Bakal Akuisisi Tambang, Toba Bara (TOBA) Menggelar Rights Issue

Kamis, 16 Mei 2019 | 06:10 WIB
Bakal Akuisisi Tambang, Toba Bara (TOBA) Menggelar Rights Issue
[]
Reporter: Aloysius Brama | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA) mendapatkan restu pemegang saham, kemarin (15/5), untuk menggelar aksi korporasi berupa pemecahan nilai saham atau stock split dan mengeksekusi penambahan saham baru atau rights issue. TOBA berencana mengamankan aksi korporasi ini untuk menambah dana ekspansi.

Dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) kemarin, manajemen TOBA mengatakan, berencana melakukan stock split terlebih dahulu. "Untuk rasio stock split sudah diputuskan dengan rasio 1:4," kata Pandu Patria Sjahrir, Direktur TOBA Rabu (15/5).

Aksi korporasi stock split itu disebut akan dilakukan pada akhir Mei 2019 ini. Sebagai gambaran, harga saham TOBA kemarin berada di level Rp 1.640 per saham. Usai stock split, baru rights issue.

Sedangkan eksekusi rights issue masih menunggu izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tetapi, rencana ini masih sesuai dengan sebelumnya. TOBA sebelumnya menyatakan akan menerbitkan sejumlah 470 juta saham baru dengan nilai Rp 200 per saham. Total dana yang diincar Rp 94 miliar.

Pandu mengatakan, dana hasil stock split dan rights issue akan digunakan untuk membiayai rencana ekspansi tahun ini. "Antara lain mengakuisisi beberapa perusahaan tambang, tidak terbatas pada batubara, serta kemungkinan ekspansi pembangkit listrik," kata Pandu.

Ekspansi dengan cara akuisisi menjadi prioritas TOBA. Pandu mengatakan, dana alokasi akuisisi TOBA pada tahun ini tidak berbeda jauh dengan tahun lalu, yaitu sekitar US$ 65 juta–US$ 70 juta.

TOBA ogah melakukan akuisisi bernilai kecil. "Katakanlah untuk pembangkit listrik atau batubara, paling tidak kapasitasnya sekitar 60 megawatt-80 megawatt. Selain itu kami juga melihat potensi pendapatannya," kata Pandu. Meski begitu, kemungkinan realisasi akuisisi tersebut baru bisa dilakukan pada akhir tahun nanti.

Karena itu, TOBA juga mempertimbangkan mencari sumber pendanaan lain. Antara lain dengan penerbitan global bond yang diharapkan berjalan tahun ini dengan target nilai US$ 200 juta.

Selain itu, TOBA sepakat tidak membagi dividen dari laba 2018. "Kami masih fokus ekspansi. Tahun ini ada proyek PLTU kami yang masih berjalan pembangunannya yaitu PLTU di Gorontalo, Sulawesi Utara," kata Pandu.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Bukan Sebatas Parkir Dana, Ada Pula Potensi Cuannya
| Senin, 09 Maret 2026 | 18:38 WIB

Bukan Sebatas Parkir Dana, Ada Pula Potensi Cuannya

Risiko berinvestasi sedang meningkat. Jika ingin parkir dana, simak alternatif aset likuid yang tak cuma aman, juga mumpuni menambah nilai aset.

Gaji Naik, Hati-Hati Pengeluaran Ikut Naik
| Senin, 09 Maret 2026 | 18:10 WIB

Gaji Naik, Hati-Hati Pengeluaran Ikut Naik

Kenaikan gaji sering diikuti oleh kenaikan pengeluaran. Simak cara mengatasinya.                    

ESG Chandra Asri (TPIA): Meninggalkan Jejak Hijau Gaya Hidup Berkelanjutan
| Senin, 09 Maret 2026 | 11:01 WIB

ESG Chandra Asri (TPIA): Meninggalkan Jejak Hijau Gaya Hidup Berkelanjutan

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyiapkan langkah keberlanjutan. Bukan hanya dengan strategi besar korporasi, tetapi juga l

Lonjakan Harga Komoditas dan Kebijakan Angkutan Batubara Bikin Saham RMKE Memesona
| Senin, 09 Maret 2026 | 09:15 WIB

Lonjakan Harga Komoditas dan Kebijakan Angkutan Batubara Bikin Saham RMKE Memesona

Aturan larangan truk angkutan batubara melintasi jalan umum milik provinsi menjadi katalis positif bagi RMKE.

Menakar Potensi Rebound Saham BBCA di Tengah Gencarnya Aksi Jual Investor Asing
| Senin, 09 Maret 2026 | 08:00 WIB

Menakar Potensi Rebound Saham BBCA di Tengah Gencarnya Aksi Jual Investor Asing

Sejumlah investor asing institusi menerapkan strategi averaging down seiring koreksi harga saham BBCA.

Free Float 15% dan Disclosure 1% Menjawab MSCI?
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:46 WIB

Free Float 15% dan Disclosure 1% Menjawab MSCI?

Menjadikan batasan free float sebagai target tunggal berisiko membawa investor ke fetisisme angka.​ 

Pendapatan dan Laba Bersih Bumi Serpong Damai (BSDE) Kompak Turun Pada 2025
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:37 WIB

Pendapatan dan Laba Bersih Bumi Serpong Damai (BSDE) Kompak Turun Pada 2025

Seiring turunnya pendapatan, laba bersih PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)  ikut tergerus 41,6% secara tahunan menjadi Rp 2,54 triliun di 2025

Beban Pendapatan Membengkak Laba Bersih PGAS Terpangkas
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:32 WIB

Beban Pendapatan Membengkak Laba Bersih PGAS Terpangkas

Laba bersih PGAS anjlok 36,54% (YoY) ke US$ 215,4 juta pada 2025, seiring beban pokok pendapatan bengkak 10% (YoY) jadi US$ 3,3 miliar pada 2025. 

Harga Nikel Anjlok, Saham Emiten Jeblok
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:27 WIB

Harga Nikel Anjlok, Saham Emiten Jeblok

Seiring loyonya harga komoditas di pasar global, mayoritas harga saham emiten nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terkoreksi​.

Harga Minyak Dunia Melonjak, Margin Emiten Consumer Staples Berisiko Tergerus
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:25 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak, Margin Emiten Consumer Staples Berisiko Tergerus

Lonjakan harga minyak dunia berdampak secara langsung dan tidak langsung terhadap emiten sektor barang konsumsi.

INDEKS BERITA

Terpopuler