Baju Baru Koordinasi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tujuh bulan lalu, pemerintah menyuntikkan Rp 200 triliun uang negara ke sejumlah bank Himbara. Logikanya sederhana: tambah likuiditas ke sistem, kredit akan mengalir, ekonomi bergerak. Soal bagaimana bank menyalurkannya, itu urusan bank.
Tujuh bulan kemudian, Bank Indonesia dan Kemenko Perekonomian meluncurkan Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI). Di forum yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan fakta tentang besarnya total fasilitas kredit yang sudah disetujui perbankan namun belum dicairkan debitur (undisbursed loan). Data BI menyebut nilainya Rp 2.527,46 triliun, setara 22,59% seluruh plafon kredit yang tersedia. Sementara realisasi kredit program untuk UMKM hingga akhir Maret 2026 baru menyentuh Rp 78,39 triliun, seperempat target tahun ini.
Bukan bank yang tidak mau menyalurkan. Bukan pula tidak ada yang mengajukan. Kredit sudah disetujui, tapi debitur memilih tidak mencairkan. Ini bukan masalah likuiditas. Ini masalah kepercayaan pelaku usaha bahwa prospek ekonomi cukup kondusif untuk ekspansi. Selama ketidakpastian masih menggantung, fasilitas kredit sebesar apapun akan tetap menganggur menunggu sinyal yang tidak kunjung datang.
Dan kepercayaan itu tidak bisa ditumbuhkan hanya dengan menambah pasokan uang ke sistem.
PINISI lahir untuk menjembatani jarak itu. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan tiga semangat utamanya: memperkuat kerja sama seluruh pemangku kepentingan, memanfaatkan pipeline proyek yang sudah ada, dan menghasilkan langkah konkret, bukan sekadar diskusi. Ketiganya benar. Tapi tak semuanya berada dalam kendali forum ini.
Kepercayaan pelaku usaha dibentuk oleh banyak hal yang tidak bisa diorganisir dalam sebuah forum, antara lain kepastian hukum, konsistensi sinyal fiskal, stabilitas regulasi, dan arah kebijakan yang tidak berubah-ubah. PINISI bisa mempertemukan pembiayaan dengan proyek, tapi tidak bisa memaksa pelaku usaha untuk percaya bahwa besok lebih baik dari hari ini.
Yang menarik, Perry sendiri mengingatkan bahwa tekanan nyata saat ini sebagian berasal dari perlambatan ekonomi global, tarif tinggi AS, dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menekan perekonomian. Jika sumber tekanan itu di luar kendali, maka PINISI perlu jujur tentang batas kemampuannya, sebelum publik terlanjur berharap terlalu banyak.
