Bank-Bank Ini Berminat Mengambil Alih Bisnis yang Akan Ditinggalkan Citigroup

Selasa, 20 April 2021 | 20:28 WIB
Bank-Bank Ini Berminat Mengambil Alih Bisnis yang Akan Ditinggalkan Citigroup
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Logo Citi di gerai yang berada di bursa efek New York, 16 Oktober 2012. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Berbagai bank, seperti DBS Group, Mitsubishi UFJ Financial Group, OCBC dan Standard Chartered, akan mengajukan tawaran untuk membeli bisnis konsumen Citigroup di Asia.  Mengutip sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut, Reuters memberitakan, Citigroup (Citi) akan menggulirkan proses penjualan dalam beberapa minggu mendatang. 

Proses ini sejalan dengan rencana Citi untuk menghentikan bisnisnya di 13 pasar, 10 di antaranya berada di Asia. Divestasi itu merupakan bagian dari upaya Citi untuk kembali fokus ke bisnis kelembagaan dan pengelolaan kekayaan yang lebih menguntungkan di masa kini.

Minat bank-bank besar di Asia dan Stanchart, yang memetik sebagian besar keuntungannya di Asia, mencerminkan masih tingginya potensi yang ditawarkan bisnis konsumer. 

Baca Juga: Aset kripto berbasis decentralized finance (deFi) dianggap lebih menarik, kenapa?

Bisnis yang akan ditinggalkan Citi diestimasi memiliki nilai aset sebesar US$ 82 miliar dan US$ 7 miliar dalam alokasi ekuitas umum yang berwujud di tahun lalu. Citi berencana untuk mengubah posisi bisnis perbankan konsumen Asia dari "pusat kekayaan" di Hong Kong dan Singapura.

Karena Citi tidak melepaskan izin perbankannya di sebagian besar pasar yang ditinggalkannya, portofolio bisnis yang ditinggalkannya hanya akan menarik bagi bank yang sudah beroperasi di negara-negara tersebut, demikian penuturan sumber yang dikutip Reuters.

"Asia sangat penting bagi strategi perusahaan kami, dan kami akan mengalokasikan sumber daya untuk mendorong pertumbuhan yang menguntungkan," kata juru bicara Citi di Hong Kong, yang menolak berkomentar tentang proses penjualan.

Perwakilan dari raksasa keuangan Jepang, MUFG, serta Sumitomo Mitsui Financial Group menolak memberikan komentar. Ketiga perusahaan itu disebut sumber sebagai nama-nama yang juga tertera dalam daftar penawar aset yang ditinggalkan Citi.

Baca Juga: Suku Bunga Acuan BI 7-DRR April Tetap 3,5%, Simak Strategi BI Jaga Rupiah

"DBS selalu terbuka untuk mengeksplorasi peluang yang masuk akal di pasar di mana kami memiliki bisnis perbankan konsumen (China, India, Indonesia dan Taiwan), dan di mana kami dapat menutupi kemampuan digital kami," demikian pernyataan bank terbesar di Asia Tenggara itu.

Pada tahun 2016, DBS membeli bisnis manajemen kekayaan dan ritel dari ANZ di lima negara Asia dengan harga sekitar US$ 80 juta.

Sumber Reuters menuturkan, portofolio Citi di Asia yang punya nilai paling wah berada di India dan Taiwan. Di India, Citi memiliki bisnis konsumen konsumen yang luas, mencakup layanan simpanan ritel, pendanaan hipotek serta kartu kredit. 

Bisnis perbankan konsumen Citi di 13 pasar itu menyumbang US$ 4,2 miliar terhadap total pendapatannya yang mencapai US$ 74,3 miliar di tahun 2020. Namun di tahun tersebut, Citi mengalami kerugian di 13 pasar tersebut secara total US$ 40 juta. 

DBS merupakan satu-satunya bank yang disebut-sebut tertarik dengan bisnis Citi, yang memiliki anak perusahaan di India. Namun, DBS akan menghadapi persaingan  dari StanChart, dan dua bank lokal, yaitu Kotak Mahindra Bank serta dan Axis Bank, tutur sumber Reuters.

SBI Cards and Payment Services Ltd, yang merupakan unit usaha dari State Bank of India, juga mempertimbangkan penawaran untuk portofolio kartu kredit Citi di India, tutur dua sumber yang lain.

Baca Juga: Teknis penutupan bisnis konsumer Citibank Indonesia belum ditetapkan

Menurut empat sumber yang dikutip Reuters, bisnis konsumen Citi di India memiliki nilai lebih dari US$ 2 miliar. "India adalah permata mahkota dan akan memiliki harga yang lebih baik daripada pasar lainnya," tutur seorang sumber. 

Citi telah beroperasi di India selama beberapa dekade dan termasuk bank yang pertama kali memperkenalkan kartu kredit di negeri tersebut pada tahun 1987. Citi menduduki peringkat keenam sebagai penerbit kartu di negeri itu, dengan jumlah kartu yang diterbitkan mendekati angka 2,7 juta. 

Sumber mengatakan Citi menguasai pangsa yang signifikan di segmen pasar premium, dengan mencetak rasio pengeluaran yang lebih tinggi per kartu di kisaran 10%-25% dibandingkan rata-rata industri. Di pasar manajemen kekayaan, Citi juga berada di posisi lima besar, dengan 35 kantor cabang dan sekitar 4.000 staf di segmen perbankan konsumen.

Baca Juga: Citi Indonesia berkomitmen pada nasabah selama proses penjualan bisnis berlangsung

Kotak Mahindra menolak berkomentar, sedangkan Axis Bank dan SBI Cards tidak menanggapi permintaan komentar.

Pasar lain yang akan ditinggalkan Citi, sebagai bagian dari strategi CEO barunya, Jane Fraser, adalah Korea Selatan, Australia, China, dan Thailand. Di negara-negara tersebut, Citi dinilai tidak memiliki skala yang memadai untuk bersaing dengan bank-bank lokal.

DBS dan OCBC Singapura, StanChart, serta bank-bank Jepang juga mempertimbangkan pengambilalihan beberapa bisnis Citi di Asia Tenggara, demikian penuturan sumber Reuters.

Sementara bisnis Citi di Australia dan Korea Selatan kemungkinan diminati oleh bank domestik, imbuh sumber tersebut. 

Selanjutnya: Grab jadi investor EMTK, begini rencana pengembangan bisnisnya ke depan

 

Bagikan

Berita Terbaru

Sentuh Tertinggi 4 Tahun di Rp 635, ERAA Terkoreksi Tipis Usai Reli 4 Hari Beruntun
| Minggu, 06 September 2026 | 13:00 WIB

Sentuh Tertinggi 4 Tahun di Rp 635, ERAA Terkoreksi Tipis Usai Reli 4 Hari Beruntun

Sepanjang semester I-2026, ERAA menambah 173 gerai sehingga total jaringan ritelnya mencapai 2.506 toko per Juni 2026.

Faktor Dividen Membayangi Saham Bank Himbara
| Minggu, 06 September 2026 | 12:43 WIB

Faktor Dividen Membayangi Saham Bank Himbara

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dikabarkan akan menurunkan rasio pembayaran dividen ke kisaran 70% untuk tahun buku 2026. 

RAJA dan RATU Bersolek Lewat Aksi Korporasi, Bagaimana Dampaknya Secara Fundamental?
| Minggu, 06 September 2026 | 10:00 WIB

RAJA dan RATU Bersolek Lewat Aksi Korporasi, Bagaimana Dampaknya Secara Fundamental?

Analis melihat potensi perubahan skala bisnis RATU lebih besar daripada RAJA dalam jangka menengah, karena RATU masih bisa menambah aset upstream.

Melabuhkan Hati di Dunia Finansial
| Minggu, 06 September 2026 | 09:09 WIB

Melabuhkan Hati di Dunia Finansial

Malang melintang di dunia pasar modal dan investment banking, antarkan Nelwin Aldriansyah jadi Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk

Melemah di Pekan Ex-Devidend, Saham CMRY Masih Menarik Dikoleksi
| Minggu, 06 September 2026 | 09:00 WIB

Melemah di Pekan Ex-Devidend, Saham CMRY Masih Menarik Dikoleksi

Pertumbuhan upah riil yang masih terbatas, pelemahan rupiah, serta kenaikan harga pangan berpotensi menekan daya beli.

BUMN Karya Terjepit Utang: PTPP Ditolak, WSKT Berhasil, ADHI Disuspensi
| Minggu, 06 September 2026 | 08:00 WIB

BUMN Karya Terjepit Utang: PTPP Ditolak, WSKT Berhasil, ADHI Disuspensi

Rudiyanto juga menyoroti akar masalah BUMN Karya ada pada tata kelola, bukan hanya sekadar posisi keuangan yang lemah.

Mengintip Kejelasan Terkait Satu Pintu Ekspor Komoditas
| Minggu, 06 September 2026 | 07:15 WIB

Mengintip Kejelasan Terkait Satu Pintu Ekspor Komoditas

Masa transisi ekspor satu pintu komoditas strategis tahap satu sudah kelar. Hasil pelaksanaan kebijakan ini?

Sinis Membawa Bencana
| Minggu, 06 September 2026 | 07:10 WIB

Sinis Membawa Bencana

​Kita menyaksikan ada beberapa tenaga kesehatan yang harus menelan pil pahit karena memberikan komentar di utas seorang pasien pengguna BPJS.

Suntikan Bahagia Murah Meriah saat Ekonomi Muram
| Minggu, 06 September 2026 | 07:10 WIB

Suntikan Bahagia Murah Meriah saat Ekonomi Muram

Memahami mekanisme fenomena lipstick effect dari kacamata perencanaan keuangan. Seperti apa perilaku ini?

 
Kemarau Menguji Ketahanan Kopi
| Minggu, 06 September 2026 | 06:50 WIB

Kemarau Menguji Ketahanan Kopi

Kemarau panjang tidak hanya meningkatkan biaya pemeliharaan tanaman, tetapi juga mulai membayangi produksi kopi.

INDEKS BERITA

Terpopuler