dan membuat industri perfilman Indonesia tertinggal dari negara lain.

Alam Sutra Dongkrak Penjualan Rp 300 Miliar dari Expo
| Rabu, 09 September 2026 | 08:25 WIB

Alam Sutra Dongkrak Penjualan Rp 300 Miliar dari Expo

Manajemen PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) membidik tambahan marketing sales Rp 300 miliar melalui Alam Sutera Group Expo 2026.

Bisnis Masker Mekar Sesaat Berkat Abu
| Rabu, 09 September 2026 | 08:22 WIB

Bisnis Masker Mekar Sesaat Berkat Abu

Kenaikan permintaan masker dinilai bersifat sementara. Masyarakat diminta jangan panik dan melakukan panic buying.

Trimitra Trans (BLOG) Perkuat Jaringan ke Timur Indonesia
| Rabu, 09 September 2026 | 08:09 WIB

Trimitra Trans (BLOG) Perkuat Jaringan ke Timur Indonesia

PT Trimitra Trans Persada Tbk melihat peluang pertumbuhan bisnis logistik rantai dingin atau cold chain di Indonesia. 

TOWR Memacu Ekspansi Bisnis Infrastruktur Digital
| Rabu, 09 September 2026 | 08:02 WIB

TOWR Memacu Ekspansi Bisnis Infrastruktur Digital

TOWR akan mengembangkan bisnis menara, jaringan fiber optik, konektivitas, energi hingga layanan terkelola.

IHSG Berpeluang Melanjutkan Tren Positif
| Rabu, 09 September 2026 | 08:00 WIB

IHSG Berpeluang Melanjutkan Tren Positif

Pasar mencermati arah kebijakan moneter The Fed, inflasi Amerika Serikat (AS), pergerakan imbal hasil US Treasury, serta kenaikan harga minyak

Lautan Luas (LTLS) Mencari Mesin Pertumbuhan Baru
| Rabu, 09 September 2026 | 07:54 WIB

Lautan Luas (LTLS) Mencari Mesin Pertumbuhan Baru

Strategi PT Lautan Luas Tbk (LTLS) memperkuat bisnis kimia dan merancang pertumbuhan baru dari lini farmasi.

INDEKS BERITA

Terpopuler