Baju Baru Koordinasi

Selasa, 28 April 2026 | 06:14 WIB
Baju Baru Koordinasi
[ILUSTRASI. TAJUK - Hasbi Maulana (KONTAN/Indra Surya)]
Hasbi Maulana | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tujuh bulan lalu, pemerintah menyuntikkan Rp 200 triliun uang negara ke sejumlah bank Himbara. Logikanya sederhana: tambah likuiditas ke sistem, kredit akan mengalir, ekonomi bergerak. Soal bagaimana bank menyalurkannya, itu urusan bank.

Tujuh bulan kemudian, Bank Indonesia dan Kemenko Perekonomian meluncurkan Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI). Di forum yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan fakta tentang besarnya total fasilitas kredit yang sudah disetujui perbankan namun belum dicairkan debitur (undisbursed loan). Data BI menyebut nilainya Rp 2.527,46 triliun, setara 22,59% seluruh plafon kredit yang tersedia. Sementara realisasi kredit program untuk UMKM hingga akhir Maret 2026 baru menyentuh Rp 78,39 triliun, seperempat target tahun ini.

Bukan bank yang tidak mau menyalurkan. Bukan pula tidak ada yang mengajukan. Kredit sudah disetujui, tapi debitur memilih tidak mencairkan. Ini bukan masalah likuiditas. Ini masalah kepercayaan pelaku usaha bahwa prospek ekonomi cukup kondusif untuk ekspansi. Selama ketidakpastian masih menggantung, fasilitas kredit sebesar apapun akan tetap menganggur menunggu sinyal yang tidak kunjung datang.

Dan kepercayaan itu tidak bisa ditumbuhkan hanya dengan menambah pasokan uang ke sistem.

PINISI lahir untuk menjembatani jarak itu. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan tiga semangat utamanya: memperkuat kerja sama seluruh pemangku kepentingan, memanfaatkan pipeline proyek yang sudah ada, dan menghasilkan langkah konkret, bukan sekadar diskusi. Ketiganya benar. Tapi tak semuanya berada dalam kendali forum ini.

Kepercayaan pelaku usaha dibentuk oleh banyak hal yang tidak bisa diorganisir dalam sebuah forum, antara lain kepastian hukum, konsistensi sinyal fiskal, stabilitas regulasi, dan arah kebijakan yang tidak berubah-ubah. PINISI bisa mempertemukan pembiayaan dengan proyek, tapi tidak bisa memaksa pelaku usaha untuk percaya bahwa besok lebih baik dari hari ini.

Yang menarik, Perry sendiri mengingatkan bahwa tekanan nyata  saat ini sebagian berasal dari perlambatan ekonomi global, tarif tinggi AS, dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menekan perekonomian. Jika sumber tekanan itu di luar kendali, maka PINISI perlu jujur tentang batas kemampuannya, sebelum publik terlanjur berharap terlalu banyak.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:44 WIB

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI

Rajawali Corpora lepas seluruh saham ARCI ke afiliasi senilai Rp 18,27 T. Perubahan ini bisa pengaruhi valuasi saham ARCI.

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:06 WIB

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Jika hingga November 2026 tidak ada perubahan signifikan, ada peluang penurunan status menjadi frontier market. 

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:55 WIB

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit

Prospek sektor telekomunikasi dalam jangka menengah masih dinilai positif, amun narasi pertumbuhannya mulai mengalami pergeseran.

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:34 WIB

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?

DSSA memiliki eksposur yang kuat di sektor energi, pembangkit listrik, serta mulai memperluas bisnis ke sektor transisi energi dan EBT.

Menakar Prospek Saham BREN Usai Diborong Prajogo Pangestu, Masih Layak Dibeli?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:46 WIB

Menakar Prospek Saham BREN Usai Diborong Prajogo Pangestu, Masih Layak Dibeli?

BREN merupakan pemain panas bumi terbesar di Indonesia dan berada di peringkat keempat secara global.

Dana Asing Mengalir ke Instrumen Surat Utang dari Pasar Saham
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:45 WIB

Dana Asing Mengalir ke Instrumen Surat Utang dari Pasar Saham

Investor asing mengincar instrumen keuangan domestik yang menawarkan yield lebih tinggi ketimbang pasar saham.

MAPI Boyong Kembali Ace Hardware ke Indonesia, Segera Membuka Gerai Perdana
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:45 WIB

MAPI Boyong Kembali Ace Hardware ke Indonesia, Segera Membuka Gerai Perdana

Ace Hardware kembali ke Indonesia, kali ini di bawah naungan MAPI. Sebelum membuka Ace Hardware, MAPI berdiskusi dengan Kawan Lama.

Simpanan Rekening Saldo Jumbo Semakin Gendut
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:40 WIB

Simpanan Rekening Saldo Jumbo Semakin Gendut

Dana nasabah bersaldo di atas Rp5 miliar tumbuh lebih dari 20% per Mei 2026, jauh melampaui pertumbuhan simpanan kelompok nasabah lainnya.

Rupiah Masih Rentan Terkoreksi pada Kamis (25/6)
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:30 WIB

Rupiah Masih Rentan Terkoreksi pada Kamis (25/6)

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,52% secara harian ke Rp 17.952 per dolar AS. 

Likuiditas Bank Berpotensi Semakin Mengetat
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:30 WIB

Likuiditas Bank Berpotensi Semakin Mengetat

Industri perbankan menghadapi risiko likuiditas yang lebih ketat setelah BI menaikkan suku bunga acuan 1% dalam sebulan terakhir.

INDEKS BERITA

Terpopuler