Bank Mengejar Rezeki dari Bisnis Remitansi

Minggu, 02 Mei 2021 | 09:38 WIB
Bank Mengejar Rezeki dari Bisnis Remitansi
[ILUSTRASI. Mengutip data Bank Dunia, jumlah pengiriman dana dari luar negeri ke Indonesia diperkirakan US$ 9,8 miliar atau setara Rp 142 triliun.Pho/KONTAN/Achmad Fauzie.]
Reporter: Dikky Setiawan | Editor: Dikky Setiawan

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Orang bijak berkata, optimisme adalah keyakinan yang mengarah pada pencapaian. Tidak ada yang bisa dilakukan tanpa harapan dan keyakinan. Kalimat bijak tersebut, tampaknya sangat pas menggambarkan tekad perbankan di Tanah Air dalam menggenjot jasa pengiriman uang antarnegara alias remitansi.
              
Buktinya, kendati pandemi Covid-19 di negeri ini belum berakhir, sejumlah bank tetap optimistis mengembangkan layanan remitansi. Lihat saja yang dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Selasa dua pekan silam (20/4), BRI mengumumkan kerjasama remitansi dengan Western Union, perusahaan penyedia layanan transfer dana global.
              
Kerjasama yang dilakukan BRI dengan Western Union itu berupa penyediaan layanan remitansi yang memungkinkan nasabah di Indonesia dapat menerima pengiriman dana dari luar negeri di lebih dari 9.000 unit kerja BRI yang tersebar di seluruh Nusantara. 
              
Lewat kolaborasi itu, para tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dapat mengirimkan dana menggunakan digital service Western Union yang tersedia di 75 negara. Atau, melalui Agen Western Union yang berada di seluruh dunia. Sedangkan untuk pengiriman outgoing transfer dari BRI di Indonesia akan mulai berjalan pada tahun ini.

Listiarini Dewajanti, Senior Executive Vice President Treasury & Global Services BRI, mengatakan perseroan selalu fokus untuk menjaga pertumbuhan bisnis remitansi. Apalagi, masyarakat muslim Indonesia yang ada di dalam maupun luar negeri, tengah bersiap untuk menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran pada Mei mendatang. 
              
Dengan jumlah unit kerja lebih dari 9.000 outlet dan tersebar di seluruh Indonesia, BRI optimistis dapat memberikan layanan remitansi terbaik. Ini terutama bagi para penerima dana yang membutuhkan pengambilan dana secara cepat dan efisien. "Semoga kerjasama ini  memberikan efek positif bagi kedua pihak,” kata Listiarini.

Pekerja migran

Wajar, memang jika Listiarini berharap kerjasama dengan Western Union bisa memberikan efek positif bagi pertumbuhan bisnis remitansi BRI. Pasalnya, duit yang berputar di bisnis ini tidak sedikit. Ditambah lagi, ya itu tadi, ada momentum Lebaran di mana masyarakat biasanya mengirimkan uang untuk keluarga termasuk dari luar negeri.
 
Mengutip data Bank Dunia, jumlah pengiriman dana dari luar negeri ke Indonesia diperkirakan US$ 9,8 miliar atau setara Rp 142 triliun. Jumlah tersebut terbilang besar dan dibutuhkan dukungan jaringan yang luas untuk memudahkan masyarakat mengambil uang kiriman dari luar negeri.
 
Aestika Oryza Gunarto, Sekretaris Perusahaan BRI menambahkan, saat ini jumlah pekerja migran Indonesia yang tercatat berangkat ke luar negeri tahun ini semakin meningkat. Hal ini seiring dengan proses vaksinasi yang terus berlangsung di seluruh dunia untuk memulihkan ekonomi akibat dampak pandemi. 
              
Karena itu, kata Aestika, pihaknya optimistis pasar remitansi masih memiliki prospek bisnis yang cukup bagus pada tahun ini. "Kami memproyeksi, bisnis remitansi masih dapat terus tumbuh signifikan," papar Aestika kepada Tabloid KONTAN, Kamis (29/4).
              
Aestika menyebutkan, sejumlah negara penyumbang remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI) adalah Malaysia, Singapura, Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, Uni Emirat Arab, dan Saudi Arabia. Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun BRI, remitansi banyak ditujukan ke daerah kantong-kantong PMI di dalam negeri.
              
Daerah PMI tersebut, antara lain, Jawa Barat yakni Sukabumi, Cianjur, Indramayu. Kemudian Jawa Tengah seperti Cilacap dan Wonosobo. Selain itu, ada Yogyakarta tepatnya Kulon Progo. Lalu, di Jawa Timur seperti Malang, Kediri, dan Ponorogo. Ada pula yang masuk ke Lampung, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
                          
Cuma, Aestika enggan membeberkan angka transaksi remitansi BRI hingga kuartal pertama tahun ini. Yang jelas, kata dia, di sepanjang kuartal I-2021, volume transaksi remitansi BRI tumbuh 8% dan tumbuh 5% dari sisi frekuensi.

Nasib BRI lebih baik ketimbang saudara kandungnya sesama bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri Tbk (Mandiri). Pada kuartal I-2021, frekuensi transaksi pengiriman uang internasional di bank pelat merah ini masih turun sekitar 7%.
 
Evi Dempowati, SVP Retail Deposit Products and Solution Bank Mandiri mengatakan, penurunan ini merupakan lanjutan tren penurunan transaksi akibat pandemi Covid-19. Selama ini, negara yang menjadi penyumbang terbesar transaksi remintasi perseroan, antara lain, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Arab Saudi, dan UEA.

Kinerja bisnis remitansi PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga belum bergerak stabil di sepanjang kuartal pertama tahun ini. Henry Panjaitan Direktur Treasury dan International BNI mengatakan, pada kuartal pertama tahun ini, remitansi BNI tercatat sebanyak 1,1 juta transaksi. 

Transaksi remitansi BNI itu menunjukkan grafik pertumbuhan yang stabil sejak akhir tahun 2020. Namun jika dibandingkan dengan kondisi normal di kuartal I-2020, transaksi remitansi BNI masih turun 6%. "Kami memperkirakan transaksi akan rebound pada bulan April 2021 mengingat kecenderungan transaksi yg meningkat menjelang Lebaran," kata Henry.

Hanya saja, lanjut dia, masa pandemi Covid-19 masih menjadi kendala bank untuk mendorong pertumbuhan bisnis remitansi. Kondisi ini tercermin dari transaksi dan fee base income (FBI) remitansi BNI pada tahun 2020. 

Menurut Henry, dari sisi frekuensi, transaksi remitansi BNI mencapai 4,5 juta. Namun, FBI yang diperoleh BNI dari remitansi tahun lalu terkoreksi sebesar 5,1% secara year on year (yoy) menjadi Rp 223 miliar. 

Penurunan transaksi remitansi pada tahun lalu juga dialami Bank Mandiri. Pada periode tersebut, bank berlogo pita emas ini mencatat penurunan jumlah frekuensi transaksi remitansi sebesar 15% ketimbang tahun sebelumnya. 

Alhasil, FBI Bank Mandiri dari layanan remitansi ikut melorot 15% secara yoy. "Efek dari pandemi masih cukup terasa. Meskipun transaksi sudah mulai recovery pada akhir tahun seiring dengan mulai longgarnya restriksi di negara-negara terdampak, termasuk di Indonesia," jelas Evi Dempowati.

Toh, Evi tetap yakin, bisnis remintansi Bank Mandiri masih bisa tumbuh tahun ini. Perseroan menargetkan transaksi remitansi tumbuh 20% dengan FBI naik 7%. Menurut dia, negara yang paling prospektif saat ini untuk bisnis remintasi adalah negara-negara di timur tengah. Bisnis perseroan di negara-negara tersebut masih terus tumbuh.

Untuk mengoptimalkan bisnis ini, Mandiri  merancang sejumlah strategi. Di antaranya, Bank Mandiri masuk jadi anggota Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication–Global Payment Innovation (SWIFT-GPI). 
 
SWIFT merupakan perusahaan global penyedia jaringan komunikasi finansial antar bank secara global dengan jumlah anggota lebih dari 11.000 institusi keuangan di lebih dari 200 negara di dunia. Adapun  SWIFT-GPI adalah layanan inovasi SWIFT yang memungkinkan bank menyediakan informasi transaksi cross border nasabah secara transparan dan real time.

Target pertumbuhan

Bergabungnya Bank Mandiri ke SWIFT-GPI akan semakin mendorong peningkatan volume transaksi remitansi perseroan. Pasalnya, transaksi akan semakin termonitor dan besaran biaya semakin transparan. 

Target pertumbuhan juga digadang BRI. Kendati tahun ini masih penuh tantangan, bank wong cilik ini tetap menargetkan pertumbuhan transaksi remitansi. "Pada tahun 2021 bisnis remitansi ditargetkan tumbuh masing-masing 5% secara yoy baik untuk jumlah amount maupun frekuensi transaksi," tegas Aestika.

Meski tak menyebut angka, BNI juga memasang target pertumbuhan bisnis remitansi pada tahun ini. Henry Panjaitan menyebutkan, pihaknya optimistis pertumbuhan transaksi remitansi akan melonjak pada semester dua mendatang. Hal ini didukung oleh program vaksinasi Covid-19 yang terus dilakukan pemerintah. 

Untuk mencapai pertumbuhan bisnis remitansi, kata Henry, BNI telah menerapkan teknologi blockchain dari JP Morgan untuk mempermudah proses validasi data dalam transaksi kiriman uang ke Indonesia dari luar negeri. Layanan transaksi ini sudah dapat digunakan untuk pengiriman uang dari Taiwan ke Indonesia.

Henry menjelaskan, melalui penggunaan Confirm, aplikasi validasi akun global yang merupakan bagian dari jaringan Liink milik JP Morgan, bank pengirim di luar negeri dapat meminta konfirmasi atas detil penerima kepada BNI, sebelum transaksi pengiriman uang dijalankan

Lalu, setelah BNI memvalidasi rekening itu, perintah pembayaran dapat dikirimkan melalui jaringan PayDirect dari JP Morgan dan kemudian BNI dapat menyalurkan ke rekening penerima di bank tujuan.

Confirm dari JP Morgan diperkenalkan akhir 2020 sebagai salah satu rangkaian aplikasi baru yang dikembangkan pada jaringan Liink. Liink merupakan bagian dari Onyx, unit bisnis JP Morgan yang diluncurkan pada 2017, yang sebelumnya dikenal dengan IIN. 

Saat ini, Liink memiliki 400 peserta yang terdiri dari lembaga keuangan dan korporasi, termasuk 27 bank terbesar di dunia, meliputi 78 negara, dengan 100 yang sudah berjalan.

Menurut Henry, kerjasama BNI dengan JP Morgan akan mendukung  efisiensi dan meminimalisir kemungkinan transaksi yang dikembalikan akibat adanya ketidaksesuaian data penerima.

"Inovasi adalah salah satu prioritas utama BNI, dan kami ingin memperluas ketersediaan solusi digital untuk mendukung kebutuhan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan yang mudah dan aman," katanya.

Selanjutnya: Prospek bisnis remitansi tahun ini cukup bagus

 

Bagikan

Berita Terbaru

GPRA Genjot Pertumbuhan dari Pemanfaatan Aset Lahan dan Recurring Income
| Senin, 06 April 2026 | 20:06 WIB

GPRA Genjot Pertumbuhan dari Pemanfaatan Aset Lahan dan Recurring Income

Sejumlah proyek bakal menjadi penopang pertumbuhan GPRA tahun ini, diantaranya Bukit Cimanggu City, Metro Cilegon dan Garden Ville Pamoyanan.

Prospek Menarik, Tapi Risiko Kurs Jadi Catatan untuk MBMA
| Senin, 06 April 2026 | 17:47 WIB

Prospek Menarik, Tapi Risiko Kurs Jadi Catatan untuk MBMA

Tekanan pada laba bersih MBMA di kuartal IV-2025 juga dipengaruhi oleh melemahnya kontribusi joint venture serta kenaikan biaya keuangan.

Agenda Reformasi Pasar Modal, Indonesia Berpotensi Naik Kelas
| Senin, 06 April 2026 | 07:23 WIB

Agenda Reformasi Pasar Modal, Indonesia Berpotensi Naik Kelas

Selesainya program peningkatan transparansi, integritas dan kredibilitas informasi kepemilikan saham dalam waktu cukup singkat hanya dua bulan. 

Prediksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Melebar
| Senin, 06 April 2026 | 07:05 WIB

Prediksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Melebar

Lonjakan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar ru[iah diperkirakan akan mengerek biaya impo 

Asing Terus Net Sell, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 06 April 2026 | 07:03 WIB

Asing Terus Net Sell, Rupiah Cetak Rekor Terburuk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Bersamaan minggatnya asing, kurs rupiah di Jisdor Bank Indonesia (BI) mencapai Rp 17.015 per dolar AS. Paling buruk sepanjang sejarah. 

Bisnis Obat Resep Melesat, Laba Kalbe Farma Semakin Sehat
| Senin, 06 April 2026 | 06:43 WIB

Bisnis Obat Resep Melesat, Laba Kalbe Farma Semakin Sehat

Segmen bisnis obat resep berkontribusi ke pendapatan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada 2025. Segmen ini tumbuh 11,00% yoy jadi Rp 10,24 triliun. ​

Pemerintah Klaim Stok Pangan Berlimpah
| Senin, 06 April 2026 | 06:40 WIB

Pemerintah Klaim Stok Pangan Berlimpah

Risiko terbesarnya adalah gagal panen yang berujung pada kerugian petani akibat biaya produksi tidak kembali dan turunnya pendapatan

Ramai-Ramai Bangun Rusun Bersubsidi
| Senin, 06 April 2026 | 06:37 WIB

Ramai-Ramai Bangun Rusun Bersubsidi

Pemerintah akan menerbitkan aturan rusun bersubsidi sehingga bisa mempercepat pembangunan dan mengejar target 3 juta rumah

Laba Emiten Properti Terhantam Daya Beli
| Senin, 06 April 2026 | 06:36 WIB

Laba Emiten Properti Terhantam Daya Beli

Emiten properti masih menemukan tantangan di 2026 akibat kondisi geopolitik. Ini memicu ketidakpastian ekonomi, yang bisa menurunkan daya beli.​

Pertamina Gandeng US Grains Garap Bioetanol
| Senin, 06 April 2026 | 06:32 WIB

Pertamina Gandeng US Grains Garap Bioetanol

USGBC merupakan organisasi nirlaba internasional yang mewakili produsen dan pemangku kepentingan industri biji-bijian

INDEKS BERITA

Terpopuler