Awasi Aksi Pengendali

Kamis, 12 Januari 2023 | 08:00 WIB
Awasi Aksi Pengendali
[]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana asing hengkang dari bursa saham di Indonesia. Sejak awal tahun, investor asing mencatatkan jual bersih alias net sell sebesar Rp 4,15 triliun. Disinyalir, investor asing mulai memindahkan dananya ke bursa saham di China yang valuasinya lebih murah. 

IHSG pun rontok seiring aksi investor asing menggelar aksi jual.  Sepanjang 2023 berjalan hingga kemarin, Rabu (11/1), IHSG merosot 3,89%. Saham-saham big caps tertekan aksi jual asing, yang pada gilirannya menjadi pemberat IHSG.

Langkah asing memindahkan dananya dari bursa saham di Tanah Air semestinya tak perlu membuat investor panik. Toh, sebelumnya, arus masuk dana asing sudah  mengalir kencang. Sepanjang 2022 lalu, asing membukukan beli bersih alias net buy sebesar Rp 60,6 triliun.

Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, bursa saham kita lebih banyak ditopang oleh investor lokal. Berdasarkan data KSEI, per Desember 2022, nilai aset saham tanpa warkat mencapai Rp 5.921,6 triliun. 

Dari jumlah tersebut, investor lokal menguasai aset Rp 3,22 triliun sementara investor asing menguasai Rp 2,7 triliun. Artinya, porsi lokal  mencapai 54,4%, naik tipis dibandingkan porsi di akhir 2021 lalu sebesar 54,14%.

Dengan porsi lokal yang lebih gede, investor sejatinya tak perlu galau menghadapi aksi jual asing. Yang perlu dikhawatirkan justru aksi jual yang digelar pemegang saham pengendali. 

Maklum, dalam setengah tahun terakhir, aksi jual oleh pengendali bisa dibilang cukup marak. Tengok saja, misalnya, aksi jual yang digelar pengendali TOYS, ARKA, UVCR, TRJA, hingga WMUU. 

Langkah pengendali menggelar aksi jual atas saham yang dimilikinya tentu patut dicermati. Apalagi, jika porsi pengendali makin menciut dan porsi pemegang saham publik menjadi lebih besar. 

Kalau sudah begitu, komitmen pengendali untuk mengembangkan perusahaan tentu perlu dipertanyakan. Sebab, yang namanya pengendali adalah pihak yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Bukan bermaksud berburuk sangka. Namun, kita bisa berkaca dari saham emiten yang harganya nyungsep di level gocap maupun saham yang disuspensi hingga berpotensi delisting. Tak sedikit yang porsi kepemilikan publiknya lebih dari 50% bahkan mencapai 90%.

Bagaimana pun, memasang sikap mawas diri akan lebih baik dibanding menjadi nyangkuter.

Bagikan

Berita Terbaru

Asing Akumulasi ASII, Tekanan Otomotif Dinilai Masih Wajar
| Selasa, 14 April 2026 | 22:38 WIB

Asing Akumulasi ASII, Tekanan Otomotif Dinilai Masih Wajar

Penurunan market share otomotif ASII menjadi 49% memang memberi tekanan terhadap volume penjualan, tapi dampaknya terhadap laba relatif terbatas.

Harga Amonia serta Proyek SAF dan Blue Amonia Menyengat Saham ESSA
| Selasa, 14 April 2026 | 18:52 WIB

Harga Amonia serta Proyek SAF dan Blue Amonia Menyengat Saham ESSA

Proyeksi harga rata-rata amonia tahun ini pun diprediksi masih akan tinggi mengingat konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum usai.

SRBI Makin Menarik di 2026: Yield Naik, Asing Masuk Agresif
| Selasa, 14 April 2026 | 14:06 WIB

SRBI Makin Menarik di 2026: Yield Naik, Asing Masuk Agresif

Imbal hasil SRBI melesat hingga 5,76%, tertinggi sejak Agustus 2025. Waspada dampak pada suku bunga bank dan harga obligasi.

Mekar Sejak Juli, Kini Dana Kelolaan Reksadana Layu pada Maret 2026
| Selasa, 14 April 2026 | 12:00 WIB

Mekar Sejak Juli, Kini Dana Kelolaan Reksadana Layu pada Maret 2026

Penurunan tajam harga saham dan obligasi, menjegal tren pertumbuhan dana kelolaan industri. Masih bisa mekar di tengah dinamika pasar?

Jaga Pengeluaran biar WFH Tak Bikin Boncos
| Selasa, 14 April 2026 | 11:24 WIB

Jaga Pengeluaran biar WFH Tak Bikin Boncos

Kebijakan WFH bisa mengurangi berbagai pengeluaran. Bagaimana cara agar pengeluaran tak jebol saat WFH? 

Menelisik Dana Kelolaan Reksadana Kuartal Pertama Tahun 2026
| Selasa, 14 April 2026 | 10:33 WIB

Menelisik Dana Kelolaan Reksadana Kuartal Pertama Tahun 2026

Penyebab utama koreksi tentu saja perang Iran yang memicu kenaikan harga energi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi 15% di  Maret 2026.

Daya Beli Tercekik, Emiten Consumer Staples Dihantui Ancaman Pertumbuhan Semu!
| Selasa, 14 April 2026 | 09:30 WIB

Daya Beli Tercekik, Emiten Consumer Staples Dihantui Ancaman Pertumbuhan Semu!

Fokus utama emiten saat ini bukan lagi memburu pertumbuhan yang meroket, melainkan mempertahankan pangsa pasar.

Kinerja Tahun 2025 Menguat, Prospek Darya-Varia (DVLA) Pada 2026 Masih Sehat
| Selasa, 14 April 2026 | 08:29 WIB

Kinerja Tahun 2025 Menguat, Prospek Darya-Varia (DVLA) Pada 2026 Masih Sehat

Prospek PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA) diproyeksi masih sehat, meski ada potensi kenaikan harga bahan baku akibat konflik di Timur Tengah.​

Emiten Siap Membayar Dividen, Investor Bisa Mengalap Cuan
| Selasa, 14 April 2026 | 08:23 WIB

Emiten Siap Membayar Dividen, Investor Bisa Mengalap Cuan

Sejumlah emiten akan melakukan pembayaran dividen pada April ini​. Bagi para pemburu dividen, masih ada kesempatan untuk meraup cuan dividen.

Gencatan Senjata Ambyar, Pasar Saham Berdebar
| Selasa, 14 April 2026 | 08:15 WIB

Gencatan Senjata Ambyar, Pasar Saham Berdebar

Kekhawatiran pasar berpotensi meningkat pasca gagalnya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang.​

INDEKS BERITA

Terpopuler